Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 81


__ADS_3

Sesuai janjinya, tak lama kemudian Ibra kembali ke kamar. Menghela nafas berat saat melihat istrinya meringkuk diatas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya sebatas leher. Meski tak melihat wajahnya karena posisi Ayleen membelakanginya, Ibra yakin wanita itu belum tidur. Dia naik keatas ranjang lalu memeluk wanitanya dari belakang. Tak ada penolakan, tapi juga tak ada respon positif, Ayleen hanya bergeming.


"Ada apa sih? Kalau aku salah, ngomong. Jangan tiba-tiba diem, aku kan gak tahu apa salahku."


Ayleen tersenyum tipis sambil memutar kedua bola matanya jengah. Gak tahu apa salahnya? Dasar cowok, gak peka. Apa semua hal harus dia katakan dengan gamblang?


"Sayang, ngomong dong, aku salah apa? Jangan main ngambek aja," Ibra masih terus membujuk. Kalau saja isi hari wanita bisa dia cari di mbah gugel, sudah pasti sejak tadi dia mencarinya.


"Gak ada," sahut Ayleen ketus. "Udah, aku mau tidur, ngantuk. Besok ada kelas pagi."


"Gak ada? Bohong. Kalau gak ada, kamu gak mungkin ngediemin aku seharian. Kamu itu gak pandai bohong."


Kata bohong membuat Ayleen naik darah. Menyingkirkan lengan Ibra yang melingkar dipinggangnya lalu bangun cepat, sampai-sampai Ibra terperangah karena pergerakan tiba-tiba itu. Ditambah mata istrinya melotot seperti mau keluar dari kelopak mata, jadi makin susah nafas dia.


"Aku memang gak pandai bohong, gak kayak kamu," sinis Ayleen sambil mendorong dada Ibra dengan telunjuknya.


Ibra bangun lalu menunjuk dirinya sendiri seperti orang bodoh. "Aku? Aku pandai bohong? Gak usah ngadi-ngadi deh." Ekspresi tak bersalah Ibra membuat Ayleen makin kesal.


Plakkk


"Awww...." Ibra meringis sambil memegangi lengannya yang baru saja digaplok Ayleen lumayan kencang.


"Masih gak mau ngaku," bentak Ayleen. Nafasnya tampak memburu, menandakan jika dia sedang emosi jiwa.

__ADS_1


"Bohong apa sih?"


"Masih kurang?" Ayleen yang kesal mengambil guling lalu menggunakannya untuk memukuli Ibra.


"Aduh Sayang, ampun. Ini KDRT namanya." Ibra terus mengaduh tapi tak menghindar apalagi punya niatan membalas. Dia biarkan saja Ayleen terus menghajarnya yang penting ngambeknya sembuh.


"Dasar tukang bohong." Ayleen terus melampiaskan kekesalannya dengan memukuli Ibra sampai lengannya lelah sendiri. Masih belum puas tapi udah pegal, dia lempar guling itu ke lantai lalu tertunduk. Terdengar isakannya, membuat Ibra seketika memeluk tubuh kurus itu. "Kita masih baru nikah, baru 2 bulan lebih, tapi kamu udah pinter bohong. Gimana kalau udah bertahun-tahun?" Ayleen hendak melepaskan tubuhnya dari pelukan Ibra namun tak bisa, pria itu terlalu kuat memeluknya. "Kamu tadi ketemu Putri kan, tapi kenapa bilang ketemu anak joker?" tanyanya sambil terisak.


Ibra mengepalkan telapak tangannya lalu memukul keningnya sendiri. Bisa-bisanya dia tak kepikiran tentang itu. Jadi seharian ini Ayleen marah karena cemburu.


"Kamu sering kayak gitu? Ketemu diam-diam sama Putri dibelakangku?"


"Astaghfirullah, ya enggaklah. Hari ini pertama kali aku ketemu Putri di rumah sakit. Aku juga baru tahu kalau dia kerja disana."


"Aku emang ketemu anak joker tadi, namanya Roni. Terus gak sengaja ketemu Putri. Dia ngucapin bela sungkawa atas kematian ayah, dan minta maaf karena tak bisa datang. Aku cuma bentar ngobrol sama Putri. Sama sekali gak ada obrolan spesial."


"Terus kenapa gak bilang aku kalau ketemu Putri?"


"Ya masa aku sebutin satu persatu ketemu siapa saja. Putri gak penting, jadi gak aku sebutin." Ayleen menatap Ibra tajam, membuat pria itu salah tingkah. "Kok gitu ngeliatnya?"


"Yakin Putri gak penting?"


"Yakinlah, kan yang penting cuma kamu." Ibra hendak menyentuh bibir Ayleen namun tangannya lebih dulu ditepis kasar oleh wanita itu. "Busyet, galak amat. Ngeri kalau lagi marah," gumamnya pelan namun masih bisa terdengar oleh Ayleen.

__ADS_1


"Kalau emang Putri gak penting, kenapa muji-muji banget coklat dari dia. Katanya enaklah, lebih enak dari biasanya," ujarnya bersungut-sungut.


"Ya Allah sayang," Ibra terkekeh pelan. "Coklat itu bukan dari Putri, tapi dari salah satu suster."


Baru saja Ayleen lega karena bukan dari Putri, mendadak naik angin lagi mendengar kalimat lanjutannya. "Dari suster siapa?"


"Aku gak tahu siapa namanya. Tiba-tiba saja dia manggil aku terus ngasih coklat. Dia bilang, Mas Ibra, ini coklat buat adiknya, gitu." Ibra menirukan gaya bicara suster tersebut, membuat Ayleen jadi membayangkan ekspresi caper Suster tersebut dan ujung-ujungnya cemburu lagi.


"Kok dia tahu nama kamu?"


"Ya mana aku tahu, Yang. Sebulan ini kan aku wara-wiri di rumah sakit terus, mungkin dia pernah dengar orang manggil aku kali." Ayleen membuang nafas kasar sambil cemberut. "Ya elah, masa cemburu sih sama suster yang namanya saja aku gak tahu. Udah gak usah ngambek, dia gak cantik kok," buruknya sambil membelai rambut panjang Ayleen. "Kalau mau cemburu, yang kerenan dikit, jangan yang sama levelnya jauh dibawah kamu."


"Kalau sama Putri?"


"Wajar sih, kan Putri cantik." Sadar salah ngomong, Ibra buru-buru menutup mulutnya, tapi terlambat, Ayleen lebih dulu mencubit pinggangnya sampai dia merasa sakit sekaligus kegelian.


"Tuh kan bilang Putri cantik."


Ibra tersenyum absurd, bisa-bisanya mulutnya lancar banget ngomong kalau Putri cantik. "Ya kan cewek Ay, masa ganteng sih."


"Tapi tadi kamu ngomong kalau suster tadi gak cantik, kok Putri cantik?"


Mampus. Kalau dilanjutin, bisa sampai pagi debatnya. Gagal deh gue dapat jatah.

__ADS_1


__ADS_2