
"Wah, saya bangga melihat solidaritas kalian yang tinggi. Persahabatan memang harus seperti ini." Ayah Septian tak ingin membahas masalah geng motor mereka. Baik buruknya, biar mereka nilai sendiri saja. Takut salah ngomong yang pada akhirnya melukai hati orang lain. Lebih baik, dia fokus pada acara lamaran saja.
"Ini yang namanya Ayleen?" Om Musa menunjuk ke arah Ayleen.
"Benar sekali, dia putri kami satu-satunya," jawab Ayah sambil merangkul pundak Ayleen.
"Masyaallah, pantesan Ibra ngebet minta nikah, cantik gini anaknya." Pipi Ayleen merona mendengar pujian Om Musa. Setelah basa-basi sebentar, akhirnya Om Musa menyampaikan niat utama kedatangannya, yaitu meminang Ayleen untuk Ibra.
Setelah Om Musa bicara, kini giliran Ibra yang menyampaiakan lamarannya. Pertama-pertama, dia mengucapkan basmalah lalu salam. Dengan bibir sedikit gemetar, dia menyampaikan lamarannya.
"Saya, Ibrahim, ingin melamar putri Bapak yang bernama Ayleen, untuk menjadi istri saya. Izinkan saya menggantikan tugas Bapak untuk menjaga dan menyayanginya. Saya berjanji akan memperlakukan Ayleen dengan baik, menjaga dan menyayangi sebagaimana keluarganya menyayanginya. Mencintainya, hingga maut memisahkan dan dipertemukan kembali di surganya Allah." Sebenarnya sudah banyak kalimat yang dipersiapkan Ibra dari rumah, tapi saat didepan keluarga Ayleen, semuanya langsung ambyar, lupa semua. Sekarang saja, karena nerveous, tubuhnya basah oleh keringat dingin.
Ayleen meremat kebayanya mendengar Ibra melamar langsung dihadapan keluarganya, perasaannya membuncah, antara bahagia dan sedikit gugup.
"Karena yang akan menjalani kehidupan rumah tangga adalah putri saya, Ayleen. Maka yang akan menjawab lamaran Ibra, adalah Ayleen sendiri," ujar sang Ayah. "Bagaimana, Nak?" Ayah Septian menoleh kearah Ayleen. Menggenggam tangannya sebagai bentuk dukungan. Karena apapun keputusan Ayleen, dia orang pertama yang akan selalu mendukungnya.
__ADS_1
Dengan sedikit gemetaran, Ayleen mengangkat wajahnya. Menatap wajah Ibra yang terlihat tegang. Sejujurnya, dia juga sama seperti Ibra, tegang.
"Sa-saya, menerima lamaran Saudara Ibrahim."
"Alhamdulillah," seru mereka semua kompak. Tampak kelegaan diwajah Ibra, begitupun dengan Ayleen.
Sebagai tanda pertunangan, Ibra memberikan kalung untuk Ayleen. Karena tak ada wanita dari pihak Ibra, Mama Nara yang menggantikan untuk memasangkan kalung tersebut dileher jenjang Ayleen.
"Silakan dinikmati hidangannya," ujar tente Shaila. Sedikit mengabaikan rasa malu karena semua hiangannya berasal dari bawaan mereka sendiri. Sambil menikmati hidangan, mereka membicarakan tentang rencana pernikahan. Ayah Septian tak mau mengundur terlalu lama, menurutnya lebih cepat lebih baik agar tak sampai terjadi sesuatu diluar kendali. Semakin cepat mereka halal, akan semakin mengurangi dosa karena pacaran. Dan akhirnya, diputuskan jika 2 bulan lagi mereka akan menikah. Untuk ada atau tidaknya pesta, belum dibicarakan.
"Karena saya kita apa yang kita bahas sudah selesai, kami ingin pamit undur diri," ujar Om Musa.
"Tunggu dulu, tunggu sebentar," tahan Mama Nara. Dia tak mau mereka pulang tanpa jamuan makan. Bisa-bisa dia dighibahin satu kampus gara-gara ini. Dia tak sanggup menanggung malu itu. "Sebentar," dia pergi kebelakang untuk menelepon Aydin.
Tapi panggilannnya tak juga diangkat, bikin geram saja. Sampai terdengar suara ketokan bersahut sahutan dari luar rumah.
__ADS_1
Mama Nara kembali keruang tamu, bersamaan dengan Alfath dan Aydin datang.
"Permisi semuanya, jamuan makannya outdoor, jadi silakan dinikmati diluar," ujar Aydin. Mereka semua lalu keluar, begitupun dengan keluarga Ayleen. Dan ternyata diluar sudah ada bakso, mie ayam, soto, siomay, cilok, seblak, batagor, es teh, es boba, es campur, sampai es krim. Karena dihalaman sudah penuh dibuat parkir motor sport, para pedagang itu berjejer dipinggir jalan.
Anak-anak joker langsung menyerbu makanan tersebut. Tak pelak vibes nya udah kayak pasar pindah. Sampai-sampai tetangga pada keluar.
"Ada acara apa ini, Bu Nara?" tanya Bu Salih, tetangga sebelah.
"Acara lamarannya Leen, Bu."
"Kok gak ngomong-ngomong kalau Leen lamaran."
Mama Nara hanya tersenyum absurd sambil garuk-garuk kepala. "Silakan ikutan dinikmati makanannnya, Bu, Pak." Ujar Mama Nara kepada para tetangganya.
Karena sekarang jamuannya tak hanya terbatas untuk anak joker sekitar 100 orang, melainkan untuk tetangga sekomplek juga, Ayah Septian menyuruh Aydin dan Alfath pergi lagi untuk memanggil pedangan kaki lima. Benar-benar sudah kayak pasar depan rumah mereka.
__ADS_1