Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Bantuan Tuan Altair


__ADS_3

Setelah memastikan jika itu adalah Asena. Tuan Altair langsung mendorong kedua perempuan yang ada di pangkuannya. Tuan Altair beranjak berdiri kemudian langsung menghampiri Asena yang masih coba di jamah oleh kedua lelaki hidung belakang yang ada di dekat perempuan itu.


“Tuan, Anda mau kemana?” tanya salah satu perempuan yang tadi menemani Tuan Altair.


“Kami akan melakukan apapun untuk menyenangkan Tuan,” ujar perempuan lainnya memohon dengan gelagat manja.


“Enyah dari dunia ini! Perintah Tuan Altair. Kedua perempuan itu langsung membeku di posisi mereka.


“Pergilah! Atau hal itu akan terjadi,” ujar Lan mencoba untuk memperingati kedua perempuan pekerja club malam ini.


Di sisi lain.


Asena mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman kedua lelaki mesum ini. Tapi ia tak bisa melakukan banyak hal, karena kedua lelaki ini terus saja memeluknya dengan begitu menjijikkan. Asena mengedarkan pandangannya ke sekitar dan secercah harapan mulai berbinar nyata dari kedua pancaran manik mata indah yang kini sudah diselimuti dengan bulir bening. Asena melihat Tuan Altair, Lan dan juga beberapa lelaki bertubuh kekar sedang melangkah menuju mejanya.

__ADS_1


“Tu-tuan Altair, tolong saya,” pinta Asena hendak beranjak berdiri tapi kedua lelaki sialan ini kembali menahan tubuhnya hingga kembali duduk di pangkuan kedua lelaki jahanam ini.


“Sayang, malam ini kau menjadi milik kami jadi jangan coba-coba untuk kabur karena kami telah membayar mahal,” ujar kedua lelaki mesum itu saling bersahutan dengan tangan yang masih mencoba merayapi tubuh Asena.


Melihat akan hal itu kedua mata Tuan Altair mulai nampak gela dengan rahang yang sudah berkedut tanda jika emosi lelaki ini mulai tersulut melihat Asena di sentuh oleh lelaki lain.


Tanpa bicara Tuan Altair langsung menarik tangan Asena kemudian memeluk pinggang perempuan itu dengan posesif.


“Berani sekali kamu mengambil perempuan yang telah kami sewa malam ini,” ujar seorang lelaki.


“Berani sekali aklan menyentuh perempuanku! Lan lakukan yang seharusnya!” titah Tuan Altair sembari melirik ke arah Lan menggunakan ekor matanya.


“Baik Tuan,” jawab Lan patuh.

__ADS_1


Tuan Altair melepaskan jas hitam yang ia kenakan kemudian menutupi tubuh Asena. Tuan Altair memeluk Asena dan membawa perempuan itu keluar dari ruangan ini. Entah mengapa melihat kedatangan Tuan Altair, Asena merasa begitu tenang sekali. Asena mulai menyandarkan kepalanya di bahu Tuan Altair dengan memejamkan matanya. Tuan Altair melirik ke arah Asena yang memejamkan mata dan tanpa disangka lelaki itu menundukkan sedikit tubuhnya kemudian membopong Asena mirip sepeti anak kecil.


Asena membuka matanya kaget dengan sikap spontan Tuan Altair. “tuan, turunkan saya,” pinta Asena.


“Diam, atau akau akan mengembalikan kamu pada kedua lelaki itu,” tukas Tuan Altair.


“Ja-jangan,” kata Asena kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang Tuan Altair.


Terdengar permintaan maaf dari kedua lelaki yang tadi mencoba untuk menjamah Tubuh Asena, tapi Tuan Altair tak pernah menarik kembali perintahnya kecuali waktu itu-waktu Asena memintanya.


“Berani sekali kau menjual diri di tempat seperti ini! Ketika dihadapan ku kau terlihat jual mahal,” kata Tuan Altair dengan mendudukkan tubuh Asena di dalam mobil. Suara Tuan Altair terdengar begitu geram dan juga penuh emosi, tapi sikap lelaki itu pada Asena justru terlihat sebaliknya.


Asena melihat ke arah Tuan Altair yang masih menatapnya seakan lelaki itu sedang menunggu jawaban darinya

__ADS_1


“Mana mungkin saya melakukan itu! Cem yang melakukannya setelah ia keluar dari rumah sakit,” jawab Asena jujur.


__ADS_2