Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 67


__ADS_3

Ibra yang merasa tak nyambung sama sekali dengan obrolan mereka, minta diri kebelakang. Kayaknya main game lebih seru daripada dengerin ciwi-ciwi ngobrol ngalor ngidul.


Saat hendak menaiki tangga, Ayah Septian memanggilnya. "Mana, Leen?"


"Didepan Om, eh Yah. Maaf, belum terbiasa." Ibra garuk-garuk tengkuk untuk mengurangi grogi.


"Lama-lama juga biasa," Ayah Septian menepuk bahunya. "Sama siapa dia didepan?"


"Teman-temannya."


"Bukannya mereka udah pulang?"


"Teman yang lain lagi, teman kampus."


"Oh..." Ayah Septian manggut-manggut. "Ngobrol sama Ayah bentar yuk, sambil nunggu Ayleen?" Ibra mengangguk. Keduanya lalu menuju ruang keluarga dan duduk santai disana. Wajah Ibra masih terlihat tegang saat berdua dengan mertua. Maklum, masih hari pertama jadi mantu. Entah kalau sudah setahun, mungkin sudah bisa adu panco.

__ADS_1


"Tegang banget wajah kamu," seloroh Ayah Septian sambil tersenyum. "Santai aja, Ayah cuma mau ngajak ngobrol bukan ngajak adu jotos." Ibra terkekeh pelan, namun masih belum bisa lepas, masih grogi. "Ayah kamu ternyata asik juga. Tadi Ayah ngobrol banyak sama dia. Dan adik kamu, ngegemesin. Ayleen itu suka anak-anak, pasti seneng kalau main sama adik kamu." Ibra hanya manggut-manggut saja, bingung harus menanggapi seperti apa.


"Ayleen sudah cerita semuanya, termasuk masalah kamu dengan ayah kamu. Tapi dia tetap ayah kamu. Jangan sampai satu keburukan, menghapus sejuta kebaikannya. Kalau main itung-itungan kasar, Ayah yakin, lebih banyak kebaikannya daripada keburukannya. Ayah gak memaksa kamu buat maafin ayah kamu, tapi cuma mau ngingetin, dia juga pernah melakukan kebaikan untuk kamu, pernah berjasa, dan mungkin pernah jadi pahlawan kamu. Tak adil rasanya jika satu keburukan, menghapus jutaan kebaikan yang telah dia perbuat sejak kamu lahir."


Mata Ibra berkaca-kaca. Dia memang masih belum bisa lupa dengan perbuatan ayahnya sejak menikah lagi dengan Ratna. Tapi benar kata Ayah Septian, masih banyak kebaikan ayahnya. Apakah dia benci ayahnya? Jawabannya tidak, hanya saja belum bisa melupakan perlakuan ayahnya beberapa tahun kebelakangan ini.


"Darah lebih kental dari air. Dan Ayah yakin, Ayah kamu sayang sama kamu. Ayah bisa melihat dari cara dia menatap kamu tadi."


Melihat Bi Sri yang sedang lewat, Ayah memintanya untuk membuatkan 2 kopi untuk di dan Ibra. Ngobrol tanpa secangkir kopi, rasanya ada yang kurang.


Mereka lalu ngobrol panjang lebar. Tapi lebih banyak, Ayah Septian menceritakan tentang masa kecil Ayleen. Ibra henti-hentinya tertawa saat Ayah membuka aib masa kecil Ayleen. Sampai tak terasa, sudah sangat larut.


"Kayaknya belum, masih kedengeran itu suaranya," sahut Ibra. Dari sini, memang masih bisa terdengar suara gelak tawa mereka meski pelan. "Kalau gak salah denger tadi, ada yang rumahnya di komplek sini juga."


"Oh, si Adel mungkin. Ya sudah kalau begitu, mungkin mau nginap disana."

__ADS_1


Terserah mau nginep dimana, asal jangan disini saja, batin Ibra.


"Biarlah dulu Ayleen menikmati masa bersama teman-temannya. Setelah ini, hidupnya akan berubah. Dia bukan lagi seorang gadis yang bisa menghabiskan seluruh waktunya bersama teman-teman seperti dulu. Akan lebih banyak waktu yang dia habiskan untuk mengurus rumah tangga, apalagi saat kalian sudah punya anak nanti." Mata Ayah Septian mendadak berkaca-kaca. "Rasanya Ayah masih seperti mimpi. Bayi perempuan yang 21 tahun yang lalu Ayah adzani dan beri nama Ayleen, hari ini sudah resmi dipersunting pria." Dia tak kuasa manahan air mata. Tersenyum saat mengingat kebersamaannya dengan Ayleen, dan menangis saat sadar jika sekarang, ada orang lain yang lebih berhak atas Ayleen daripada dia.


Melihat mertuanya menitikkan air mata, Ibra seperti tahu yang ada dalam hatinya. "Saya akan menjaga dan menyayangi Ayleen, Yah. Kebahagiaannya akan selalu saya prioritaskan, bahkan diatas kebahagiaan saya."


Ayah Septian menyeka air mata sambil mengangguk. "Kau tahu, apa yang paling ditakutkan seorang ayah saat menikahkan putrinya?" Ibra menggeleng. "Takut jika menyerahkan putrinya pada orang yang tidak tepat."


"Ibra tidak akan mengecewakan ayah."


"Saat kebahagiaan Ayleen bukan lagi prioritasmu, kembalikan dia pada Ayah. Karena sampai kapanpun, kebahagiaan Ayleen adalah prioritas Ayah, dia tetap putri kecil ayah."


Mendengar suara langkah kaki mendekat, buru-buru Ayah Septian membersihkan sisa air matanya. Ternyata Ayleen yang datang.


"Kak, temen-temenku mau pamit."

__ADS_1


"Oh." Ibra langsung berdiri, bersiap kedepan untuk menyalami mereka.


"Tadi kayaknya udah ngantuk, denger ada yang mau pulang, kok semangat lagi." Candaan Ayah Septian membuat wajah Ibra langsung merah padam. Jangan bilang kalau ekspresi bahagianya, sangat kentara sekali


__ADS_2