Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 39


__ADS_3

"Kak Ibra, tuh mukanya kena oli." Ujar gadis muda yang sejak tadi melototin Ibra yang lagi menservis motornya. Dia mengambil tisu didalam tas lalu jongkok didekat Ibra, mengelap wajahnya tanpa permisi.


"Gak usah gak usah, biarin aja," tolak Ibra. Berusaha menepis tangan gadis itu.


"Gak papa aku bersihin." Paksanya sambil mengusap pipi Ibra menggunakan tisu.


"Aku bilang gak usah," Ibra memegangi pergelangan tangan gadis itu. Membuang nafas kasar sambil menatapnya. Tatapan yang menyiratkan ketidaksukaannya. "Sial." Buru-buru dia melapaskan tangan gadis itu lalu berdiri. Menghampiri Ayleen yang berdiri didepan bengkel. Entah sejak kapan gadis itu ada disana, yang pasti saat ini, tatapannya menyiratkan kemarahan. "Ay, kok udah ada disini? Bu-bukannya kamu bilang nanti pulang jam 2 ya?" Ibra jadi gugup karena takut Ayleen salah paham. Tadi pagi Ayleen memang memberitahu jika siang ini pulang jam 2. Ibra sudah mendapatkan izin Ayah untuk menjemput Ayleen karena ingin mengajaknya ke makam Ibunya. Tapi sekarang masih jam 12, tapi gadis itu sudah muncul saja.


"Jadi kayak gini kalau dibelakang aku?" tanya Ayleen sambil menatap nanar Ibra.


"Kamu salah paham, Sayang." Ibra meraih kedua tangan Ayleen lalu menggenggamnya. "Ini gak seperti yang kamu pikirkan."


"Lalu seperti apa? Aku lihat loh, Kakak megang tangannya sambil natap dia."


"Iya itu benar, ta_"


"Tuhkan bener," Ayleen menarik tangannya dari genggaman tangan Ibra dengan kasar.


"Belum selesai aku ngomongnya, dengerin dulu." Dia hendak meraih tangan Ayleen tapi lebih dulu gadis itu menjauhkan tanganya.


"Kak Ibra, ini motorku gimana, kok ditinggal begitu aja?" seru gadis yang tadi bersama Ibra. Namanya Delisa, anak pemilik bagunan yang dikontrak Ibra. Dia menatap Ayleen sengit lalu menghampiri mereka. "Siapa dia?" tanyanya ketus.


"Calon istri aku."


Delisa langsung melotot dengan mulut menganga lebar. Menatap Ayleen dari atas sampai bawah dengan tatapan seperti sedang menilai. Begitupun dengan Ayleen, matanya menelisik gadis yang berhasil membuatnya cemburu.


"Ay, ini Delisa, anaknya yang punya tempat ini. Dia kesini buat nyervis motor," Ibra memperkenalkan. Tapi baik Ayleen maupun Delisa, sepertinya tak ada yang ingin berkenalan.


"Kak Ibra kan masih kuliah, kok udah punya calon istri?" tanya Delisa dengan wajah sebal.

__ADS_1


"Emang kalau masih kuliah gak boleh punya calon istri?" ujar Ibra sambil tersenyum. "Kalau kamu belum boleh, masih SMA. Kalau Kakak, nikah sekarang juga udah boleh, udah 19 tahun keatas." Ibra lalu meraih tangan Ayleen dan menggenggamnya. "Ayo Sayang masuk." Dia menarik tangan Ayleen masuk kedalam ruangan bengkel.


"Kak Ibra, ini motorku gimana?" teriak Delisa sambil menghentakkan kakinya kelantai.


"Za, habis itu, kerjain motornya Delisa," seru Ibra pada Reza yang lagi memperbaiki motor lain.


"Siap, bos," sahut Reza. "Neng cantik, habis ini Abang kerjain, tunggu bentar ya." Alih-alih menjawab, Delisa malah melengos. "Yaelah, jangan cemberut gitu dong, nanti cakepnya ilang. Udah, gak usah mikirin Ibra, kamu pikirin 7 hari 7 malam, bahkan sampai 7 purnama, Ibra tetap udah ada yang punya. Cintanya Ibra udah mentok. Ibarat kata, kalau ruangan, udah full isinya sama Ayleen, kamu mau nyempil dimanapun, udah gak bisa, udah kehabisan tempat. Mending ke hati Abang aja, masih kosong, masih luas, seluas samudera pasifik."


"Bodo amat," sahut Delisa. "Aku mau pulang aja." Dia menatap Ayleen dan Ibra sekilas lalu pergi.


"Terus motornya?" teriak Reza.


"Anterin kalau udah selesai," sahutnya tanpa menoleh.


Sementara itu, Ayleen sedang melihat-lihat bagian dalam bengkel. Isinya sudah pasti oli dan sparepart motor. Ada juga meja kasir beserta kursinya.


"Ke toilet yuk." Ayleen kaget saat Ibra menarik tangannya menuju toilet yang ada dipojok ruangan.


"Kok ngeliat aku kayak gitu?"


"Mau ngajakin apa coba didalam toilet? Aku gak suka ya, Kak Ibra yang kayak gini." Ada raut marah bercampur kecewa diwajah Ayleen.


"Kayak gini gimana?" Ibra balik nanya. "Kamu gak lagi mikir aku mau ngajak mesum di toiletkan?" tebaknya.


"Mau apaan lagi coba kalau gak ngajak gituan." Sahut Ayleen ketus sambil mengerucutkan bibir.


"Astaga, Ay." Ibra terkekeh sambil geleng-geleng. "Coba lihat tangan kamu." Ayleen reflek melihat tangannya, baru sadar jika tangannya sangat kotor, hitam dan berminyak. "Aku mau ngajak kamu cuci tangan. Gara-gara aku pegang, tangan kamu ikutan kotor."


Wajah Ayleen langsung memerah karena malu. Bisa-bisanya dia mikir yang enggak-enggak. Padahal selama ini, Ibra gak pernah ngajak yang enggak-enggak, bahkan ciuman bibir saja, mereka tak pernah meski udah beberapa bulan resmi jadian.

__ADS_1


"Kayaknya yang mesum itu pikiran kamu deh," ledek Ibra. "Ngode ya, minta cepet-cepet dihalalin?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alis.


"Ish, apaan sih, gak jelas." Ayleen yang salah tingkah, langsung nyelonong masuk kedalam toilet. Tapi hendak mengambil sabun, Ibra lebih dulu mengambilnya. Menengadahkan telapak tangan Ayleen lalu memberinya sabun.


"Biar aku cuciin." Ibra menggosok kedua tangan Ayleen menggunakan tangannya.


"Aku bukan anak kecil kali, bisa cuci tangan sendiri." Ucapannnya terdengar seperti penolakan, tapi bahasa tubuhnya, sama sekali tak menunjukkan penolakan, pasrah saja.


"Kan sekalian aku cuci tangan. Lebih ngirit sabun, 2 tangan bisa bersih dengan sekali cuci, bener gak?" Ayleen hanya menyebikkan bibir. Ngirit sabun konon, padahal modus, biar bisa pegang tangan. "Soal tadi, gak usah cemburu." Ujar Ibra sambil membilas tangan mereka diwastafel. "Hati aku cuma buat kamu."


"Hatinya buat aku, tapi tangannya buat semua cewek," sindir Ayleen. Berjalan keluar dari toilet meninggalkan Ibra.


"Kamu tahu gak sih, kenapa tadi aku megang pergelangan tangannya? Biar dia berhenti nyentuh mukaku. Aku gak nyaman disentuh cewek lain, Ay. Aku maunya cuma disentuh kamu." Ibra meraih telapak tangan Ayleen lalu menempelkan diwajahnya. "Gak hanya hati aku, tapi raga aku juga cuma buat kamu."


Ayleen menyebikkan bibir, "Mulai deh gombalnya."


"Ya kan biar kamu seneng," sahut Ibra sambil tergelak. "Kamu sukakan kalau digombalin?"


"Enggak," sangkal Ayleen sambil menarik tangannya dari wajah Ibra.


"Bohong, buktinya senyum-senyum," ledek Ibra sambil menunjuk wajah Ayleen.


"Apaan sih, Kak Ibra." Ayleen membalikkan badan karena malu.


"Cie, cie...salting..." Ibra berpindah posisi kedepan Ayleen sambil menatap muka gadis yang menunduk itu. "Tuh mukanya, merah. Meleleh hati adik denger gombalan Abang." Cowok itu senang sekali bisa menggoda Ayleen.


"Kak Ibra," rengek manja Ayleen. Dia yang malu berniat menutup wajahnya dengan telapak tangan, tapi batal saat melihat telapak tangannya kembali kotor. "Yah, kotor lagi. Ini pasti gara-gara megang wajah Kakak yang kotor."


Ibra tergelak melihat wajah kesal Ayleen. "Yaudah gak usah marah, aku cuciin lagi tangannya."

__ADS_1


"Modus mulu dari tadi."


"Gimana lagi, yang dimodusin suka," celetuk Ibra sambil tertawa ngakak.


__ADS_2