Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 56


__ADS_3

Ayleen membenarkan apa yang dikatakan Reza. Selain tak ada ranjang untuk tidur, disini juga bakalan bising nanti saat sudah buka. Yang ada Ibra malah tak bisa istirahat dan gak bakal sembuh.


"Aku anter pulang ya, Kak. Sekalian nanti beli makan, kamu harus minum obat. Masih panas badan kamu." Ayleen bisa merasakan hawa panas yang berasal dari tubuh Ibra. Nafas Ibra yang menyapu kulit lehernya juga terasa panas.


"Terserah kamu aja, Ay."


Ayleen memesan taksi online lalu membawa Ibra pulang keapartemen. Mampir sebentar beli bubur ayam sekalian buat Pak driver nya.


Sesampainya di apartemen, Ayleen mengantar Ibra ke kamar. Membantunya naik keatas ranjang lalu menarik selimut sebatas perutnya. Setelah itu dia kedapur untuk membuat teh hangat serta memindahkan bubur ayam kedalam mangkuk.


"Makan dulu." Ayleen mengguncang pelan bahu Ibra. Cowok itu sudah sempat tertidur tadi. Wajarlah, 2 malam tak tidur, membuat dia ngatuk berat. Sekali mencium aroma bantal, langsung terbang kealam mimpi.


"Ngantuk," sahut Ibra dengan mata tertutup.


"Iya, tapi makan dulu, minum obat terus tidur."


"Tapi aku beneran ngantuk banget, Ay." Ibra merasakan jika kelopak matanya terlalu berat untuk dibuka.


"Aku udah bolos kuliah demi jagain kamu loh. Kalau gak mau nurut, aku tinggal pulang."


"Iya, iya, galak banget sih calon istri." Ibra berusaha membuka matanya lalu duduk. Menyandarkan punggung dikepala ranjang karena tubuhnya masih sangat lemas.


Ayleen menyuruh Ibra minum teh hangat lebih dulu, baru setelah itu menyuapinya.


"Gak enak Ay, hambar."

__ADS_1


"Ya kan kamu sakit, makanya terasa hambar," sahut Ayleen. "Aku gak mau kamu kayak gini lagi. Kerja sewajarnya aja. Jangan sampai gak tidur gara-gara kerja."


"Ya kan aku mau beliin kamu mahar dari uang hasil keringatku sendiri."


"Aku kan udah bilang, aku bakal terima mahar apapun dari kamu." Ayleen meraih sebelah tangan Ibra yang terasa panas lalu menggenggamnya. "Aku gak mau kamu sakit karena aku. Apalagi cuma demi bisa beliian aku cincin berlian."


"Kamu udah gak marah lagi sama aku, Ay?"


"Udahlah, lupain." Sahut Ayleen dengan nada sedikit jengkel. Kalau bahas itu, masih aja kesal.


"Maaf, kita jadwalin prewed lagi ya."


"Gak usah, males."


"Jangan gitu dong."


"Maaf."


"Maaf aja gak bisa bikin maluku hilang. Aku kesel banget sama kamu tahu gak. Kesel, kesel." Ayleen kembali memukuli lengan Ibra.


"Kenapa berhenti?" tanya Ibra saat Ayleen berhenti mukul.


"Capek."


Ibra tak kuasa menahan tawa. Ngantuknya jadi hilang gara-gara jawaban konyol Ayleen.

__ADS_1


"Aku seneng kamu marah-marah sama aku. Ngomel- ngomel, mukul-mukul, aku gak keberatan. Asal jangan didiemin aku, aku gak kuat, Ay." Tangan Ibra terulur menyentuh wajah Ayleen. "Janji, apapun masalahnya, diomongin. Meski sambil ngamuk, teriak-teriak, gak masalah, yang penting ngomong."


"Kamu juga janji, kerja harus inget waktu. Aku gak butuh berlian, cuma butuh kamu."


"Cie...bucin," ledek Ibra sambil terkekeh.


Ayleen tak menyahuti, mengambil sesendok bubur lalu menyuapi Ibra. Setelah beberapa suap, Ibra kembali merasa mual. Segera dia masuk kekamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya. Dibelakangnya, Ayleen dengan setia memijit tengkuknya.


"Kamu ini masuk angin, Kak." Ayleen menuntun Ibra kembali keranjang. Membantunya meminum obat lalu menyelimutinya.


"Ay, peluk dong," pinta Ibra dengan suara pelan karena lemas. Ayleen ragu karena saat ini mereka hanya berdua di kamar. Dan Ibra langsung ngeh tentang apa yang ada dipikiran Ayleen. "Gak bakal aku apa-apain. Mau gerak aja gak ada tenaga, masa iya mau merkosa kamu."


"Ish, ngomongnya kok gitu sih."


"Lha kamu, minta peluk aja gak boleh. Padahal aku kedinginan." Ibra memang terlihat sedikit menggigil kedinginan.


"Bukanya gak boleh, takut ada setan yang bisikin hal-hal gak bener."


"Tenang aja, setannnya gak bakal berani bisikin macem-macem, takut sama aku."


"Gak lucu."


"Bentar doang, sampai aku ketiduran, please."


Ayleen tak kuasa menolak. Apalagi melihat Ibra yang menggigil dan wajahnya pucat, dia jadi kasihan. Dia naik keatas ranjang, masuk kedalam selimut Ibra lalu memeluk cowok itu.

__ADS_1


"Makasih sayang, nyaman banget." Ibra kembali memejamkan mata. Dan tak butuh waktu lama, nafasnya mulai teratur, dia sudah tertidur.


__ADS_2