Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Terkurung Dalam Kediaman Sendiri


__ADS_3

Jantung Asena berdetak dengan begitu kencang sekali setelah mendengarkan apa yang Tuan Altair barusan katakan, jarak antara keduanya mulai terkikis hingga membuat Asena bisa menghirup aroma min dari nafas Tuan Altair sekarang. Ini adalah untuk kali pertama pengalaman bagi Asena jadi sangat wajar sekali jika perempuan itu merasa ketakutan.


Satu tangan Tuan Altair mulai meraih pinggang Asena hingga membuat jarak diantara keduanya melebur dengan satu langkah saja, satu tangan Tuan Altair yang lain menarik tengkuk Asena dan ketika lelaki itu hendak mendaratkan ciumannya pada pipi sang istri tercinta tidak disangka Asena mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Saya belum mandi selama 3 hari," kata Asena. Tuan Altair bukannya marah mendapatkan penolakan dari istrinya justru lelaki itu mengulas senyuman dengan sangat tipis sekali.


"Akan aku bantu kamu mandi," ucapkan Tuan Altair dengan tatapan ranjangnya seakan mencoba untuk membujuk sang istri kecil untuk menemaninya melakukan apa yang seharusnya dari awal mereka menikah. Kini Asena baru sadar apa maksud dari ucapan Tuan Altair tadi, lelaki itu sengaja mengatakan Asena tidak gosok gigi selama berhari-hari karena ia ingin mengajak Asena untuk melakukan hal ini. Pantas saja Asena sudah merasa ada yang aneh sejak dari awal.


Asena yang sudah tidak bisa mengelak lagi hanya bisa memasrahkan dirinya kepada Tuan Altair. Tuan Altair sudah begitu baik padanya dan lelaki itu adalah suaminya sekarang, Asena harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


Suasana di dalam kamar mandi terasa begitu harmonis sekali. Silakan para rider setia membayangkan aktivitas yang panas menggelora hingga membakar jiwa, silahkan menghalu sesuka hati.


Selang beberapa waktu.


"Apakah terasa sakit?" tanya Tuan Altair yang melihat Asena melangkah dengan sangat perlahan sekali.


"Tak perlu diragukan lagi rasanya, aku bahkan takut tidak bisa bernafas ketika melihat sikap Anda yang begitu brutal mirip seperti seekor serigala yang tidak diberi makan selama berbulan-bulan," ujar Asena merasa kesal. Ternyata mood perempuan itu sudah jauh membaik dari sebelumnya.


Tuan Altair menarik Asena ke dalam dekapannya lalu berkata, "Panggil aku dengan sebutan Sayang!" perintah Tuhan Altair kepada Asena sembari menatap ke arah wajah cantik istrinya. Dua mata Asena memang terlihat bengkak karena terlalu banyak menangis namun, hal itu tak mengurangi kadar kecantikan perempuan tersebut.

__ADS_1


"Kenapa saya harus melakukannya? Sedangkan selama ini saya memanggil Anda dengan sebutan Tuan?" tanya Asena sembari mengangkat pandangannya ke arah Tuan Altair dengan posisi yang masih berpelukan.


Tuan Altair mengecup sekilas bibir Asena lalu menjawab, "Karena kau adalah istriku sekarang!" jawab Tuan Altair. "Sekarang panggil aku dengan sebutan itu!" perintah Tuan Altair terdengar menuntut dan tak terbantahkan.


Asena terdiam sejenak meneguk ludahnya sendiri seakan mempersiapkan dirinya untuk memanggil suaminya dengan sebutan yang lelaki itu inginkan. Hanya memanggil dengan sebutan sayang itu sudah membuat Asena bagaikan dikirim ke medan perang hingga membuat jantungnya berdetak dengan begitu kencang dengan kedua pipi yang sudah merona merah karena rasa malu.


"Sa-sayang." Setelah bicara Asena langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Tuan Altair.


Tuan Altair yang melihat sikap istri kecilnya ini pun tertawa gemas dengan tangan yang tiada henti mengusap kepala Asena. "Kau sangat manis sekali, sayangku," kata Tuan Altair . Entah mengapa kehadiran Asena bagaikan pelita di dalam kehidupan Tuan Altair. Perempuan itu memberikan kebahagiaan yang selama ini Tuan Altair cari dan juga impikan.


Mendengar Tuan Altair memanggilnya dengan sebutan sayang hal itu membuat seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan liar di dalam perutnya dan wajah aslinya semakin memanas karena rasa malu bercampur bahagia. Jantung Asena yang berdetak dengan begitu kencang membuat perempuan itu sadar jika ia mencintai Tuan Altair.


Namun, Asena merasa ragu apakah benar lelaki yang ada di dekapannya sekarang mencintainya juga? Ataukah ada maksud lain hingga Tuan Altair menikah dengannya! Sedangkan Asena tahu selama ini lelaki itu selalu suka bergonta-ganti pasangan. Argh! Asena tidak ingin memikirkan semua hal itu untuk hari ini karena ia ingin berbahagia sama seperti perempuan lainnya.


Kediaman Zevana.


Kondisi kakak-beradik itu tidak jauh lebih baik dari beberapa hari yang lalu dan seperti apa yang waktu itu Asena katakan. Zevana bersama dengan Yessi dikunci dalam satu ruangan kamar kemudian tak ada makanan sama sekali di dalam ruangan itu, serta semua ruangan ini juga tertutup tak ada cahaya yang masuk ke dalam ruangan itu, bahkan ponsel mereka juga disita serta lampu yang ada di dalam ruangan tersebut pun sengaja dipadamkan.


Sudah berhari-hari Yessi tidak hentinya menangis dan juga meracau hingga membuat Zevana sempat kesal dan memaki adiknya itu, kita berdua kelaparan dan hanya bisa menikmati setiap teguk air yang masih mengalir dari dalam kamar mandi, tubuh Zevana dan juga Yessi terasa begitu lemah sekali hingga keduanya pun tak sanggup untuk berdiri.

__ADS_1


"Aku tidak bersalah, ini hanyalah mimpi, bukan aku yang mendorong Sima, tapi Zevana, jangan masukkan aku ke dalam penjara, aku tidak bersalah," kata Yessi sembari menyandarkan punggungnya di ranjang. Entah sudah yang ke berapa kali Yessi terus saja mengulangi kata-kata yang sama dan rasa bersalah membuat Yessi hampir kehilangan akal.


Awalnya Zevana marah melihat kondisi adiknya, tetapi sekarang ia pun hanya membiarkan Yessi mengucap apa yang ingin perempuan itu. Zevana sudah menyadari jika akal Yessi mulai terganggu sekarang.


"Sampai kapan aku akan berada di sini! Perempuan sialan itu benar-benar membuatku marah dan apa yang ia lakukan hingga lelaki seperti Altair memilihnya padahal selama ini aku tahu Altair tak akan pernah menyukai seorang pelayan bahkan menghabiskan waktu semalam bersama dengan pelayan saja Altair tidak mau namun, sekarang Altair justru menikahi perempuan sialan itu," umpat Zevana dengan sisa tenaga yang masih ia miliki. Suara perut Zevana kembali berbunyi menandakan jika cacing-cacing yang ada di dalamnya meminta jatah makanan mereka sedangkan satu butir pun nasi selama 3 hari ini tak singgah di perutnya.


"Zevana kita akan mati di sini, Zevana kita akan mati di sini," kata Yessi dengan suara yang parau karena terlalu banyak menangis dan juga terlalu banyak bicara.


"Jika aku mendengarkan kamu bicara satu kali lagi, maka aku akan membunuhmu lebih dulu Yessi," kata Zevana yang mulai kesal dengan sikap adiknya.


Yessi terdiam ia kembali teringat dengan ucapan Zevana tempo hari yang mengatakan jika perempuan itu akan membunuh Papanya. "Zevana kamu sudah membunuh Papa dan sekarang kamu mau membunuhku juga," teriak Yessi semakin berteriak histeris ketakutan. Yessi mundur menjauh dan tak ingin dekat dengan Zevana yang ada di sampingnya sekarang.


Melihat akan hal itu Zevana merasa bersalah kemudian memeluk tubuh Yessi yang selalu berontak meminta dilepaskan olehnya. Seharusnya ia membentak Yessi karena sekarang kondisi mental Yessi sedang terganggu, adik kesayangannya bisa gila jika terus seperti ini dan Zevana tak akan membiarkan itu terjadi.


Zevana melepaskan pelukannya dari Yessi lalu dengan sisa tenaga yang ia miliki perempuan itu berjalan menuju ke arah pintu sembari meraba-raba karena ruangan ini begitu gelap sekali bagaikan di suatu goa yang tak dapat setitik pun cahaya.


"Siapapun yang ada di luar, tolong bantu kami keluar dari ruangan ini maka aku akan memberikan apapun yang kalian inginkan," teriak Zevana dengan menggedor-gedor pintu ruangan ini.


Satu jam kemudian.

__ADS_1


Zevana mulai merasa lelah berteriak dan juga mengetuk-ngetuk pintu ruangan ini, sekarang pasti punggung tangannya sudah memerah karena selama satu jam lamanya ia mencoba untuk mengetuk-ngetuk pintu ruangan ini namun tak ada sahutan sama sekali seakan seseorang yang berada di luar sana menulikan pendengarannya. Zevana mulai mengarahkan telinganya ke daun pintu dan ia tidak mendengarkan apapun hingga terbersitlah Di dalam pikirannya jika semua pengawal itu pasti meninggalkan mereka sendirian.


"Apakah benar aku dan juga Yessi akan meninggal di sini? kenapa semuanya jadi seperti ini!" teriak Zevana dengan begitu kencang karena merasa kesal.


__ADS_2