
"Bye Mas Suami yang ganteng," ucap Ayleen setelah mencium tangan Ibra. Namun saat Ibra hendak mencium keningnya, buru-buru Ayleen mundur. "Pagi-pagi gak boleh bikin orang iri." Wanita itu melihat sekeliling, dan benar saja, banyak mata yang menatap kearah mereka. Dia tak mau dijulidin orang karena dianggap mengumbar kemesraan didepan umum. Jangan sampai mata-mata yang melihat itu iri dan mendoakan keburukan bagi mereka. Amit-amit.
Pagi ini, Ibra mengantar Ayleen ke kampus. Sedang pria itu sendiri mau langsung ke bengkel karena tak ada jadwal bertemu dosen pembimbing. Skripsi Ibra berjalan dengan sangat mulus, jarang sekali ada revisi hingga cepat selesai. Tinggal sedikit lagi, setelah itu menunggu jadwal sidang.
"Rinduin aku ya," pinta Ibra.
"Ogah," sahut Ayleen sambil menyebikkan bibir. "Ke kampus itu buat belajar, nyari ilmu, bukan malah merindukan kamu." Ibra tergelak mendengar jawaban istrinya.
"Bisa gak sih, sekali-kali bikin aku seneng. Pura-pura kek bilang, iya mas suami, aku akan merindukanmu setengah mati." Ayleen tersenyum tipis mendengar candaan Ibra. Sebegitu inginkah pria itu dirindukan. Padahal kalau saja dipaksa jujur, Ayleen bakalan ngaku kalau setengah jam saja pisah, udah rindu berat
"Sekali-kali, emang aku gak pernah bikin kamu seneng?" Ayleen mendekatkan bibirnya ketelinga Ibra lalu berbisik. "Emang yang tiap malem itu gak bikin kamu seneng? Ya udah, kalau gitu nanti malam gak usah." Ayleen langsung kabur setelah mengatakan itu.
"Heis, gak bisa gitu dong."
"Bye-bye." Teriak Ayleen sambil berlari masuk kedalam kampus.
Ibra tersenyum melihat punggung Ayleen yang makin menjauh. Sesekali wanita itu masih menoleh kearahnya hanya untuk melempar senyum sambil menunjukkan jarinya yang dibentuk love. Dan hal remeh seperti itu, nyatanya sangat dia suka. Membuatnya tersenyum dan tak mau beranjak dari tempat itu sampai Ayleen benar-benar sudah tak terlihat.
"Miss u sayang." Ibra kembali menyalakan mesin motor lalu melesatkannya menuju bengkel.
.
"Cie.... cie.... yang ke kampus dianterin Pak Su."
Ayleen langsung celingukan mendengar suara Dian. Ternyata sahabatnya itu berada tak jauh darinya. "Kamu... "
"Yap, aku ngeliatin kalian berdua sejak tadi. Sampek baper tahu gak." Dian menghampiri Ayleen lalu menyenggol lengannya. "Jadi pengen kawin muda, huhuhu..."
__ADS_1
"Nikah muda kali. Ralat tuh kata-katanya," protes Ayleen.
"Halah sama aja intinya."
"Beda."
"Ya deh beda. Kalah aku kalau diajak debat sama anak Bu Dekan." Ayleen langsung ngakak dikatain seperti itu. "Kamu beneran Leen, gak dibolehin bawa motor sendiri sama Kak Ibra?"
Ayleen menggeleng, "Takut dikirain single katanya kalau bawa motor sendiri."
"Emang kenapa kalau dikirain single?"
"Takut banyak yang godain." Keduanya lalu tertawa renyah.
"Sampai segitunya Kak Ibra. Posesif banget tau gak suami kamu."
"Astaga." Dian sampai tepuk jidat. "Susah kalau ngomong sama orang bucin. Dunia milik berdua."
"Udah tahu gitu, ngapain kamu masih disini? Minggat sana ke Mars."
Tak beda dengan Ayleen, di bengkel, Ibra juga diledekin terus sama teman-temannya. Pertanyaan pertama pastilah, berapa ronde semalam? Atau kalau enggak, semalam gak dapat jatah ya, lemes amat?
Teman-temannya seperti tak pernah kekurangan topik untuk meledekinya. Apalagi kalau pas ketauan ada tanda merah dilehernya. Beuh, bisa pagi siang sore dia habis habisan diledekin. Dia juga tak menyangka, Ayleen yang kelihatannya kalem, pinter juga bikin kayak gitu.
"Bra, ponsel lo bunyi terus nih," teriak Reza yang kebetulan dari toilet. Dia melihat ponsel Ibra yang berada diatas meja kasir menggelepar-gelepar kayak ikan kekurangan air. Ibra memang terbiasa menaruh ponselnya disana, menurutnya kurang nyaman kerja sambil bawa ponsel.
"Bawain kesini, Za," sahutnya dari luar. Dia sedang sibuk menservis motor salah satu pelanggan saat ini.
__ADS_1
"Bikin motor gue kenceng ya, Bang. Minimal kayak pesawat gitu," ujar pemuda yang motornya sedang diservis Ibra.
"Tenang aja, ntar gue bikin motor lo kayak roket. Sekalian deh tu, lo wisata ke bulan." Pemuda itu langsung ngakak mendengar candaan Ibra.
"Nih," Reza menyodorkan ponsel yang masih berbunyi pada Ibra.
"Bentar ya, bini gue telpon," ujar Ibra pada pemuda tersebut. Mengelap tangannya pada majun yang ada didekatnya lalu meraih ponsel ditangan Reza.
"Bini lo ganti nama?" Pertanyaan Reza membuat Ibra langsung melihat kearah layar. "Hadeh, yang ada diotak cuma bini, bini dan bini aja. Mentang-mentang pengantin baru."
Ternyata Mbak Santi yang telepon. Mendadak perasaan Ibra tak enak. Karena tak mungkin Mbak Santi telepon kalau tak ada sesuatu yang penting.
"Iya Mbak, ada apa?" tanya Ibra setelah sambungan terhubung.
"Bapak Mas, Bapak." Suara Mbak Santi terdengar panik.
"Iya, kenapa Ayah?"
"Bapak kecelakaan."
"Kecelakaan!" pekik Ibra.
"Iya Mas, sekarang Bapak, Ibu dan Haura, ada dirumah sakit."
"Ratna dan Haura juga?"
"Iya, mobil Bapak mengalami kecelakaan. Ada Bu Ratna dan Haura juga disana."
__ADS_1