Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Kenapa Harus Asena


__ADS_3

Sima duduk di dekat ranjang putrinya tangan keriput perempuan paruh baya itu mulai menyibakkan beberapa sulur anak rambut putrinya ke belakang telinga dengan gerakan perlahan, Sima ingin melihat istrinya ajah cantik Asena. Sima membekap mulutnya menggunakan kedua tangan supaya isak tangisnya tidak bisa didengarkan oleh Asena yang saat ini telah tertidur dengan begitu lelap. Sima tahu waktu memang tak pernah bisa diputar tetapi ia berjanji akan menyembunyikan semua kebenaran itu dari Asena karena Sima takut putrinya tidak bisa menerima kenyataan tersebut dan malah membencinya.


Sima mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya dengan punggung tangannya lalu ia mengecup kening Asena. Sima kembali menatap ke arah wajah putrinya lalu ia keluar dari ruangan kamar ini.


Kedua pelupuk mata Asena terbuka perlahan setelah iya memastikan kalau mamanya telah keluar dari ruangan kamar ini. Asena tak benar-benar tidur ia hanya menutup mata ketika melihat pintu ruangan kamarnya terbuka dan Asena tahu itu adalah Sima.


"Sebenarnya apa yang sedang Mama sembunyikan dari Asena? Kenapa sejak dari kecil Asena tidak pernah merasakan kedekatan batin dengan lelaki itu-Cem. Ataukah mungkin lelaki itu bukan Papa kandung Asena?" tanya Asena pada dirinya sendiri. Asena memeluk guling yang ada di sampingnya dengan begitu erat sekali, sejak dari kecil Asena tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari lelaki yang selama ini ia sebut sebagai Papa. Bahkan yang Asena dapatkan sejak dari kecil tidak lebih hanya pukulan dan juga kesedihan sebab dia memiliki sosok Papa tapi tidak dengan kasih sayangnya. Miris sekali.


Sinar mentari mulai menerobos masuk ke dalam cela-cela kamar Asena membuat perempuan itu membuka kedua pelupuk matanya. Setelah 3 hari beristirahat akhirnya kaki Asena sudah jauh membaik, bahkan kini dia sudah bisa berjalan menggunakan kedua kakinya walaupun harus melangkah dengan perlahan. Asena beranjak bangun dari atas ranjang lalu membersihkan tubuhnya sebelum melangkah masuk ke dalam dapur.


"Sayang apakah kamu sudah jauh lebih baik kan sekarang?" tanya Sima setelah melihat putrinya melangkah melewati pintu dapur ini.


"Asena baik-baik saja, Mah. Hari ini juga Asena ingin berangkat bekerja karena tidak enak kalau cuti terlalu lama," kata Asena pada mamanya.


"Beristirahatlah satu hari lagi. Bukankah kemarin kamu mengatakan jikalau pemilik restoran itu telah ganti yang baru dan sepertinya dia adalah orang baik karena telah mengizinkan kau libur selama beberapa hari," tutur Sima. Sedih sekali ketika hati seorang Mama tak bisa menahan putrinya untuk tetap di rumah dan Sima tahu alasan Asena selama ini bekerja keras yaitu demi untuk membantunya.

__ADS_1


"Asena merasa bosan jika terlalu lama di rumah jadi lebih baik Asena mencari uang saja," jawab Asena bersikeras dan Sima hanya bisa menganggukkan kepalanya setuju dengan keputusan putrinya.


Setelah sarapan bersama seperti biasa Sima dan juga Asena akan berangkat bekerja bersama. Seperti biasa mereka juga akan berpisah di tengah perjalanan, tetapi kali ini Asena tidak benar-benar pergi. Asena memutuskan untuk menyelidiki lebih dahulu di mana tempat mamanya bekerja secara diam-diam. Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya Asena pun mengetahui di mana tempat mamanya bekerja setelah melihat perempuan yang begitu ia sayangi masuk ke dalam rumah besar nan megah sekali.


Asena memotret rumah besar itu dan juga nomor rumah tersebut menggunakan ponselnya untuk berjaga-jaga jikalau ia tiba-tiba amnesia mendadak. Asena harus mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam rumah itu sehingga Sima pulang dalam keadaan lapar dan dengan wajah yang pucat.


***


Asena memasuki restoran dengan perlahan sebab kakinya mulai terasa nyeri akibat dibuat berjalan terlalu lama. kaki Asena yang terkilir belum sembuh total namun, ia tetap memaksakan diri untuk bekerja. Asena kini mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan ini, terlihatlah jika para pelayan restoran sedang sibuk melayani pengunjung. Asena sedikit mempercepat langkah kakinya karena ia takut dihukum sebab sudah terlambat sekitar 1 jam.


Asena tidak suka terlalu banyak bicara hingga ia mengabaikan saja ucapan orang-orang tersebut.


"Nana benarkah yang aku dengar tadi jikalau selama 3 hari ini aku libur maka gajiku tidak dipotong sama sekali?" tanya Asena pada sahabatnya setelah ia mengganti baju rumahnya dengan baju seragam di restoran ini.


"Ya dan kamu sangat beruntung sekali kalau aku jadi kamu maka aku akan libur satu minggu," canda Nana dan mendapatkan pelototan tajam dari Asena.

__ADS_1


"Beruntunglah karena aku bukan kamu," kata Asena dan Nana hanya terkekeh.


Nana segera menghentikan percakapan mereka ketika melihat Pak Dani-manajer restoran ini sedang berjalan menghampiri Asena. Asena mengerti dengan kode yang tadi sempat Nana berikan pun segera memutar tubuhnya menatap ke arah belakang hingga membuatnya kini berhadapan dengan Pak Dani. Lelaki paru baya itu menatapnya dengan senyuman ramah, Pak Dani memang memiliki kepribadian yang baik dan juga tidak pernah suka mempersulit semua pekerjanya, beliau merupakan orang yang sejak dari dulu dipercaya untuk menjaga restoran ini.


"Asena kamu antarkan makanan ini ke perusahaan," pinta Pak Dani sembari mengulurkan paper bag di hadapan perempuan itu.


Asena melongo karena biasanya orang yang mengantarkan makanan adalah seorang lelaki tetapi kenapa sekarang harus Asena yang melakukannya. Hal itulah yang membuat Asena kaget. Dan Pak Dani bisa membaca apa yang sekarang sedang terlintas di pikiran Asena.


"Tuan, maksudku pemilik restoran ini yang baru meminta kamu untuk mengantar makan siangnya secara langsung. Dan pastikan jika kamu tidak sampai terlambat karena beliau merupakan orang yang tidak memiliki begitu banyak kesabaran," kata Pak Dani mencoba untuk memperingati Asena.


"Baiklah kalau begitu saya akan berangkat sekarang," jawab Asena. Asena melangkah pergi perlahan karena merasakan jika kakinya berdenyut nyeri ketika diajak melangkahkan. Namun, Asena tak bisa membantah tugas yang diberikan padanya karena Asena membutuhkan pekerjaan ini.


Pak Dani menatap ke arah Asena dengan hati yang pilu. Andaikan saja bukan karena pemerintah sang pemilik restoran maka sudah bisa dipastikan jika Pak Dani akan meminta pekerja lelaki saja yang berangkat memberikan makanan itu pada majikan barunya.


"Semoga saja perempuan malang itu tak mendapatkan masalah," gumam Pak Dani lirih. Pak Dani mengetahui tentang kehidupan Asena sebab rumahnya berada tidak jauh dari kediaman Asena. Hanya saja kehidupan mereka jauh berbeda sebab Pak Dani berasal dari keluarga berada.

__ADS_1


__ADS_2