Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Tempat yang Tidak Asing


__ADS_3

Perlahan tapi pasti mulai membuka kedua pelupuk matanya. Perempuan itu begitu terkejut ketika mendapati dirinya tergeletak di salah satu ruangan yang minim akan cahaya penerangan. Asena mulai mendudukkan tubuhnya perlahan perempuan itu sedikit merenggangkan tubuhnya dengan bergerak ke sana dan juga kemari karena sekujur tubuhnya terasa begitu kaku sekali.


"Kamu sudah bangun!" suara seorang perempuan membuat Asena memutar tubuhnya.


Saat ini Asena melihat ke arah perempuan paruh baya yang mengenakan baju minim akan bahan dan perempuan paruh baya itu juga menggunakan make up di wajahnya, Asena mencoba mengingat-ingat siapakah perempuan yang ada di hadapannya sekarang, tetapi dia tidak mengetahui dan juga mengenali siapa perempuan paruh baya ini.


"Siapa Anda? Dan kenapa saya bisa ada di dalam ruangan ini?" tanya Asena setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang nampak begitu asing sekali baginya.


"Jangan banyak bicara dan lekaslah keluar dari ruangan ini! Karena ada seseorang yang menunggumu," kata perempuan paruh baya itu ambigu tanpa menjelaskan secara detail siapa orang yang sedang menunggu Asena sekarang.


Tanpa bertanya lagi Asena mulai beranjak berdiri dari posisi duduknya. Asena begitu terkejut ketika ia melihat penampilannya sekarang, Asena menggunakan rok mini dengan tanktop yang begitu terbuka sekali Asena hendak menanyakan di manakah baju yang telah ia kenakan sebelumnya. Tapi Asena mengurungkan niat awalnya itu karena ia lebih ingin bertemu dengan mamanya. Asena harus memastikan kondisi perempuan yang telah melahirkannya itu baik-baik saja barulah ia akan berganti baju. Kira-kira seperti itulah yang sekarang sedang ada di dalam pikiran Asena.


Asena berjalan keluar dari ruangan ini dengan tertatih-tatih karena kini kedua kakinya menggunakan heels setinggi 5 cm, selama ini Asena tak pernah menggunakan heels jadi pantaslah jika ia tidak terbiasa dan beberapa kali hampir terjatuh.


Asena keluar dari ruangan ini dan ia mendapati dua orang lelaki paruh baya menatapnya mulai dari ujung kaki hingga naik ke atas kepalanya, tatapan kedua lelaki paruh baya itu nampak begitu mesum sekali hingga membuat Asena bergidik jijik melihatnya. Asena mengedarkan pandangannya ke sekitar dan ia tidak menemukan perempuan paruh baya yang ia cari, tetapi Asena justru mendapati ruangan yang minim akan cahaya serta terdapat lampu berwarna-warni yang berputar acak mengelilingi ruangan ini. Asena mulai merasa tak asing dengan ruangan yang beberapa waktu lalu pernah ia masuki, ini adalah klub malam.


"Apakah dia cantik seperti yang kalian inginkan? Dia masih bersegel dan mahal harganya!" kata seorang perempuan paruh baya yang tadi meminta Asena keluar dari ruangan itu.


"Dia sangat cantik seperti apa yang kamu inginkan," kata lelaki tersebut dengan menarik menjilat bibir bagian bawahnya seakan menandakan hasrat yang ingin ia lampiaskan sekarang juga.


Asena memutar tubuhnya menatap ke arah perempuan paruh baya tersebut kemudian berkata, "Di mana Mama saya? Kenapa saya tidak melihatnya?" tanya Asena sembari melangkah mendekati perempuan paruh baya tersebut.

__ADS_1


Perempuan paruh baya itu menaruh kedua tangannya di dada kemudian mengangkat salah satu alisnya. "Memangnya kapan aku mengatakan jika perempuan yang telah melahirkanmu itu ada di luar?" tanya perempuan itu balik pada Asena. Perempuan paruh baya itu melihat Asena dengan sorot mata arogannya.


"Lalu kenapa saya ada di dalam tempat ini, saya akan keluar mencari keberadaan Mama saya," kata Asena sembari melepaskan sepatu heels yang membalut kedua kaki jenjangnya dengan begitu sempurna. Asena yang merasa kesal melemparkan sepasang sepatu itu di lantai lalu hendak melangkah pergi.


"Kamu mau ke mana? Sekarang kamu sudah menjadi milikku dan kamu harus melayani semua pelangganku!" perintah perempuan paruh baya itu sembari mencengkeram lengan tangan Asena dengan begitu kuat.


"Lepaskan saya! Saya tidak mau melayani mereka dan sebaiknya kau lakukan saja sendiri," kata Asena dengan berani. Sesungguhnya Asena gemetar ketakutan, tetapi ia mencoba untuk menyembunyikan ketakutannya itu supaya tidak terlihat lemah di hadapan perempuan paruh baya ini.


"Papa kamu telah menjual kamu padaku, dan sekarang kau menjadi milikku, jadi lakukan apapun yang aku inginkan karena kamu harus mengembalikan uang yang telah aku berikan kepada Cem," kata perempuan paruh baya itu dengan sorot mata menajam dan juga suara lantang.


"Aku tidak mau! Kau minta saja uangmu itu kembali," kata Asena sembari menarik kasar tangannya kemudian hendak melangkah pergi.


"Kalian pasti sudah bisa menebak sendiri, harga yang pantas untuk kecantikan dan juga tubuh bersegel perempuan ini," jawab perempuan paruh baya itu dengan mengedipkan matanya.


Kedua lelaki yang sejak dari tadi mengamati Asena langsung memegang tangan Asena. Salah satu lelaki segera memberikan segepok uang kepada perempuan paruh baya yang notabennya adalah seorang mucikari di klub malam ini, salah satu lelaki menyeret Asena menuju ke sofa yang tidak jauh dari posisi mereka.


"Saya tidak mau, lepaskan saya," teriak Asena.


"Sayang, jangan berteriak. Nanti kami malah langsung akan mengajak kamu bermain," kata seorang lelaki dengan gemas mencubit pipi Asena.


"Jangan sentuh aku, lelaki gila," maki Asena.

__ADS_1


"Teriakan kami begitu lantang sekali, aku seakan sudah tak sabar melihat kau mendesah di atas ranjang," kata lelaki botak dengan menghirup aroma parfum Asena.


Asena mencoba berontak dan melepaskan diri, tetapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan kedua lelaki bertubuh kekar ini. Kedua lelaki paruh baya ini beberapa kali mencoba untuk menyentuh bagian tubuh Asena, tetapi Asena segera menepis tangan mereka dengan tatapan bergidik jijik. Asena memohon meminta untuk dilepaskan, namun kedua lelaki itu tak menggubrisnya. Bahkan mereka semakin terpancing untuk menyentuh Asena jika melihat sikap perempuan ini yang terus berusaha untuk menghindari serangan mereka.


"Sayang, kau sungguh perempuan yang menggoda," ujar seorang lelaki paruh baya dengan rambut botak dan juga kulit nampak gelap.


"Dia terus saja bergerak hingga membuat juniorku bangkit tanpa melakukan apapun," jawab satu lelaki lain yang memiliki hidung besar dan juga wajah nampak menyeramkan karena terdapat begitu banyak bekas jerawat dan itu membuat wajahnya nampak berlubang.


Asena terus saja menangis sembari menatap ke sekitarnya. Ia ingin meminta bantuan, tetapi semua orang yang ada di klub malam ini sedang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Meminta bantuan juga akan percuma karena semua orang tak akan pernah peduli dengan apa yang terjadi padanya. Untuk apa membantu perempuan yang tidak mereka kenal. kira-kira seperti itulah yang akan mereka semua pikirkan jika Asena meminta bantuannya.


Di tempat lain.


Dua orang perempuan saat ini sedang duduk di pangkuan Tuan Altair. Para perempuan itu mencoba untuk menyenangkan hati Tuan Altair dan salah satu diantara mereka menuangkan whisky ke dalam gelas lalu membantu Tuan Altair meminumnya.


Lan duduk sendirian di hadapan Tuan Altair tanpa meminum satu teguk pun alkohol yang terdapat di atas meja, Lan harus tetap sadar guna untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan hendak menimpa majikannya. Bahkan terdapat 5 orang pengawal yang berdiri di belakang Tuan Altair, kelima pengawal itu nampak menatap ke sekitarnya dengan wajah selalu waspada.


Lan menatap 4 meja dari posisinya sekarang, lelaki itu merasa tidak asing dengan wajah seorang perempuan yang sedang coba disentuh oleh kedua lelaki yang ada di sisi kanan dan juga sisi kirinya. Tuan Altair terus saja memperhatikan Lan yang menatap ke arah lain sejak dari beberapa menit yang lalu.


"Lan, kau sedang lihat apa?" tanya Tuan Altair seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang perempuan yang sudah ada di dalam pangkuannya.


"Bukankah itu seperti Nona Asena, tapi sedang apa dia bersama dengan kedua orang lelaki," kata Lan dengan suara yang cukup lantang supaya bisa didengarkan oleh majikannya. Kira-kira apakah Tuan Altair akan perduli kepada Asena atau justru sebaliknya?

__ADS_1


__ADS_2