
Saat ini Asena sedang berdiri di depan teras rumahnya, perempuan itu menatap ke arah sinar mentari yang mulai tergantikan dengan cahaya rembulan. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam tetapi perempuan tangguhnya itu masih juga belum pulang dari bekerja hal itu membuat Asena merasa tidak tenang. Asena mondar-mandir kesana-kemari dengan langkah yang tertatih-tatih rasa nyeri di bagian kakinya tidak perempuan itu pedulikan sehingga membuat kakinya nampak bengkak sekarang.
"Ini sudah pukul 08.00 malam, tetapi Mama tidak kunjung datang apakah terjadi sesuatu padanya?" tanya Asena pada dirinya sendiri. Asena mulai membayangkan jikalau Mamanya mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Asena buru-buru memukul kepalanya supaya ia sadar dengan apa yang barusan dia pikirkan, seharusnya Asena mendoakan Mamanya baik-baik saja dan bukan malah membayangkan hal mengerikan seperti itu.
Kedua bola mata Asena berbinar dengan bahagia ketika melihat perempuan paruh baya itu melangkah menghampirinya. Sima tersenyum manis menatap ke arah putrinya, perempuan itu menyembunyikan rasa pusing di bagian kepalanya. Asena tidak boleh tahu jika iya telah melewatkan makan siang dan juga makan malam, ya itulah hukuman yang telah Yesi berikan padanya.
Yesi meminta pada Sima untuk tidak mengambil makanan dari rumahnya bahkan perempuan kejam itu juga memberikan begitu banyak pekerjaan kepada Sima, tubuh renta itu seakan tak sanggup lagi bekerja di siang hari namun, bayangan Asena yang terus menitihkan air mata membuat Sima bertekad menyelesaikan pekerjaannya hingga kini ia bisa menjejakkan kakinya di rumah dengan penuh perjuangan.
"Sayang kenapa kamu berada di teras rumah? Lihatlah kakimu terlihat bengkak seperti ini," pekik Sima yang justru mengkhawatirkan putrinya dan mengabaikan rasa sakitnya sendiri.
"Asena menunggu Mama sejak dari tadi, jika saja kaki Asena tidak sakit maka sudah Asena samperin ke tempat kerja Mama," kata Asena dengan memeluk namanya. Asena merasakan tubuh perempuan yang ia sayangi bergetar, buru-buru Asena melepaskan pelukannya lalu mengamati wajah Mamanya yang nampak pucat.
"Ayo kita masuk sekarang dan Mama akan memberikan minyak gosok ke kakimu supaya tidak semakin bengkak," kata Sima. Mati-matian Sima menahan rasa lelahnya di hadapan Asena sebab tak ingin sang putri merasa cemas.
"Kenapa wajah Mama nampak pucat? Apakah Mama sakit sekarang?" tanya Asena tak menjawab ucapan Mamanya justru malah memberikan pertanyaan.
"Mama hanya merasa lelah saja," jawab Sima berdusta. Semesta seakan tidak mendukung kebohongan yang Asena katakan dan perutnya yang sejak tadi siang belum diisi mulai berbunyi membuat arah pandang Asena menatap ke arah Mamanya dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Apakah Mama belum makan malam?" tanya Asena.
"Tentu saja sudah, mana mungkin Mama melewatkan makan malam ketika bekerja," bucuk Sima yang tidak ingin putrinya merasa khawatir dengan kondisinya sekarang.
"Mama jangan berbohong kepada Asena. Apakah majikan Mama melarang Mama untuk makan?" tanya Asena dengan rahang yang mulai mengeras menahan amarah.
"Mana mungkin hal itu terjadi, majikan Mama itu sangat baik sekali jadi kamu tak perlu memikirkan hal semacam itu. Memfitnah orang lain itu tidak baik, Mama tidak pernah mengajarkan itu padamu, Asena. Sekarang ayo kita masuk ke dalam dan Mama akan memberikan minyak gosok pada kakimu supaya lekas sembuh," sambung Sima mencoba untuk mengalihkan perhatian putrinya.
"Asena akan temani Mama makan terlebih dulu baru mengobati kaki Asena." Tanpa menunggu jawaban dari Sima, Asena melenggang masuk ke dalam rumah dengan langkah yang tertatih-tatih. Sima mengikuti langkah putrinya kemudian mengangkat tangan Asena dan menaruh di pundaknya.
***
"Aku baru saja sampai, apakah kamu masih belum bisa bekerja hari ini?" tanya Nana balik dari seberang sana.
"Kakiku masih terasa nyeri sepertinya besok aku baru bisa bekerja," jawab Asena jujur. "bisa tolong mintakan izin supaya aku masuk kerja besok saja dan jikalau tidak boleh maka aku akan memaksa berangkat bekerja sekarang mumpung masih belum terlambat," sambung Asena.
"Kalau begitu aku akan memintakan izin untukmu, aku akhiri dulu panggilan teleponnya dan nanti akan aku kirim jawabannya melalui pesan singkat," Kata Nana.
__ADS_1
"Baiklah Nana, terima kasih. Kau memang sahabatku yang bisa diandalkan," kata Asena kemudian mengakhiri panggilan telepon mereka.
Asena mulai menarik punggungnya dari sandaran ranjang kemudian memperhatikan kakinya yang mulai perlahan pulih, bahkan minyak gosok yang semalam diberikan oleh mamanya cukup ampuh sekali untuk menghilangkan bengkak pada lukanya.
Jika mengingat tentang sang Mama membuat hati Asena merasa pilu sekali. Hari sebenarnya apa yang terjadi di tempat kerja sehingga mamanya pulang dalam keadaan lapar dan juga wajah yang pucat? Sebanyak apapun Asena mencoba untuk menebak namun, tetap saja ia tak akan bisa mendapatkan jawaban.
Asena meraih ponselnya yang bergetar kemudian membuka pesan singkat dari Nana yang mengatakan jikalau dia boleh masuk bekerja Setelah sembuh. Asena pun berasa sangat lega sekali karena ternyata majikan barunya sangat baik dan juga pengertian.
Di tempat lain.
Setelah pulang bekerja Sima mampir ke rumah sakit untuk melihat kondisi suaminya. Saat ini perempuan paruh baya itu sedang duduk di kursi dengan manik mata menatap ke arah seorang lelaki yang sedang terbaring di atas ranjang.
"Kau pasti sangat senang melihat kondisiku yang seperti ini," maki Cem dengan kata-kata kasar pada Sima.
"Untuk apa aku merasa senang? Tetapi aku sangat bersyukur sekali karena tak perlu membayar biaya rumah sakit," kata Sima jujur dan apa adanya. Sima tidak perduli jikalau lelaki yang di hadapannya ini akan marah karena untuk sementara waktu Cem tidak akan bisa berjalan dengan normal, sebab para pengawal Tuan Altair kemarin mematahkan salah satu kakinya. Mungkin itu memang yang terbaik untuk lelaki yang suka mabuk dan juga berjudi ini karena setidaknya ia tak akan mencari masalah dalam waktu dekat.
Cem hendak menarik tubuhnya dari atas ranjang pasien untuk menghajar perempuan kurang ajar yang ada dihadapannya sekarang, tetapi baru bergerak sedikit saja Cem sudah memekik kesakitan ketika merasakan lengannya berdenyut nyeri, ya, lengan tangan Cem juga patah dengan wajah yang sudah babak belur.
__ADS_1
"Berani kau katakan hal buruk tentangku, kau akan tahu akibatnya Sima," kata Cem dengan penuh ancaman yang tidak bisa Sima abaikan begitu saja. Hal itu terlihat dengan sangat jelas dari kedua tangan Sima yang mulai mengeluarkan keringat dingin dengan tubuh yang gemetar.
Cem menarik salah satu senyuman devil nya. Bisa dibilang ia menjadi lelaki yang beruntung di dunia ini hanya karena menutupi satu masalah Cem bisa memperdaya istrinya untuk memberikan banyak uang padanya tanpa harus bekerja.