Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 70


__ADS_3

Ibra dengan antusias, mengajak Ayleen keliling rumahnya. Menunjukkan ruang demi ruang dan tak lupa menceritakan beberapa kisah masa kecilnya disana. Dulu saat kesini, Ayleen hanya mentok di ruang makan, baru tahu hari ini jika rumah tersebut sangat besar, lebih besar daripada rumahnya. Seketika yang ada dipikirannya adalah, seberapa lelahnya membersihkan rumah sebesar ini?


Rasanya kalau hanya mempekerjakan 1 ART, bakal kasihan, tapi kalau 2, lumayan juga pengeluaran buat gaji. Sedang dia dan Ibra masih sama-sama kuliah. Sepertinya dia punya banyak PR setelah ini.


"Ini kamar kamu, Kak?" tebak Ayleen saat baru memasuki sebuah kamar. Darimana Ayleen tahu? Tentu dari beberapa foto yang terpajang disana. Dan salah satu yang menarik perhatiannya, adalah foto wisuda yang dicetak dengan sangat besar. "Ini, saat_"


"Saat kelulusan SMP." Ibra menghampiri Ayleen yang berdiri dibawah foto tersebut. "Foto terakhir bersama Ayah dan Ibu. Setelah foto ini, kami tak pernah lagi berfoto bersama."


"Kamu lulusan terbaik?" Mulut Ayleen menganga lebar saat melihat tulisan yang ada pada piala yang dibawa Ibra.


"Hem," sahutnya sambil tersenyum bangga.


Ayleen menatap Ibra. SMP tempat Ibra sekolah sangat terkenal. Dan sudah tidak diragukan lagi jika yang bersekolah disana hanya anak-anak pintar saja. Diantara semua anggota keluarganya, hanya Aydin yang bisa masuk kesekolah itu. Tatapan Ayleen membuat Ibra heran dan mengerutkan kening.


"Ada apa sih?"


"Ternyata suamiku pinter juga ya." Celetuk Ayleen sambil menatap Ibra dari jarak yang sangat dekat.


Ibra terbahak sambil mendorong pelan jidat Ayleen menggunakan telunjuknya. "Emang kamu pikir aku bodoh, karena gak lulus-lulus gitu?"


"Hehehe."

__ADS_1


"Aku hanya gak ada semangat belajar saja, Ay." Ibra memeluk Ayleen dari belakang sambil meletakkan dagu dibahu wanita itu. "Sejak Ibu meninggal dan Ayah menikah lagi, hidupku berubah total. Jangankan belajar, masuk sekolah aja jarang. Aku kehilangan arah hidup."


"Tapi sekarang?"


"Ya enggaklah, kan ada kamu." Ibra mengecup pipi Ayleen beberapa kali. "Aku bahagia banget bisa memiliki kamu, Ay." Makin dia eratkan pelukannya pada tubuh ramping sang istri. Dengan bibir mulai mengecupi leher dan tengkuk Ayleen.


"Kak, geli," rengek Ayleen sambil berusaha menjauhkan lehernya dari Ibra.


"Geli apa enak?" Ibra malah menggoda.


"Kalau berduaan sama kamu di kamar, bawaannya pengen mulu."


"Ya elah pengantin baru, dimanapun dan kapanpun, mesra-mesraan mulu." Ayleen dan Ibra reflek melepaskan pelukan mendengar suara Alfath. Hari ini, memang bukan Ibra dan Ayleen saja yang datang kerumah, melainkan seluruh keluarga Ayleen ikut. Ibra ingin menunjukkan rumah yang akan ditinggalinya bersama Ayleen.


"Ganggu aja sih," semprot Ayleen sambil memelototi adiknya. Ternyata tak hanya Alfath saja yang masuk kesana, ada Aydin juga.


"Bang, lo gak pengen nikah lihat yang beginian?" Godanya sambil menyenggol lengan Aydin. "Beuh! Pagi, siang, apalagi malam, bawaannya mesra-mesraan mulu. Gak iri kamu, Bang?"


"Enggak, ngapain iri?" Aydin memutar kedua bola matanya malas. Mengamati isi kamar Ibra, terutama foto-fotonya. Baru tahu jika dia dan Ibra, lulusan dari SMP dan SMA yang sama.


"Heran sama nih orang, alergi apa sama cewek? Sekalipun gak pernah punya pacar. Gak belok kan, Bang?"

__ADS_1


"Berani kamu ngatain Abang?" Aydin mengangkat sebelah kaki, hendak melepas sepatunya.


"Ampun, Bang." Alfath reflek angkat tangan. Memasang raut penuh penyesalah agar sepatu tak melayang kewajahnya. Tak pelak Ibra dan Ayleen langsung tertawa terbahak-bahak.


Tak mau membuat Abangnya kembali marah, Alfath melihat-lihat sudut kamar Ibra. Salah satu sudut yang membuat dia tertarik adalah etalase berisi diecast motor sport. "Gila Bang, bagus bagus banget, mahal nih pasti. Minta satu boleh gak?"


"Heh, minta sama emak lo, jangan sama suami gue," semprot Ayleen.


"Yaelah, pelit banget. Dasar turunan Mak Nara," cibir Alfath.


"Ada apa ini? Kok nama Mama disebut?" Wajah Alfath langsung pias melihat Mama dan ayahnya masuk. Bisa-bisa uang jajannya didiskon 50 persen kalau ketahuan ngatain Mamanya pelit.


"Kata Al, Mama pelit." Aduan Ayleen membuat Alfath kalang kabut.


"Eng-enggak, Mah," sangkalnya.


"Iya, Mah." Kalimat Aydin makin membuat Alfath terpojok. Ditambah lagi pelototan tajam mamanya yang bikin dia kesusahan bernafas.


"Besyanda, besyanda," Alfath langsung nyanyi sambil goyang-goyang gak jelas. Membuat yang lain langsung ketawa dan Mama Nara batal ngomel.


Selamet.

__ADS_1


__ADS_2