Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 57


__ADS_3

"Mah, kenapa balang-balang Haula dimasukin kedalam tas?" tanya Haura ketika sang pengasuh mengemasi barang-barang dikamarnya.


"Tanya saja sama Papa kamu," sahut Ratna ketus. Matanya menatap nyalang sang suami yang sedang duduk disofa sambil memangku laptop.


Dengan polosnya, Haura mendekati papanya untuk bertanya. "Papa, kenapa baju Haula dimasukin tas?"


Pak Yusuf tersenyum, mengalihkan pandangannya dari laptop kearah putri kecilnya. "Kita akan pindah dari sini."


"Pindah?"


"Iya, kerumah yang lebih bagus."


"Lebih bagus?" Ratna memutar kedua bola matanya malas. "Lebih jelek yang iya, lebih kecil."


Haura yang bingung, menatap mama dan papanya bergantian.


"Haura ke kamar dulu ya," titah Pak Yusuf. "Bantu Mbak masukin barang Haura kedalam koper. Haura gak mau kan, ada yang sampai ketinggalan?"


"Iya, Papa." Haura mengangguk lalu berlari menuju kamarnya.


"Kamu ini gimana sih, Mas? Bisa-bisanya kalah sama si Ibra?" omel Ratna. Matanya melotot dengan kedua lengan dilipat didada.


Pak Yusuf menutup laptop, melepaskan kacamata lalu meletakkan diatas meja. Memijit sudut mata sebelah dalam untuk sedikit mengurangi rasa tak nyaman dimatanya.


"Apa yang ada diotak kamu?" Ratna menunjuk kearah suaminya. Rasa sopannya pada sang suami sudah benar-benar hilang tak tersisa. Yang ada hanya perasaan kesal yang ingin dia lampiaskan. "Bisa-bisanya seperempat bagian kamu, kamu kasihkan juga pada Ibra. Lalu aku dan Haura dapat apa?"


Pak Yusuf menghela nafas lalu menatap Ratna tajam. "Hartaku masih ada Ratna, jangan takut kau dan Haura sampai kelaparan. Yang aku berikan pada Ibra, hanya harta milik alm. Ibunya. Berapa kali aku harus menjelaskan itu."

__ADS_1


"Ya tapi harta mantan istrimu itu lebih banyak dari harta kamu. Seperempat bagian harta mantan istri kamu itu banyak jumlahnya, Mas. Harusnya buat Haura, bukan Ibra."


"Ibrahim itu juga anakku Ratna," bentak Pak Yusuf. "Dan aku cukup tahu diri untuk tidak mengambil harta ibunya. Apalagi untuk diberikan pada kamu dan Haura."


"Halah, gak usah sok jadi orang bener deh. Lagian menurut hukum, seperempat warisan itu milik kamu. Jada kamu gak salah kalau mengambilnya."


"Tapi aku masih punya malu, Ratna. Semua saudaraku mengolokku tak tahu diri."


"Malu gak bisa bikin kaya," sentak Ratna.


"Sepertinya saudara-saudaramu telah berhasil mencuci otakmu, Mas. Sekarang kamu lebih mihak Ibra daripada aku dan Haura." Ratna makin naik darah. 2 minggu yang lalu, Pak Yusuf berkumpul dengan keluarga besarnya, tentunya tanpa Ratna karena hubungan Ratna dengan keluarga besar Yusuf kurang bagus. Setelah pertemuan itu, Ratna merasa jika suaminya berubah. Tak bisa lagi dia kendalikan seperti dulu.


"Sudahlah Ratna, aku pusing." Pak Yusuf meninggalkan Ratna, masuk kedalam ruang kerjanya. Mengemasi barang-barangnya karena dia harus segera pindah. Setelah menikah, Ibra dan Ayleen akan langsung menempati rumah ini.


"Rugi aku nikah sama kamu," gerutu Ratna. "Kirain kaya raya, taunya istrinya yang lebih kaya." Dia menghentakkan kakinya kelantai dengan perasaan kesal. Masuk kedalam kamar lalu mengemasi barang-barangnya.


...----------------...


"Luluran."


"Vcall yuk, kangen." Rengekan Ibra membuat Ayleen terkekeh geli. Calon suaminya itu hampir 2 jam sekali telepon minta video call. Alasannya masih sama kangen karena sudah 3 hari mereka tak bertemu.


"Berapa kali sih, aku harus bilang. Gak boleh kata Nenekku," sahut Ayleen. "Kita lagi dipingit, gak boleh ketemu ataupun video call."


"Ya kamu masuk ketoilet, kekolong tempat tidur, almari atau kemana gitu. Pokoknya ketempat yang gak ketahuan Nenek kamu. Kangen banget Ay, pengen lihat wajah kamu."


"Lihat fotokan sama aja."

__ADS_1


"Gak sama, gak bisa gerak, gak bisa senyum, gak bisa ngomong." Lagi-lagi Ayleen tak bisa menahan tawanya. "Orang lagi kangen, malah diketawain," gerutu Ibra.


"Sabar dikit kenapa sih," desis Ayleen.


"Gak bisa, Ay. Udah OD ini kangennya. Lagian tradisi dipingit itu cuma mitos, gak dilakuin gak papa."


"Tapi aku pengen ngelakuin tradisi itu. Pengen numpuk rindu sampai menggunung. Jadi nanti pas kita ketemu dihari pernikahan, rasanya gimana gitu. Ibarat kata orang, kayak puasa, trus pas buka, nikmatnya luar biasa. Kerinduan kita akan terbayar dihari itu. Dan aku yakin deh, pas hari H nanti, kita pengennya saling tatap terus, karena kita saling kangen. Sabar, cuma tinggal 4 hari lagi."


"Cuma 4 hari lagi kamu bilang?" Geram Ibra. "3 hari ini aja, udah kayak 3 tahun. Udah kangen banget, nget, nget. Kalau kata Judika, setengah mati merindu, tak nggak."


"Enggak," sahut Ayleen sambil tergelak.


"Ngeselin," geram Ibra. "Untung cinta, kalau enggak_"


"Kalau enggak, apa?"


"Kalau enggak, kamu udah aku karungin, lalu aku lempar ke planet mars, soalnya nyebelin." Ayleen makin kenceng tertawanya, sampai-sampai Alfath yang lagi lewat depan kamarnya langsung masuk.


"Ngetawain apa nih, kenceng banget?" Alfath mulai kepo. "Jangan-jangan vcall sama Bang Ibra ya?" tebaknya sok tahu.


"Apa sih, enggak. Orang cuma teleponan."


"Nenek," Alfath tiba-tiba teriak. "Kak Leen video call sama calon suaminya." Adunya sambil kabur dari kamar Ayleen.


"Al," pekik Ayleen geram. Mengejar adiknya itu tapi sayang, tak terkejar karena Alfath sangat kencang larinya.


"Ay, Ay." Panggil Ibra.

__ADS_1


"Udah dulu ya, Kak. Aku mau ngasih pelajaran sama Al."


"Tapi Ay, aku kan ma_" Ibra berdecak pelan saat sambungan sudah terputus. "Masih kangen," lanjutnya sambil teriak didepan ponsel.


__ADS_2