
Lan hendak menyalakan mesin mobilnya tetapi langsung di hentikan oleh Tuan Altair saat lelaki itu melihat ke arah Asena yang sedang menyelamatkan seorang perempuan paruh baya. Ada rasa nyeri di hati Tuan Altair ketika melihat cara lelaki itu memperlakukan Asena dengan sangat buruk sekali! Ada apa dengannya? Ada apa dengan hatinya? Baru kali ini Tuan Altair merasakan sakit dan juga ingin melindungi perempuan malang itu, kenapa ini bisa ia rasakan sekarang? Tuan Altair tidak tahu apa alasannya tapi yang ia tahu perempuan itu membutuhkan bantuannya sekarang.
Tuan Altair turun dari dalam mobil dan Lan segera mengikutinya.
“Selamatkan perempuan paruh baya itu!” titah Tuan Altair.
“Baik Tuan,” jawab Lan patuh.
Tuan Altair langsung memukul wajah Cem, ketika lelaki kurang ajar itu hendak menendang Asena dengan kaki laknatnya ini. Asena memejamkan mata seakan sudah siap dan juga pasrah menerima pukulan, tapi tidak di sangka justru terdengar suara pukulan yang terdengar jelas di kedua telinganya.
Perlahan tapi pasti Asena mulai membuka matanya dan ia melihat ke arah Tuan Altair yang sedang memukuli Cem. Cem yang tentulah langsung terkapar tak berdaya dan lelaki itu tak sadarkan diri di atas aspal rumah ini.
“Bawa ke rumah sakit!” titah Tuan Altair pada pengawal yang ada di belakangnya. Jika saja.tao mengingat kalau lelaki kurang ajar itu adalah orangtuanya Asena, maka sudah bisa dipastikan jika Tuan Altair akan meminta para pengawalnya untuk membawa lelaki ke alam lain dan bukannya ke rumah sakit.
“Baik Tuan,” jawab sang pengawal patuh.
Baru kali ini Tuan Altair mau turun tangan sendiri, padahal ia tinggal memberikan perintah maka para pengawal yang selalu mengikutinya dengan sangat mudah akan langsung menuruti perintah Tuan Altair, tetapi kali ini lelaki itu memilih untuk bertindak sendiri.
Sima melihat ke arah Suaminya yang kini telah di masukkan kedalam mobil, perempuan itu tidak perduli dengan suaminya dan fokus melihat ke arah putrinya yang sedang gemetar ketakutan. Sima mengucapkan terima kasih pada lelaki asing yang membantunya kemudian perempuan itu langsung berlari menghampiri putrinya.
__ADS_1
“Sayang ... sayang, apakah kau baik-baik saja?” tanya Sima seraya melihat wajah putrinya.
“Lan, ayo kita pergi!” titah Tuan Altair dengan wajah datarnya. Sebelum berbalik arah Tuan Altair sempat melirik sekilas ke arah Asena yang juga menatapnya.
Asena menatap ke arah Tuan Altair yang hendak melangkahkan kakinya menjauhi rumah ini. Lelaki itu nampak tidak perduli dengan apa yang terjadi padanyap sekarang, tetapi lelaki itu juga yang tadi menyelamatkannya dan juga sang Mama. Asena sungguh bingung sekali melihat sikap Tuan Altair tapi meskipun begitu Asena harus berterima kasih pada lelaki itu karena sudah mau membantunya.
“Tu-tuan Altair terima kasih karena telah menyelamatkan saya,” kata Asena.
Tuan Altair menghentikan langkahnya kemudian melihat ke arah Asena tanpa menjawab kemudian lelaki itu kembali melangkah.
“Tuan, terima kasih,” kata Mama Asena pada Tuan Altair. Kini lelaki berwajah datar itu menganggukkan kepalanya tanpa memutar tubuhnya ataupun menghentikan langkah kakinya.
“Sayang, apakah kamu bisa berdiri?” tanya Sima dan Tuan Altair mendengarkan percakapan mereka bahkan kini lelaki itu dengan sengaja memperlambat jalannya.
“Sini, naiklah ke punggung Mama,” kata Sima merasa iba dengan kondisi putrinya sekarang. Sima begitu ingin meminta cerai pada lelaki kasar itu, tapi Sima tak bisa melakukannya.
“Ma, apa yang kau lakukan, Asena akan merangkak masuk ke dalam rumah perlahan,” kata Asena bersikeras. Asena bukan seorang balita yang bisa dengan mudah baik ke punggung perempuan paruh baya itu.
“Dia benar-benar menyusahkan.” Tuan Altair mengusap kasar wajahnya kemudian membalikkan tubuhnya. Sebenarnya Tuan Altair bisa saja berjalan menjauh dari Asena tapi entah mengapa hatinya berkata lain dan malah memilih membantu perempuan itu.
__ADS_1
Asena merasakan tubuhnya melayang di udara dan ada sepasang tangan yang mengangkatnya, perempuan itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah samping dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat Tuan Altair membantunya.
Sima yang melihat keduanya saling bertatapan satu sama lain, entah mengapa ia merasa sangat senang sekali. Sima tidak tahu siapa lelaki yang sedang membantu mereka sekarang, tapi perempuan paruh baya itu merasa lega karena ada orang yang perduli dengan putrinya.
"Tuan Altair turunkan saya sekarang, saya bisa berjalan sendiri," kata Asena. Asena merasa malu karena menyusahkan lelaki ini terus. Asena merasakan jantungnya berdetak dengan begitu kencang ketika berada di gendongan Tuan Altair, ini pasti karena Asena merasa takut padanya. Ya, sepertinya memang begitu.
"Jika kau bisa berjalan maka sudah pasti sudah kau lakukan sejak dari tadi," hardik Tuan Altair pada perempuan dalam gendongannya ini. Tuan Altair melihat ke arah Asena dengan wajah datarnya.
Asena hanya bisa menyebikkan bibirnya tanpa berbicara, hal itu tidak luput dari tatapan Tuan Altair. saat ini Lan sudah berjalan di depan Tuan Altair kemudian membukakan pintu rumah Asena. Sekarang ini Tuan Altair mulai menjejakkan kakinya memasuki rumah Asena, tatapan Tuan Altair menyapu ruangan tamu rumah ini yang nampak begitu kecil sekali baginya.
"Ini rumah manusia atau rumah siput?" tanya Tuan Altair setelah mengamati setiap sudut rumah ini. Bahkan kamar mandi yang ada di dalam rumahnya saja jauh lebih besar daripada rumah milik Asena.
Asena yang mendengarkan penuturan Tuan Altair pun langsung melihat ke arah lelaki itu dengan tatapan sangat tajam sekali. Jika sudah seperti ini maka Asena akan kehilangan rasa takutnya pada lelaki yang sedang menggendongnya sekarang.
"Apakah saya dan juga Mama terlihat seperti seekor siput kecil di mata Anda?" kata Asena dengan nada suara terdengar berat sebab mencoba menahan emosinya. Asena takut saja jikalau lelaki ini akan melemparnya ke lantai.
Lan yang mendengarkan ucapan Asena menahan senyumannya. Wajah lelaki itu kini berubah menjadi merah padam jika sampai Lan berani tertawa maka Tuan Altair akan memotong semua gajinya.
"Tuan itu adalah kamar putri saya," kata Sima sembari menunjuk ke arah jam 12.00.
__ADS_1
"Lan coba pastikan jikalau pintu ruangan itu tak akan roboh ketika aku lewati," kata Tuan Altair.
Asena yang mendengarkan penuturan Tuan Altair menatap lelaki itu semakin tajam dengan bibir yang mengerucut sebal. Lelaki ini benar-benar sangat sombong sekali tapi dia memang kaya raya. Dan Asena tahu jikalau di balik keangkuhan yang selalu Tuan Altair tunjukkan ternyata lelaki itu memiliki hati yang baik sebab mau membantunya dan juga Mama dari amukan Cem.