
"Bra, istirahat dulu, udah malem," ujar Reza yang hendak pulang. Biasanya dia pulang sekitar jam 8 atau 9, berbarengan dengan tutup bengkel. Tapi hari ini dia pulang jam 10 karena tadi mulai kerja agak sore, sekitar jam 3, sepulang kuliah. Karena para pekerja disini rata-rata mahasiswa, jadi jam kerjanya fleksibel. Diki dan Seto sudah pulang lebih awal, jam 6 tadi.
"Nanggung Za, gue selesaiin dulu satu motor ini," sahut Ibra.
"Kan bisa diselesaiin besok. Tubuh juga butuh istirahat kali. Lo mau nikah, jangan sampai malah sakit pas hari H."
"Gue masih belum ngantuk, daripada gak bisa tidur, mending kerja. Kalau lo mau pulang, gak papa, pulang dulu aja."
Reza berdecak pelan melihat temannya yang tak bisa dinasehati itu. "Ini sudah jam 10 lebih. Lo mau buka sampai jam berapa? Mau buka 24 jam, kayak apotek?" geram Reza. "Kapan lo istirahatnya kalau kayak gini?"
Ibra hanya tersenyum simpul. Andai saja Reza tahu jika semalam dia tak tidur sama sekali karena menunggu balasan pesan dari Ayleen, cowok itu pasti makin marah. Dan malam ini, dia juga pasti gak bisa tidur karena mikirin Ayleen yang belum mau maafin dia. Jadi daripada galau sambil mantengin HP kayak semalam, mending dia kerja saja.
"Udah, lo pulang aja. Bentar lagi gue tutup," bohong Ibra.
Tahu seperti apa keras kepalanya Ibra kalau sedang ada maunya, Reza tak lagi membujuk. Dia membuang nafas kasar lalu pamit pulang. Tapi sebelum pulang, diam-diam dia memotret Ibra lalu mengirimkannya pada Ayleen.
[ Nasehatin calon suami lo. Kerja juga harus ingat waktu. Jangan hanya karena ngejar duit demi beliin lo cincin berlian buat mahar, dia sampai lupa waktu. Tubuh juga butuh istirahat. ]
Sayangnya pesan Reza itu tak kunjung centang biru. Sepertinya Ayleen sudah tidur.
...----------------...
__ADS_1
Seperti biasa, bangun tidur Ayleen langsung mengecek ponsel. Selain puluhan pesan dari Ibra, ada pesan dari Reza yang menarik perhatiannya. Dia kaget melihat foto yang dikirim Reza. Sampai larut malam, Ibra masih kerja. Padahal dia tahu jika kemarin malam, Ibra tidak tidur. Bisa-bisanya cowok itu memvorsir tubuhnya seperti ini. Dan apa alasannya, cincin berlian? Ayleen berdecak pelan. Dia hanya becanda saat bilang mau mahar berlian.
Ayleen mencoba menghubungi Ibra, tapi nomornya tidak aktif.
"Kemarin nelfonin gak berhenti berhenti, sekarang malah gak aktif," gerutu Ayleen. Karena dia ada kelas pagi, jadi harus segera bersiap-siap kekampus.
Jika kemarin Ibra langsung menghampirinya saat dia datang, pagi ini cowok itu tak kelihatan batang hidungnya. Mungkin gak ke kampus karena Ibra sudah mulai mengerjakan skripsi, jadi tak setiap hari ke kampus.
Ayleen kaget saat ada yang menyenggol bahunya. "Kusut banget tuh muka, kenapa, Neng?" tanya Dian.
"Gak papa."
"Gimana, udah baikan sama ayang beb belum?" Ayleen hanya menjawab dengan gelengan pelan. Kemarin dia sudah cerita tentang masalahnya pada Dian. "Orang mau nikah emang banyak cobaannya, Leen. Kalau Kak Ibra serius minta maaf dan ada niat memperbaiki kesalahan, ya udah gih, maafin aja. Gak baik juga marahan terlalu lama."
"Iya aku ngerti. Tapi balik lagi, gak baik marahan terlalu lama."
Obrolan mereka terhenti saat ponsel Ayleen berdering. Ada telepon dari Reza.
"Dateng ke bengkel buruan," pinta Reza.
"Kenapa emang?"
__ADS_1
"Ibra sakit, badannya panas."
Ayleen mematikan sambungan telepon lalu memakai helmnya kembali.
"Loh, mau kemana lagi?" Dian mengerutkan kening.
"Aku pergi dulu." Ayleen langsung menstater motornya.
"Loh, mau kemana Leen? Kelas mau dimulai," teriak Dian. Namun Ayleen mengabaikannya, melajukan motor matic kesayangannya menuju bengkel milik Ibra. Sesampainya disana, dia langsung masuk. Dan hal yang langsung terdengar, adalah suara orang muntah-muntah. Tampak Reza berdiri didekat pintu kamar mandi.
"Untung lo cepet dateng, Leen." Reza bernafas lega melihat kedatangan Ayleen. "Ibra muntah-muntah."
Hoek hoek
Ayleen masih bisa mendengar suara itu dari dalam kamar mandi. Tanpa pikir panjang, dia langsung masuk karena pintunya hanya ditutup setengah.
"Kak Ibra, kamu gak papakan?" tanya Ayleen cemas.
Ibra menggeleng cepat, pipinya tampak menggembung, seperti sedang menahan sesuatu yang mau keluar.
Hoek hoek
__ADS_1
Tak bisa lagi menahan, Ibra mengeluarkan isi perutnya. "Keluar, Ay, jangan disini." Ujar Ibra saat Ayleen makin mendekatinya. "Entar kamu jijik, cepetan keluar." Ujarnya sambil menyalakan air di wastafel. Alih-alih keluar karena jijik, Ayleen malah mendekat dan memijit tengkuk Ibra.