
Asena dan juga Tuan Altair baru saja sampai di kediaman Zevana, para pengawal langsung berjejer rapi di hadapan mereka berdua dengan kepala yang tertunduk.
"Bagaimana dengan kondisi kedua perempuan itu?" tanya Asena dengan wajah datarnya. lambat-laun sikap Tuan Altair mulai teduh kepada Asena termasuk juga air muka datarnya mulai melebur dengan perlahan.
Semua pengawal Tuan Altair sudah tahu jika perempuan yang ada di hadapan mereka adalah Nona muda mereka yang merupakan istri Tuan Altair. Jadi semua orang harus menuruti perintahnya tanpa terkecuali.
"Kami mengawasi mereka berdua dari rekaman CCTV dan jika dilihat dari tingkahnya beberapa hari ini Nona Yessi sepertinya telah kehilangan akalnya karena rasa bersalah," lapor pengawal tersebut dengan kepala yang masih tertunduk. "kedua perempuan itu juga terlihat begitu lemah sekali hingga tak sanggup berdiri, mungkin karena selama beberapa hari ini keduanya tidak mengkonsumsi makanan apapun kecuali hanya air kran yang ada di dalam kamar mandi mereka," sambung pengawal itu lanjut melaporkan. Di dalam ruangan Yessi dan juga Zevana berada ada kamera pengawal jadi tak heran jika setiap gerak-gerik mereka selalu diketahui oleh pengawal yang bertugas untuk menjaga kamera pengawas.
Saat ini Asena menatap ke arah Tuan Altair yang berdiri di sampingnya kemudian perempuan itu berkata, "Sa-sayang bolehkah jika aku menemui mereka?" tanya Asena meminta izin pada suaminya. Asena masih belum terbiasa memanggil Tuan Altair dengan sebutan itu, jadi lidahnya terasa kaku. Nanti lama kelamaan juga akan terbiasa sendiri.
"Bersama denganku," jawab Tuan Altair mulai posesif dan Asena langsung menganggukkan kepalanya setuju.
"Buka pintu ruangan mereka! Tiga penjaga berdiri di belakang kedua perempuan itu dan ikat kedua tangan mereka ke belakang sebelum kami masuk!" titah Tuan Altair. Tuan alttair tak akan memberikan celah bagi siapapun untuk mencoba menyakiti istrinya.
Asisten Lan menuju ke arah tiga lelaki bertubuh kekar yang ia perintahkan untuk mematuhi keinginan Tuan Altair.
Di tempat lain.
Saat ini Yessi dan juga Zevana sedang berbaring di atas ranjang dengan tubuh yang lemah bahkan bisa diartikan jika kedua perempuan itu sudah siap didatangi oleh malaikat maut. Di dalam ruangan yang terlihat gelap ini tak ada setitik pun cahaya. Yessi maupun Zevana tidak bisa membedakan siang dan juga malam sungguh mirip sekali ketika mereka bisa melihat namun tak bisa menggunakan kedua matanya untuk menikmati kehidupan setelah terkurung di dalam ruangan kamar ini.
__ADS_1
Zevana menatap ke arah pintu ketika ia mendengar suara dari arah pintu tersebut dan selang beberapa waktu seseorang mulai masuk ke dalam ruangan ini, setelah itu lampu di dalam ruangan ini mulai menyala dan penutup yang ada di depan jendela juga mulai terbuka hingga nampaklah mentari mulai menjamah ruangan ini.
Yessi mulai mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau cahaya mentari. Yessi merangkak menuju ke jendela lalu menempelkan wajahnya pada kaca jendela tersebut seakan ingin menikmati hangatnya mentari di luar ruangan ini. Yessi benar-benar sudah kehilangan akal, ya sehingga ketika Asena dan juga Tuan Altair masuk ke dalam ruangan ini perempuan itu tak memperdulikannya bahkan ketika salah satu pengawal mengikat kedua tangannya ke belakang punggung. Pun Yessi tidak perduli dan hanya sibuk dengan dunianya sendiri, tapi berbeda dengan Zevana yang langsung melihat ke arah Asena tajam dan juga membunuh.
"Kenapa kau datang kemari? apakah kau ingin mengecek kami masih hidup atau sudah mati," kata Zevana dengan suara yang masih terlihat angkuh dan juga arogan.
"Mati itu terlalu mudah untukmu Zevana! Dan aku juga tidak bermaksud untuk memberikan hukuman ringan semacam itu padamu," dengan seringai kejam serta tatapan iblisnya Asena mulai menjawab. Sungguh sikap lemah lembut yang selama ini selalu Asena tunjukkan tak nampak lagi dan hanya sikap arogan serta tatapan kematian itu yang nampak dari wajahnya.
Zevana melihat ke arah kaki sampai naik ke atas kepala Asena. Zevana sekarang baru menyadari jikalau penampilan Asena sudah berubah tidak seperti pelayan yang waktu itu ia lihat, semua barang yang menempel di tubuh Asena adalah barang-barang branded yang berharga mahal hanya dengan satu kali lihat saja Zevana sudah tahu. Zevana semakin membenci Asena karena perempuan itu terlihat begitu cantik sekali dibalut dengan dress mewah berwarna merah yang seakan menampakan sikap arogannya bahkan yang lebih menjengkelkan lagi Zevana terlihat begitu pantas bersanding dengan Altair.
"Apakah kau bermaksud untuk menghukum ku di dalam ruangan ini seumur hidup?" tanya Zevana dengan suara yang terdengar lemah.
"Selama 3 hari ini berikan mereka makan yang kenyang dan biarkan mereka menikmati mentari pagi serta nyalakan listrik dan jangan kembalikan ponselnya!" perintah Asena dan ketika ia hendak berbalik terdengarlah suara Zevana berbicara.
"Altair apa yang terjadi padamu? Selama ini kau tidak pernah mau mendengarkan perintah orang lain, tetapi apa yang terjadi sekarang! Aku melihatmu menjadi budak perempuan sialan itu," kata Zevana mencoba memprovokasi Tuan Altair supaya tidak membantu Asena lagi.
Tuan Altair melihat ke arah Zevana tajam kemudian berkata. "Aku bahkan rela tunduk di bawah kakinya asalkan dia tak meninggalkanku," ucap Tuan Altair sembari menarik pinggang Asena agar lebih dekat dengannya seakan lelaki itu benar-benar takut ditinggalkan oleh istrinya.
Setelah bicara Tuan Altair mengajak Asena keluar dari ruangan ini, hal itu tentu saja membuat Zevana semakin merasa kesal. selama ini Zevana mencoba untuk merayu Altair supaya bisa dekat dengannya, tetapi hal itu tak pernah bisa ia lakukan namun, lihatlah sekarang lelaki incaran itu bahkan tunduk pada musuhnya sendiri.
__ADS_1
"Asena pergilah ke neraka dan jangan muncul di depan mataku lagi!" ujar Zevana pada Asena dengan penuh kebencian.
Setelah Tuan Altair dan juga Asena keluar dari ruangan kamar ini 2 orang pelayan membawa makanan untuk Yessi dan juga Zevana. Zevana membulatkan kedua matanya ketika ia mengenali siapa perempuan yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini.
"Kau masih ada di sini?" tanya Zevana kepada pelayan rumahnya. Ya, ini adalah perempuan paruh baya yang selama ini selalu dekat dengan singa sekaligus perempuan yang terakhir kali berbicara dengan Zevana beberapa hari yang lalu.
"Kami semua masih bekerja di sini, tetapi untuk melayani para pengawal Tuan Altair, bahkan Tuan Altair memberikan gaji yang lebih banyak pada kami dan memperlakukan kami seperti manusia bukan seperti hewan," kata wanita paruh baya itu seakan menyindir Zevana yang selama ini selalu memperlakukan rekan-rekannya dengan sangat buruk sekali.
"Berani sekali kau mengkhianati aku!" maki Zevana dan tangan perempuan itu sudah siap melemparkan makanan yang ada di dalam piringnya ke wajah pelayannya hingga suara pelayan itu mengurungkan niat Zevana dan mengkaji ulang keputusannya.
"Jika Nona Zevana melemparkan piring itu maka saya tak akan datang untuk mengantarkan makanan hari ini!" ancam wanita paruh baya itu dengan berani. Di belakang wanita paruh baya itu terdapat dua pengawal yang menjaganya dari amukan Zevana.
"Berani sekali pelayan sepertimu melakukan hal ini padaku!" ujar Zevana dengan menggertakkan giginya.
"Saya tak pernah terpikirkan untuk membalas kekejaman yang selama ini Nona Zevana lakukan, tetapi ketika saya tahu jika Nona Zevana bersikap begitu kejam kepada Sima hal itu membuat kebencian saya dan juga rekan-rekan saya mulai menyelimuti hati kami hingga rela dan juga tega melihat kondisi Anda dan juga nona Yessi seperti ini." Setelah bicara pelayan tersebut langsung berjalan keluar dari ruangan kamar ini bersama kedua pengawal dan ruangan kamar ini kembali terkunci.
"Aku akan membalas mereka semua!" teriak Zevana dengan penuh kekesalan.
"Zevana. Aku lapar, apakah makanan itu bisa dinikmati?" hanya Yessi yang kini sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1