
Setelah muntah-muntah, Ibra merasa perutnya sedikit lebih nyaman. Namun tubuh terasa makin lemas dan kepala pusing. Ayleen menuntunnya keluar dari kamar mandi menuju kursi panjang yang ada didalam bengkel.
"Bang Ibra, ini aku buatin teh." Delisa masuk dengan segelas teh hangat ditangannya. Langkah gadis itu terhenti saat melihat ada Ayleen. Memutar kedua bola matanya malas lalu membuang nafas berat.
Sama seperti Delisa, Ayleen juga tampak kesal. Apalagi melihat teh hangat ditangan Delisa, bikin Ayleen pengen ngereok aja. Dia menoleh kearah Ibra sambil melemparkan tatapan tajam.
"Bu-bukan aku, Yang." Ibra menggeleng cepat. "Sumpah, bukan aku yang minta dia kesini bawain teh." Dia juga tak tahu bagaimana Delisa bisa tahu dia sakit dan tiba-tiba datang sambil membawakan teh.
"Hehehe, aku yang nyuruh dia dateng," ujar Reza sambil garuk-garuk kepala.
"Ngapain aku yang disuruh buatin teh, tuh ada tunangannya," Delisa menatap Ayleen sengit. "Emang dia gak mau buatin, males banget jadi cewek." Ayleen langsung melotot dikatain malas. Ingin balas ngatain, namun mulut belum sempat mengeluarkan kata-kata, Reza sudah lebih dulu ngomong.
"Ya kan biar kamu kesini, aku kangen." Reza sambil tersenyum malu-malu. Delisa langsung nyengir. Kesal karena semua ini ternyata ulah Reza. Malas melihat Ibra bersama Ayleen, gadis itu balik badan lalu keluar. "Loh, kok pulang. Tehnya buat Bang Reza sini," seru Reza sambil mengejar Delisa.
Ibra hanya geleng-geleng melihat Reza memanfaatkan kondisinya untuk bertemu dengan Delisa. Tapi sudahlah, cinta emang agak aneh. Karena dia sudah ngerasain seperti apa gilanya jatuh cinta dan giman rasanya jadi bucin, dia tak mau marah-marah pada Reza.
"Aku beliin teh panas diwarung deket sini ya." Ayleen hendak berdiri tapi lengannya ditahan oleh Ibra.
__ADS_1
"Gak usah, jauh, entar kamu capek. Aku minum air putih saja." Ibra mengambil air mineral botol yang ada diatas meja dekat tempat duduknya lalu meminumnya.
"Kalau masuk angin, harus minum yang anget-anget biar enakan. Aku beliin bentar ya."
"Gak usah." Ibra memeluk pinggang Ayleen sebelum gadis itu beranjak. "Dipeluk kamu aja, aku pasti sembuh."
"Ya tapi_"
"Udah, teh hangat sama pelukan sama saja, sama-sama hangat." Ibra menyandarkan kepala dibahu Ayleen sambil memejamkan mata. Saat ini, matanya memang terasa sangat berat, ngantuk banget.
"Iya."
"Tubuh juga butuh istirahat."
"Iya."
"Kalau udah sakit gini, malah gak bisa kerjakan? Siapa coba yang rugi, Kakak sendiri."
__ADS_1
"Iya."
"Ish, iya-iya mulu dari tadi," geram Ayleen. Sedangkan Ibra, dia malah tergelak melihat kekasihnya itu kesal. "Gak ada apa, kosakata lain?"
"Lagi pengen denger kamu ngomong, jadi aku iyain aja. Kangen sama suara kamu, Ay."
"Ish, gak jelas," geram Ayleen. "Kangen kok sama suara doang."
"Sama orangnya lebih kangen lagi. Kangen akut pokoknya."
"Lebay," Ayleen menyebikkan bibir.
"Terserah apa kata kamu. Aku memang kangen banget."
Reza yang baru kembali setelah mengejar Delisa, makin lemas melihat 2 sejoli yang lagi pelukan. Dahlah tadi dimaki-maki Delisa, eh...sekarang malah harus nonton live pasangan bucin, gini amat nasibnya.
"Hem hem." Reza sengaja berdehem agak kencang. Berharap pelukan itu akan terurai agar mataya tak sepet. Tapi rupanya sia-sia, jangankan melepaskan pelukannya, geser dikit aja enggak, yang ada Ibra malah makin nempel pada Ayleen. "Leen, mending anter Ibra pulang. Disini gak bakalan bisa istirahat, malah gak sembuh-sembuh nanti." Saran yang dibumbui usiran seraca halus.
__ADS_1