Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 60


__ADS_3

Flashback.


Bug


Pak Yusuf melemparkan kebaya keatas tubuh Ratna. Wanita yang masih malas-malasan diatas ranjang itu hanya menggeliat sembari mendengus, tanpa ada niat untuk bangun.


"Cepat kenakan baju itu. Kita harus segera pergi kepernikahan Ibra," ujar Pak Yusuf. Kebaya itu pemberian Om Musa. Pakaian seragam yang akan dikenakan keluarga besar mereka dihari pernikahan Ibra dan Ayleen.


"Berapa kali aku harus bilang, aku tidak mau," tolak Ratna. "Lagipula untuk apa kita datang, kalau ujung-ujungnya, hanya dianggap pencitraan oleh netizen dan saurada-saudaramu. Aku rasa Ibra juga tidak mengharapkan kehadiran kita disana."


Pak Yusuf membuang nafas berat, bingung harus seperti apa lagi bicara pada Ratna. "Ini bukan perkara diharapkan kehadirannya atau tidak, tapi ini kewajiban kita sebagai orang tua."


"Cih, sejak kapan kamu sebijak ini, Mas?" cibir Ratna. "Keluargamu sudah benar-benar berhasil mencuci otakmu. Mereka pasti menyuruhmu untuk membenciku."


"Mereka tak seburuk itu. Cobalah dekat dengan keluargaku."


"Buat apa, mereka tidak pernah menyukaiku, mereka hanya memangdangku sebelah mata."


"Itu karena kau tak pandai mengambil hati mereka. Dulu ibunya Ibra, bisa sangat dekat dengan mereka, kenapa kamu tidak?"


Ratna langsung murka saat dibandingkan dengan alm. Ibunya Ibra. Wanita itu bangun lalu menatap suaminya tajam. "Aku tidak suka dibandingkan dengan mantan istrimu itu. Aku dan dia berbeda," tekan Ratna.


"Sudahlah, capek aku debat sama kamu. Cepat ganti baju, kita berangkat."


"Sudah aku bilang berapa kali, aku tidak sudi datang kesana. Kalau kau mau, datanglah sendiri, jangan mengajakku." Ratna mengambil kebaya yang ada diatas ranjang, lalu melemparkannya ke lantai.


"Jangan terus memancing kemarahanku, Ratna," geram Pak Yusuf dengan rahang mengeras. Dengan mata memerah dan nafas memburu, dia mendekati Ratna yang ada diatas ranjang.


"Kenapa memangnya? Aku memang tak sudi datang kesana." Ratna turun dari ranjang, menginjak injak kebaya pemberian Om Musa.

__ADS_1


Pak Yusuf gelap mata melihat kelakuan Ratna. Tangannya terangkat keatas dan,


PLAKK


Tangan besar itu mendarat dipipi Ratna, meninggalkan bekas kemerahan dan rasa panas yang seketika menjalar diseluruh wajah wanita itu.


Ratna menyeraingai sambil menyentuh pipinya yang kebas.


"Cepat ganti baju atau aku,"


"Atau apa, mau memukulku lagi? Silakan." Seperti menantang, Ratna malah menyodorkan pipinya. Setidaknya jika terjadi kasus kdrt, dia bisa langsung menggugat cerai Yusuf. Akan mendapatkan harta gono gini, setelah itu bisa menikah lagi dengan pria kaya. "Cepat pukul aku," Ratna makin memanas manasi.


Plakk


Dan sekali lagi, karena tak bisa menahan emosi, Yusuf menamparnya. Terlihat darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


Kedua tangan Pak Yusuf mengepal kuat mendengar kata cerai. Setelah dia kehilangan istri dan anak demi perempuan itu, sekarang dengan santainya Ratna bilang mau menggugat cerai. Dia kembali mengangkat tangan, sedikit luka ataupun banyak, dia tetap akan dilaporkan atas tuduhan kdrt. Tak ada salahnya dia lampiaskan semuanya sekarang. Namun belum sempat tangan itu kembali mendarat diwajah Ratna, sebuah suara kecil menghentikannya.


"Papa." Suara Haura membuat Yusuf langsung menurunkan lagi tangannya. "Ayo kita berangkat. Katanya mau ke pesta pernikahannya Kakak."


Yusuf menoleh, melihat putri kecilnya sudah cantik dengan gaun princess berwarna putih dan rambut yang ditata sedemian cantik oleh pengasuhnya.


"Kita tidak akan kemana-mana, kita tetap dirumah." Ratna mendekati Haura lalu menarik tangan anak itu kesamping tubuhnya.


"Tapi kata Papa, kita mau ke_"


"Diam Haura," bentak Ratna. "Dia bukan kakakmu, dan kamu tidak perlu kesana."


"Baiklah, aku akan pergi sendiri." Pak Yusuf membuang nafas kasar lalu keluar dari kamar. Melihat papanya keluar, Haura melepaskan tangan Ratna lalu berlari mengejar papanya.

__ADS_1


"Papa, Haula ikut." Langkah kaki Pak Yusuf terhenti mendengar teriakan putri kecilnya.


"Kamu tetap dirumah bersama Mama." Ratna menarik tangan Haura, mencegah agar tak ikut papanya.


"Gak mau," Haura mencoba berontak. "Mau ikut Papa, mau ikut Papa." Bocah kecil itu terus menangis sambil menarik-narik tangannya.


"Diam, Haura," bentak Ratna.


Tak tega melihat Haura yang terus menangis, Pak Yusuf mendekatinya dan melepaskan tangan anak itu dari cekalan Ratna. "Biarkan dia ikut denganku." Digendondongnya Haura keluar dari rumah.


Flashback off


Mata Ibra berkaca-kaca melihat ayahnya berjalan kearahnya sambil menggendong Haura. Dia sama sekali tak menyangka jika pria itu akan datang dihari spesialnya ini.


"Ayah belum telatkan?" tanya Pak Yusuf sambil menepuk lengan Ibra. Pria itu menurunkan Haura dari gendongangannya lalu merapikan pakaian Ibra. "Kau tampak sangat gagah hari ini." Ibra tak kuasa menahan air mata. Setelah bertahun-tahun, akhirnya hari ini, dia kembali mendengar sang ayah memujinya. Sama seperti Ibra, Pak Yusuf juga tak kuasa menahan air matanya. "Apakah Ayah boleh, ikut menemanimu ke rumah mempelai wanita?"


Sedalam apapun rasa kecewa Ibra pada ayahnya, pria yang ada dihadapannya ini tetap ayahnya. Tidak mudah melupakan sikap buruk pria itu padanya, tapi semua kenangan masa kecil, dimana sang ayah menjadi superheronya, juga tak bisa hilang dari ingatan Ibra. Sejahat apapun ayahnya, dia tetap pernah menjadi pahlawan bagi Ibra.


Ibra mengangguk sambil menyeka air mata dan tersenyum.


"Terimakasih." Pak Yusuf langsung memeluk putranya.


Om Musa dan Tante Dijah, saudara kandung Pak Yusuf, ikut menitikkan air mata. Benar kata pepatah, sekeras apapun batu, akan retak jika terus tertimpa hujan. Rasanya, tak sia sia mereka berdua dan keluarga lainnya menasehati Yusuf. Terkadang bahkan sampai, memojokkan dan mengolok, bukan karena tak sayang, tapi karena saking sayangnya.


.


.


Bagi yang punya si olen alias pijo, bisa baca karya otor disana juga. Napennya masih sama, Yutantia 10

__ADS_1


__ADS_2