
Mama Nara auto panik melihat banyaknya tamu yang datang. Puluhan motor sport berjejer rapi dihalaman rumahnya yang memang luas. Itupun tak mampu menampung semuanya, karena sebagian motor diparkir diluar rumah.
Jika biasanya anak joker selalu memakai jaket kebanggaan mereka, hari ini seragamnya auto ganti, semua memakai batik. Tak ada satupun perempuan diantara mereka, Ibra memang tak mengizinkan angggota joker membawa cewek.
"Yah, gimana ini, makanannya gak ada," Mama Nara memutar otaknya, mencari solusi.
"Kita pesen delivery aja," sahut Ayah Septian.
"Delivery lama, ini yang buat hidangan aja gak ada. Cuma ada brownis sepiring, puding caramel, sama onde-onde." Mama Nara terus menarik narik lengan suaminya. Kakinya tak bisa diam saking paniknya.
Alfath mengernyitkan dahi melihat wajah pias mamanya. "Mama ngapain panik gitu sih, mereka kan mahasiswa Mama. Anggap aja ini sedang dikelas, gak usah panik. Masa menghadapi mahasiswanya sendiri panik?"
Plakkk
"Aduh!" Pekik Alfath saat lengannya jadi sasaran kemarahan mamanya.
"Ngerti apa kamu bocah," pekik Mama Nara tertahan.
"Biar aku aja yang nyari makanan diluar," ujar Om Diego yang tiba-tiba saja sudah ada dibelakang Ayah dan Mama Nara.
"Enggak, kamu disini aja." Ayah Septian menahan lengan adik iparnya itu. "Temenin aku terima tamu. Segitu banyak orang, gak mungkin aku sendirian saja. Biar Aydin sama Alfath aja yang nyari makanan. Kamu sama Shaila, temenin aku sama Nara." Jujur saja, Ayah Septian juga sedikit nerves. Ini diluar dugaannya.
__ADS_1
Dengan senyum yang lebar, Mama Nara, Ayah Septian, Diego dan Shaila berjejer didepan pintu, menyambut para tamu.
Tamu yang kesemuanya cowok dan rata-rata tampan itu, membuat Alfath masih ingin melihat, dia bahkan melakukan live di IG, mengabaikan ajakan Aydin untuk keluar nyari makanan.
Alfath berdecak kagum saat para cowok berbaju batik itu mulai berjalan kearah teras rumahnya. Tak ada yang datang dengan tangan kosong. Semuanya membawa kotak yang entah apa isinya, tapi sepertinya makanan. Dibarisan paling depan, ada Ibra dan pamannya.
"Silakan masuk," Ayah Septian menyalami sambil mempersilakan.
"Gila guys, lihat nih, iring iringan cogan dateng kerumah gue buat ngelamar Kakak gue." Alfath masih saja terus melakukan live. "Kakak gue emang secantik itu, sampai yang datang ngelamar, ratusan cogan. Wow....ciwi-ciwi, jangan pada ngiri ya, nganan aja. Yang itu, yang paling ganteng, calon kakak ipar gue." Alfath mengzoom wajah Ibra.
"Al, buruan," Aydin menarik lengannya hingga ponsel yang dipegang Alfath goyang. "Ayo kita nyari makan."
"Hais, bentar Bang," Alfath makin semangat saat yang menonton live nya makin banyak. "Besok bakalan viral acara lamarannya Kak Leen." Alfath makin maju, berdiri disamping Mamanya, ikut jadi terima tamu. Tentu saja dengan status masih live. "Say hay dong," ujar Alfath pada cowok-cowok yang baru dia salami. Tahu sedang ada live, mereka langsung menyapa.
Mereka semua bersalaman dengan tuan rumah lalu masuk. Tapi saat ada didalam, bingung harus duduk dimana. Tak ada karpet yang digelar. Tak mungkin mereka akan duduk disofa yang hanya mampu menampung beberapa orang saja itu.
Aydin yang paling dekat pintu, pertama kali menyadari hal itu. "Mah, mereka mau duduk dimana?" bisiknya ditelinga sang Mama.
Mama Nara langsung tepuk jidat, kakinya terasa lemas, untung gak pingsan. Om Diego langsung ambil langkah cepat masuk kedalam rumah.
"Maaf sebelumnya. Sepertinya terjadi miss komunikasi, yang katanya hanya 2 orang yang akan datang. Jadi kami tak ada persiapan. Sekali lagi mohon maaf," ujar Om Diego.
__ADS_1
"Tidak masalah, Pak." Ujar Pak Musa, paman Ibra. "Ibra yang salah, tidak konfirmasi lebih dulu. Kami yang harusnya minta maaf."
"Tunggu sebentar, biar kamu keluarkan sofanya dulu," ujar Ayah Septian. Dia lalu memanggil Alfath dan Aydin agar membantunya.
"Biar kamu saja Om yang melakukan," ujar Fikri. Saat ini, yang menjadi ketua Joker menggantikan Ibra adalah Fikri.
Tak perlu disuruh lagi, mereka lalu bekerja sama mengeluarkan sofa, setelah itu menggelar karpet yang diambilkan Bi Marni dari dalam. Mama Nara dan Tante Shaila membawa masuk barang bawaan mereka. Karena semua berisi kue, langsung saja ditata dipiring dan digunakan untuk suguhan. Alfath dan Aydin sudah keluar untuk mencari makanan.
Setelah situasi terkondisikan, Mama Nara baru bisa bernafas lega. Dia lalu membawa Ayleen kedepan. Gadis itu duduk ditengah antara Ayah dan Mamanya.
Ibra tak henti-hentinya tersenyum sambil melihat Ayleen. Pujaan hatinya itu tampak begitu cantik dengan balutan kebaya warna pink. Begitupun dengan Ibra, pria itu sangat tampan dengan kemeja batik lengan panjangnya. Beberapa kali mereka sempat berada pandang, hingga membuat jantung keduanya berdebar kencang.
Ayah Septian mulai membuka obrolan, mengucapkan salam dan berterimakasih atas kedatangan mereka semua. Dan Om Musa yang paling tua diantara rombongan Ibra, berbicara sebagai wakil dari Ibra.
"Sebelumnya, kami mohon maaf karena agak telat. Kirain cuma cewek saja yang dandannya lama, ternyata meski bawa rombongan cowok, mereka dandannya juga lama." Perkataan Paman Ibra itu langsung disambut tawa oleh semua orang.
"Saya selaku Paman Ibra, mewakili keluarga besar untuk meminta maaf sebesar-besarnya pada keluarga Ayleen. Karena hanya saya sendiri yang bisa hadir diacara ini," lanjut Om Musa dengan sedikit rasa malu. Kalau saja anak joker tak ikut serta, dia pasti akan lebih malu lagi.
"Hanya Pak Musa sendiri gimana, orang banyak gini," sahut Ayah Septian. "Kalian ini juga keluarga Ibra kan?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan keselurhluh tamu.
"Benar Om," sahut mereka kompak. "Kami semua keluarga."
__ADS_1
"Kami anak Joker, adalah 1 keluarga," ujar Fikri sebagai ketua. "Meski Ibra sudah menyatakan keluar dari geng joker, bagi kami, sekali anggota tetap anggota, tetap keluarga. Namun begitu, kami tetap menghargai keputusan Ibra yang sudah tak mau lagi ikut dalam kegiatan geng motor kami. Tapi dia tetap saudara bagi kami."
Ibra tak kuasa menahan haru, matanya memanas mendengar perkataan teman-temannya. Beruntung disaat keluarga membuangnya, masih ada joker yang selalu ada untuknya.