
Ibra langsung meluncur menuju rumah sakit saat itu juga. Sepanjang jalan, berdoa agar Ayahnya baik-baik saja. Didepan IGD, dia langsung disambut oleh Mbak Santi dan juga 2 orang polisi.
"Mas Ibra." Melihat kedatangan Ibra, Mbak Santi gegas menghampirinya. Wajah wanita berumur awal empat puluhan itu tampak sembab, seperti habis menangis.
"Gi-gimana kondisi Ayah, Mbak?"
"Selamat siang." Dua orang polisi yang ada disana menghampiri Ibra. Tak lupa mengulurkan tangan kearah Ibra. "Anda keluarga dari korban?"
"Saya anaknya, Pak. Saya Ibrahim, anak Pak Yusuf, " sahut Ibra sembari menjabat tangan mereka bergantian. "Bagaimana kondisi Ayah saya?"
"Kami juga belum tahu. Mobil yang dikemudikan Saudari Ratna, mengalami kecelakaan tunggal di tol." Ibra memejamkan mata mendengar penjelasan polisi. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Ratna yang mengemudi, bukan ayahnya. "Menurut saksi, mobil melaju dengan kecepatan sangat tinggi, lalu seperti hilang kendali dan akhirnya menabrak pembatas jalan. Dan sepertinya, Pak Yusuf dalam kondisi tak memakai sabuk pengaman, beliau terpental hingga beberapa meter dari dalam mobil."
Bugh
Ibra reflek memukul dinding disebelahnya. Matanyan mulai memanas, dan cairan matanya, tak bisa lagi dia tahan untuk tidak keluar. Bisa-bisanya ayahnya seceroboh itu sampai tak memakai sabuk pengaman. Kalau benar tubuh ayahnya sampai terpental dari dalam mobil hingga beberapa meter, itu artinya, kondisinya sangat parah. Dan saat ini, yang bisa dia lakukan hanya berdoa supaya Ayahnya selamat.
"Ada yang punya golongan darah A?" tanya seorang suster yang baru keluar dari IGD.
"Saya Sus," sahut Ibra cepat.
__ADS_1
"Mari ikut saya. Pasien butuh banyak darah." Tanpa bertanya pasien yang mana, Ibra langsung mengikuti Suster. Dia bahkan tak peduli meski Ratna yang butuh darah tersebut. Dia hanya ingin menolong siapapun saat ini, berbuat kebaikan dengan harapan, Tuhan juga akan menolong Ayahnya.
"Bagaimana kondisi Ayah saya, Sus?" tanya Ibra ketika sedang melakukan donor darah.
"Kondisinya masih kritis. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien."
Berkali-kali Ibra menyeka air matanya. Meski hubungan mereka sempat buruk, tapi dia belum siap kehilangan ayahnya.
.
Sementara Ayleen yang mendapat kabar dari Reza, langsung menuju ke rumah sakit. Didepan IGD, dia hanya mendapati Mbak Santi karena Ibra masih di ruang donor darah.
"Haura, Mbak Ayleen. Haura," Mbak Santi sesenggukan dipelukan Ayleen. Wanita itu memang sangat menyayangi Haura karena sudah merawatnya sejak bayi.
Mbak Santi melepaskan pelukan Ayleen. Menyeka air mata yang sejak tadi tak berhenti mengalir. Dia menarik lengan Ayleen kedekat dinding lalu menyandarkan punggungnya disana. Wajah wanita itu masih tampak sangat terpukul, namun dia tetap bercerita.
"Tadi pagi, Bapak dan Ibu bertengkar hebat." Masih basah diingatan Mbak Santi manakala caci maki serta kalimat kotor terus keluar tiada henti dari mulut Pak Yusuf maupun Ratna. Keduanya saling melempar kesalahan. Sedang dia didalam kamar menenangkan Haura yang terus menangis ketakutan mendengar kedua orang tuanya bertengkar.
"Bu Ratna masuk kedalam kamar Haura lalu mengemasi pakaiannya. Dia mau pergi dengan membawa Haura, tapi Bapak mencegahnya. Haura meraung-raung saat Bu Ratna menariknya keluar rumah. Anak itu tak mau pergi. Kasihan sekali pokoknya." Tangis Mbak Santi kembali pecah. "Kondisi Pak Yusuf masih kurang sehat, saya lihat nafasnya tersengal, dan beberapa kali memegangi dada. Tapi dia tetap berusaha menahan Bu Ratna yang akan membawa Haura."
__ADS_1
Ayleen ikut menangis, membayangkan perasaan Haura saat itu. Anak sekecil itu sudah harus dihadapkan dengan pertengkaran orang tuanya, padahal mentalnya masih belum siap.
"Bu Ratna masuk kedalam mobil bersama Haura. Haura terus meraung sambil memanggil papanya. Minta pertolongan lah istilahnya, Mbak. Sebagai ayah, tentu Pak Yusuf tak tinggal diam. Bapak ikut masuk kedalam mobil yang dikemudikan Bu Ratna. Saya tidak tahu mereka mau pergi kemana?"
Ayleen merangkul bahu Mbak Santi. Meski hanya pengasuh, tapi yang Ayleen lihat, justru Mbak Santi yang tulus menyayangi Haura, bukan Ratna.
"Saya takut terjadi sesuatu pada Haura, Mbak."
"Kita doakan saja yang terbaik."
Beberapa saat kemudian, Ibra kembali ke IGD. Melihat suaminya datang dengan langkah lunglai dan wajah pucat, Ayleen segera menghampiri dan memeluknya.
"Ayahku, Ay. Ayahku." Ibra menumpahkan air matanya dibalik punggung Ayleen.
"Ayah akan baik-baik saja, Kak. Kita doakan yang terbaik untuk mereka."
"Aku takut Ay, aku takut Ayah pergi untuk selamanya. Aku belum sempat minta maaf padanya."
"Ayah akan baik-baik saja." Ayleen mengusap punggung Ibra untuk memberi dukungan. Meski jika mendengar cerita Mbak Santi jika Pak Yusuf terpental keluar dari mobil hingga beberapa meter, rasanya mustahil selamat. Namun dia tak mau mendahului kehendak yang diatas.
__ADS_1
Cukup lama mereka menunggu didepan IGD, sampai akhirnya seorang dokter keluar dan mengabarkan jika Pak Yusuf tak bisa diselamatkan. Pria baya itu meninggal beberapa saat yang lalu karena pendarahan dikepalanya.
Tubuh Ibra seketika luruh ke lantai. Meski hubungan mereka sempat tak baik-baik saja, namun kenyataan Ayahnya pergi untuk selama-lamanya, membuat dia sangat terpukul.