
Beberapa hari yang lalu, Ibra sempat browsing WO di internet. Paket pernikahan yang ditawarkan beragam, dan tak ada yang murah, setidaknya itu menurutnya yang memang saat ini tak punya uang. Seluruh uangnya sudah habis untuk buka bengkel.
"Kamu pengen konsep pernikahan yang kayak apa?" Ibra iseng bertanya. Meski tak ada uang, dia pasti akan mengusahakan demi mewujudkan pernikahan impian Ayleen.
"Aku tidak terlalu memikirkan itu," Ayleen tahu jika saat ini, Ibra tidak memiliki uang. "Bagiku, yang penting sah dimata hukum dan agama."
"Mahar, apa mahar yang kamu inginkan?"
"Apapun yang diberika Kakak akan aku terima."
Ibra menggeleng cepat, tak setuju dengan kalimat Ayleen barusan. "Kamu berhak meminta mahar sesuai yang kamu mau." Ibra menatap Ayleen sambil memegang kedua bahunya. "Kamu perempuan terhormat, wanita yang sangat berharga. Mintalah mahar yang sesuai dengan diri kamu yang mahal."
"Makasih karena manganggap aku mahal dan berharga," sahut Ayleen sambil tersenyum.
"Kamu sangat berharga buat aku. Mintalah mahar sesuai diri kamu."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu, aku mau mahar satu set berlian." Ibra auto bengong mendengar mahar yang diinginkan Ayleen. Harga cincin berlian dengan kualiatas bagus bisa mencapai puluhan juta, kalau satu set? Sebenarnya tidaklah mahal sangat bagi orang berduit, tapi bagi dia yang kondisi keuangannya sedang berada dimusim kemarau dan belum tahu kapan hujannya, jelas terasa mahal. "Kenapa bengong gitu?"
"Boleh gak, dicicil cincinnya dulu?" tanyanya sambil garuk-garuk kepala.
"Katanya aku mahal, berharga, tapi kok ditawar? Apa bedanya sama cabe dipasar?" ujar Ayleen sambil memutar kedua bola matanya malas.
"Iya, iya, aku usahain." Ibra menarik gemas bibir Ayleen yang sedang cemberut.
"Aku hanya becanda kok," Ayleen lalu tertawa. "Mahar itu bukan harga wanita, karena wanita bukan hal yang diperjual belikan. Sebaik-baik perempuan, adalah yang ringan maharnya."
"Gombal aja terus," Ayleen menyebikkan bibir. Kaduanya sama-sama tertawa lalu meminum es coklat. "Kak, apa kamu gak kepikiran buat ngurus soal warisan?"
Ibra langsung menatap Ayleen saat disinggung soal warisan. "Jangan salah faham," ujar Ayleen cepat. "Aku bukannya menginginkan warisan kamu, sumpah, enggak sama sekali. Tapi aku hanya ingin kamu mendapatkan apa yang menjadi hak kamu. Apa menurut Kakak, alm. Ibu kakak akan rela jika hartanya dihabiskan si Ratna itu?" Ayleen sampai malas memberi embel-embel tante saat menyebut ibu tiri Ibra.
Ibra terdiam beberapa saat, dalam hati membenarkan apa yang dikatakan Ayleen. Dia memang tak terlalu mau pusing urusan warisan. Baginya, harta yang dia dapat dari keringat sendiri, itu jauh lebih bagus. Tapi jika harta ibunya menjadi milik Ratna, dia juga tidak rela.
__ADS_1
"Kalaupun Kakak tidak menginginkan harta itu, bisa disedekahkan atas nama ibu, Kakak. Aku rasa itu jauh lebih baik dari pada diambil ayah dan ibu tiri kamu. Akan lebih banyak manfaatnya jika disedekahkan di panti asuhan, organisasi kemanusiaan, atau bahkan disumbangkan untuk pada penderita kanker yang membutuhkan. Semua itu akan mendatangkan pahala untuk almarhumah."
"Kau benar, Ay." Ibra melihat kearah Ayleen. "Kenapa aku tidak kepikiran kesana. Aku hanya mikir mempertahankan rumah. Sedangkan ibuku masih punya banyak harta lainnya, termasuk tanah dan saham diperusahaan. Aku tak pernah memikirkan itu karena tak ada niat untuk bekerja diperusahaan, aku tidak suka pekerjaan seperti itu."
Ayleen juga tidak akan memaksa Ibra bekerja kantoran karena sama sepertinya, tak suka pekerjaan seperti itu. Karena bekerja itu tak melulu demi uang, tapi juga butuh kenyamanan. Ayahnya sudah membuktikan, bisa sukses meski tak kerja kantoran. Meski punya ijazah S1, tak berarti harus kesana kemari untuk melamar kerja, tapi bisa juga membuka lapangan pekerjaan. Bahkan saat ini, penghasilan ayahnya jauh lebih besar dari mamanya yang punya jabatan dikampus.
"Apa ada saudara yang bisa bantu urus tentang itu? Kalau tidak ada, bisa minta bantuan orang yang ngerti hukum, biar cepat selesai."
"Ibuku anak tunggal, tapi aku ada paman, dia adik ayahku."
"Kakak yakin dia mau bantu? Dia dari pihak ayah kamu loh?" Ayleen ragu.
"Dia orangnya baik, aku yakin mau bantu. Dia juga salah satu orang yang nentang pernikahan Ayah dan Ratna. Dia bekerja di kantor Kejaksaan Negeri. Aku yakin dia punya banyak kenalan orang-orang yang ngerti hukum. Akan segera aku urus semuanya."
"Kalau gak salah, bagian suami itu hanya seperempat, sisanya bagian anak." Ayleen bukan orang hukum dan tak terlalu mengerti. Jadi dia hanya mengatakan sesuai yang pernah dia dengar saja.
__ADS_1