
Bangun tidur, hal pertama yang dilakukan Ayleen adalah mengecek ponsel. Dan wow, matanya membulat sempurna melihat ratusan pesan serta puluhan panggilan dari Ibra. Semalam dia memang sengaja men-silent ponselnya karena tak mau terganggu.
Dilihat dari waktunya, sepertinya Ibra tak tidur semalaman. Hampir setiap 10 menit sekali, Ibra selalu mengirim spam chat. Dan rata-rata, isinya permintaan maaf.
Belum selesai Ayleen membaca semua pesan tersebut, ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk dari Ibra. Sepertinya pria itu tahu dia sedang online, makanya langsung telepon. Karena masih kesal, tanpa pikir panjang, Ayleen langsung merejecknya.
Karena ada kuliah pagi, Ayleen segera bersiap-siap. Turun kebawah untuk sarapan dengan tas ransel yang sudah sekalian dia bawa.
"Kamu ada masalah sama Ibra?" tanya Mama Nara saat Ayleen membantunya menyiapkan sarapan dimeja makan.
"Gak ada." Sahut Ayleen.
"Kalau gak ada, kenapa kemarin nangis? Dan kemarin, tumben Ibra kesini cuma bentar. Biasanya sebelum waktu berkunjung habis, gak mau pulang."
"Ish, apaan sih Mah, waktu berkunjung, kayak rumah sakit aja," Ayleen memutar kedua bola matanya jengah mendengar istilah tersebut. Rumah ini memang memiliki jam malam. Saat ada teman main, batasnya hanya sampai jam 9. Begitupun kalau keluar malam, jam 9 harus sudah ada dirumah. Telat 5 menit aja, bakalan dapat hukuman, dipotong uang jajan.
"Cie..yang kemarin habis prewed," goda Alfath sambil menyenggol bahu Kakaknya. "Gimana hasilnya, keren gak? Mana coba lihat. Pasti adakan, 1 atau 2 foto ngambil pakai HP Kak Leen." Padahal bangun tidur tadi, melihat ratusan pesan dari Ibra, Ayleen sudah mau luluh, eh Alfath malah bahas prewed, auto kesel lagi sama Ibra.
"Oh iya Mama sampai lupa. Kemarin kalian prewed-kan? Tumben kamu gak bikin status?"
__ADS_1
Ayleen bingung untuk menjawab. Mau bilang batal, rasanya malu sekali.
"Iya, tumben gak nyetatus," Alfath ikut menimpali.
"Emang kamu, dikit-dikit nyetatus, dikit-dikit live," cibir Ayleen.
"Kalau kemarin kalian prewed, kok pulangnya gak bareng? Kalian gak lagi berantem kan?" tebak Mama Nara.
Ayleen menghela nafas berat lalu menjatuhkan bokongnya dikursi makan. "Batal," gumamnya lirih.
"Batal!" Pekik Aydin lumayan kencang. "Kok bisa?"
Setelah sarapan, Ayleen segera pamit. Berangkat ke kampus naik motor sendiri karena Mama Nara hari ini tak ke kampus, dia ada seminar diluar kota, dan akan pergi berdua dengan Ayah Septian.
Baru sampai diparkiran kampus, Ayleen sudah langsung didatangi Ibra. Cowok itu sengaja menunggu didekat gerbang tadi, karena biasanya Ayleen diantar Ayah. Melihat Ayleen bawa motor sendiri, dia langsung mengekor dibelakangnya hingga tempat parkir. Memarkir motornya sembarangan lalu menghampiri Ayleen.
"Ay, maafin aku ya."
Ayleen tak menyahuti apa-apa. Mencentelkan helm lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Ay, please, jangan kayak gini dong." Ibra menarik pergelangan tangan Ayleen tapi langsung dihempaskan oleh cewek itu. Menatap Ibra nyalang dengan bibir mengerucut. "Jangan diemin aku kayak gini. Marah sama aku, maki aku, mukul juga boleh, asal jangan diem. Aku minta maaf soal kemarin, aku salah. Please, ngomong, jangan diemin aku."
"Kenapa kemarin sampai telat?" tanya Ayleen dingin.
"Aku banyak kerjaan, terlalu fokus, sampai gak lihat jam."
Ayleen tersenyum getir mendengar jawaban Ibra. "Fokus aja terus sama kerjaan. Gak usah fokus sama persiapan pernikahan kita." Mata Ayleen mulai berkaca-kaca jika ingat kejadian kemarin. Kenapa kesannya, hanya dia yang antusias mempersiapkan pernikahan. "Kamu itu niat gak sih, mau nikahin aku?" Dia menunjuk dirinya sendiri.
"Astaghfirullah Ay, kok gitu ngomongnya. Ya jelas niatlah, niat banget, nget, nget. Lebih niat dari apapun urusan dunia, bahkan dari skripsi, ngurusin warisan, atau apapun."
"Bohong," ujar Ayleen sambil menyeka air matanya. "Kamu gak seniat itu." Ayleen pergi setelah mengatakan itu. Dan Ibra segera mengejarnya.
"Ay, jangan pergi dulu dong." Ibra menahan pergelangan tangan Ayleen. "Jangan pergi dalam kondisi kita lagi marahan. Kita ngomong dulu, kita clearin masalah kita."
"Lepasin."
"Enggak, kita selesaiin dulu masalah kita."
"Lepas, Kak. Kita udah jadi tontonan," geram Ayleen. Ibra memperhatikan sekitar, dan benar saja, beberapa orang memperhatikan mereka. Dan terpaksa dia melepas tangan Ayleen dan membiarkan gadis itu pergi.
__ADS_1