Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 79


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Ayleen tak bicara sama sekali. Dia yang duduk dibangku depan, sebelah Ibra, dari tadi hanya sibuk melihat ke jendela. Menghitung deretan toko seperti kurang kerjaan daripada sakit hati teringat dibohongi.


Beberapa kali Ibra menoleh kearah Ayleen, merasa ada yang beda dengan istrinya tersebut. Tak biasanya Ayleen hanya diam seperti ini saat didalam mobil.


"Mau mampir makan dulu gak?" Sengaja Ibra bertanya, ingin melihat seperti apa respon Ayleen.


"Haula mau ayam goleng," jawab Haura, yang duduk dibelakang bersama Mbak Santi.


"Sayang, kamu mau ayam goreng juga? Atau pengen apa? Haura pengen ayam goreng tuh?" Alih-alih dapat sahutan, Ibra malah dikacangin. Membuat pria itu menghela nafas berat lalu meraih tangan Ayleen. Menggenggam jemarinya sampai siempunya tangan menoleh. Tapi tatapannya sangat datar, tak ada senyum sama sekali.


"Ada apa?" Ayleen malah balik nanya.


"Kamu ngelamun dari tadi? Ada apa sih?"


"Gak ada apa-apa," bohong Ayleen.


Ibra membuang nafas kasar, yakin jika pasti ada sesuatu dibalik sikap Ayleen yang mendadak berubah.


"Haura pengen makan ayam goreng? Kamu mau juga gak?"

__ADS_1


"Aku terserah aja." Ayleen menarik tangannya hingga lepas dari genggaman Ibra. Kembali melihat kearah jendela dan diam seribu bahasa.


Sasampainya direstoran ayam goreng, Ibra makin yakin jika ada sesuatu. Ayleen hanya diam sembari makan. Bahkan saat dia sengaja iseng mengambil ayam dipiring Ayleen, wanita itu tak merespon apapun. Padahal Ibra rindu rengekan manja serta omelan istrinya itu.


"Kamu ada apa sih?" Ibra menahan pergelangan tangan Ayleen yang hendak masuk kedalam mobil. Haura dan Mbak Santi sudah masuk lebih dulu. Setelah makan, mereka memang langsung pulang.


"Gak ada apa-apa," sahut Ayleen datar.


"Kalau gak ada apa-apa, kenapa diem dari tadi."


"Sakit gigi," jawab Ayleen random.


Ayleen melepaskan tangannya dari cekalan Ibra. "Dokternya gak ada, lagi pacaran." Dia membuka pintu lalu masuk.


Brakkk


Membanting pintu lumayan keras sampai Ibra mengelus dada. Sumpah, wanitanya itu sungguh bikin pusing hari ini.


Mulut Haura menganga lebar dan matanya membulat melihat kamarnya. Kamar yang dulunya biasanya saja, sekarang berubah bak kamar seorang princess. Ayleen dan Ibra mengubah interior kamar Haura. Memberikan sentuhan bernuansa princess agar adiknya tersebut senang dan lupa akan kesedihannya.

__ADS_1


"Haura seneng gak?" tanya Ayleen. Mengubah interior kamar Haura memanglah idenya. Kalau Ibra, boro-boro dia punya ide seperti ini.


Haura mengangguk cepat, berjalan melihat-lihat kamar barunya dengan penuh antusias, termasuk melihat bagian kamar mandinya.


Namun foto kedua orang tuanya yang ada diatas nakas, membuat raut bahagia gadis kecil itu seketika berubah. Dia terduduk diatas ranjang, menatap foto kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.


"Besok, kita ke makam Papa dan Mama," ujar Ayleen yang saat ini duduk disebelahnya. Dirangkulnya bahu Haura sambil mencium puncak kepalanya. Siapapun yang melihat, pasti tahu jika Ayleen tulus menyayangi Haura.


"Sayang, aku ke bengkel bentar ya. Ada sales spare part yang mau dateng. Siapa tahu nanti ada penawaran dengan harga miring Aku pergi dulu ya." Pamit Ibra setelah membaca pesan dari Reza.


"Hem," Ayleen hanya menjawab dengan deheman, bahkan tanpa melihat kearah Ibra. Seolah apa yang dikatakan Ibra tadi tidaklah penting sama sekali.


Ibra mengecup kening Haura, setelah itu ganti kening Ayleen. Mau tidak mau, Ayleen jadi mencium tangannya.


"Mau nitip sesuatu gak?" tawar Ibra.


"Nitip setia aja," jawab Ayleen sekenanya.


"Hah," mulut Ibra reflek menganga.

__ADS_1


"Udah sana pergi," Ayleen membalikkan badan Ibra kearah pintu sambil sedikit mendorongnya.


__ADS_2