Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 59


__ADS_3

Akhirnya hari yang sangat dinantikan oleh Ibra datang juga. Setelah satu minggu menahan rindu gara-gara ritual menyebalkan yang disebut pingitan, hari ini dia akan bisa kembali menatap wajah pujaan hatinya. Meluapkan rindu yang telah menggunung. Yang membuatnya tak nyenyak tidur dan tak selera makan. Karena selalu terngiang wajah Ayleen.


Dengan badan berbalut beskap warna putih lengkap dengan blangkonnya, mulutnya terus komat-kamit menghafal ikrar ijab kabul. Dia terkekad akan melafalkannya dalam satu tarikan nafas agar terlihat keren dimata Ayleen dan semua undangan. Maka dari itu, dia harus hafal diluar kepala.


Diluar bengkel, teman-temannya terdengar riuh. Ditambah lagi suara seru motor bersahut-sahutan yang membuat lokasi itu menjadi pusat perhatian siapapun yang lewat karena keramaiaanya. Ratusan pria dan wanita dengan pakaian batik serta puluhan motor sport dan mobil yang berjajar dipinggir jalan, menjadi pemandangan yang sangat jarang ditemui.


"Bro, gimana nih, berangkat jam berapa?" tanya Fikri yang masuk kedalam.


"Bentar lagi, nunggu Om Musa sama keluarga lainnya. Mereka masih diperjalanan," sahut Ibra.


"Muka lo tegang banget, nyantai," Fikir menepuk bahu Ibra beberapa kali. "Btw, yang dibawah tegang juga gak?"


"Sialan lo," umpat Ibra sambil melotot. Sementara Fikri, tampak puas menertawakannya.


"Kalau ikut tegang juga gak papa, nanti malam biar dibuat lemes sama Ayleen."

__ADS_1


"Dasar otak jorok." Ibra menempeleng pelan kepala Fikri.


"Keluar aja yuk, gabung ma yang lain," ajak Fikri.


Ibra mengangguk, bersama Fikri, dia keluar dari dalam bengkel. Ibra melongo melihat begitu banyak orang dihalaman bengkelnya. Tak hanya anak joker yang dia kenal, tapi banyak juga yang tidak dia kenal.


"Geng sebelah mau ikutan juga. Gue gak bisa nolak, sorry." Ujar Fikri sambil nyengir dan garuk-garuk kepala.


"Woe, Bro." Bimo, siketua geng motor sebelah berteriak sambil menganggkat tangan. Berjalan menghampiri Ibra setelah kesusahan mencari jalan karena terlalu padat orang. "Gila, si bro Ibrahim udah mau nikah aja." Bimo menonjok pelan lengan Ibra sambil tertawa lebar. "Kita-kita juga gak mau ketinggalan ngenterin dong. Iya gak guys," teriak Bimo sambil menoleh kearah anak buahnya yang rata-rata datang membawa pasangan. Karena itulah, makin banyak saja orang yang datang.


Ibra tak menyangka jika hubungan mereka kembali membaik setelah beberapa waktu lalu, terjadi masalah bahkan pernah sampai bentrok. Setelah kejadian malam dimana Ayleen pingsan dan Ibra yang mendatangi markas Bimo untuk menjual motor, hubungan kedua belah pihak mulai membaik. Meski hari itu, Ibra dihujat habis-habisan saat menjatuhkan harga diri dengan menjual motor pada musuh.


"Makasih ya Bro, atas supportnya buat gue." Ibra ganti meninju pelan bahu Bimo.


"Kita ada kejutan buat lo," ujar Bimo.

__ADS_1


"Apaan?"


"Guys tunjukin," teriak Bimo. Teman-temannya langsung minggir, menunjukan motor milik Ibra yang dulu dibeli Bimo. Motor itu sudah dihias dengan sedikit bunga agar terlihat seperti motor pengantin. "Gue tahu motor itu berarti banget buat lo dan ada nilai historynya. Hari ini gue lagi baik, jadi gue pinjemin buat kendaraan lo ke rumah pempelai wanita."


"Thaks ya, Bro." Ibra memeluk Bimo sambil menepuk bahunya beberapa kali.


"Eist, dari joker juga ada hadiah buat mantan ketuanya," Fikri tak mau kalah.


"Taraaa..." Teriak Reza, Diki dan yang lainnya. Menunjukkan motor matic keluaran baru berwarna hitam.


"Hasil patungan kita-kita. Biar lo gak pakai motor butut lo itu lagi. Ngeri gue, jalannya aja udah kayak kakek reot, takut mogok dijalan," Fikri meledek motor bekas seharga 10 juta yang dibeli Ibra beberapa bulan lalu.


"Makasih banyak." Ibra menyeka air mata sambil memeluk Fikir. "Guys, makasih ya," teriaknya pada anak-anak Joker.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Sebuah mobil mini bus berhenti disebarang bengkel. Ibra tahu jika itu mobil milik Om Musa. Terlihat Om Musa dan keluarga lainnya turun dari mobil. Tapi selain keluarga inti pria itu, dan keluarga Tante Dijah, ada seoang lagi. Pak Yusuf, ya, pria itu ada bersama rombongan Om Musa.

__ADS_1


__ADS_2