
Dua hari setelah meninggalnya kedua orang tua Asena, perempuan itu mendatangi kediaman Zevana lagi di siang hari ini bersama dengan Tuan Altair.
Sebenarnya Tuan Altair sangat sibuk sekali di kantor karena begitu banyak meeting di perusahaannya dengan klien-klien dari negara asing, namun lelaki itu lebih memilih untuk mengantarkan istrinya dan meminta Asisten Lan menjadi perwakilan darinya untuk mengikuti meeting di perusahaan.
Asena mengedarkan pandangannya ke arah seisi rumah ini. Rumah ini nampak bersih dan tidak terdapat satupun helai daun yang gugur dari pohonnya karena memang semua pelayan Zevana masih bekerja di rumah ini tetapi Tuan Altair yang menggaji mereka.
"Sayang, jangan tunjukkan kesedihan dan juga kelemahanmu di hadapan mereka karena itulah yang mereka inginkan, menghancurkan kamu," kata Tuan Altair mencoba menasehati istrinya.
"Aku hanya akan menunjukkan kesedihan itu di hadapanmu, sayang. Terima kasih karena kamu selalu berada di sampingku selama ini," kata Asena sembari menyandarkan manja kepalanya di lengan Tuan Altair. Tuan Altair membelai perlahan rambut istrinya kemudian mengecup puncak kepala sang istri.
"Jangan pernah berdiri dekat dengan mereka. Aku tak ingin kau sampai terluka sedikitpun," kata Tuan Altair mengingatkan istrinya untuk yang kesekian kali.
"Bukankah kedua perempuan itu sudah diikat ketika aku masuk dan kamu tak perlu merasa khawatir karena aku tidak selemah itu," ucap Asena mencoba untuk menghilangkan rasa khawatir di hati suaminya.
Keduanya pun melangkah masuk ke dalam ruangan ini. Asena menatap ke arah Yessi dan juga Zevana secara bergantian. Kondisi kedua perempuan itu nampak berantakan sekali terutama Yessi. Sepertinya perempuan itu tidak mandi selama 1 minggu lebih dikurung di dalam ruangan kamar ini. sedangkan Zevana kondisinya jauh lebih baik karena perempuan itu sepertinya merawat dirinya.
__ADS_1
"Kenapa kau kemari? Apakah kau sudah berniat untuk membunuh kami?" tanya Zevana dengan tatapan tajamnya. Sesungguhnya Zevana takut mati hanya saja ia berpura-pura terlihat baik-baik saja ketika berada di hadapan musuhnya.
"Pengawal bawa perempuan gila itu keluar dari ruangan ini!" pinta Asena tanpa menyebutkan nama Yessi karena perempuan itu dengan sengaja mencoba memancing emosi Zevana yang selama ini begitu menyayangi adik kandungnya itu.
Ketua bola mata Zevana langsung membulat penuh ketika mendengar musuhnya menyebut adiknya gila. "Naga kata-katamu itu perempuan kurang ajar! Siapa yang kau sebut gila," kata Zevana tidak terima. Zevana mencoba untuk bangkit dari posisi duduknya, tetapi kedua pengawal yang berdiri di belakang perempuan itu langsung menekan pundaknya hingga membuat Zevana kembali terduduk dengan paksa.
"Mau memukulku? Mau marah! Lakukan jika bisa," tentang Asena kepada Zevana.
"Aku tidak bersalah, jangan masukkan aku ke dalam penjara! Aku tidak bersalah," teriak Yessi membuat kegaduhan di dalam ruangan ini. "Zevana bantu aku, Zevana bantu aku, Zevana aku tidak bersalah," ujar Yessi memanggil-manggil nama Zevana dengan kedua mata yang sudah basahi dengan bulir bening.
"Perempuan sialan yang mendorong Mamamu dari atas tangga bukanlah adikku, tetapi aku! Lepaskan Yessi dan bawa aku!" kata Zevana yang tidak tega melihat kondisi Yessi sekarang. Zevana kini menyadari jika perempuan yang berdiri di hadapannya sekarang bukanlah perempuan yang dulu terlihat lemah dan juga selalu minta maaf ketika mendapatkan masalah, sikap Asena sekarang mirip seperti seorang iblis yang baru saja bangkit setelah tertidur berpuluh tahun lamanya.
Asena mengepalkan kedua tangannya ketika mendengar Zevana menyebutkan nama Mamanya. Tuan Altair yang mengetahui akan hal itu langsung menggenggam tangan istrinya seakan mencoba untuk meredakan emosi sang istri tercinta.
"Kenapa? Kau marah setelah mengetahui jika aku mendorongnya dari lantai atas? Perempuan itu sangat baik sekali bahkan dia begitu handal menjadi seorang pelayan waktu itu, dia hendak pulang tetapi aku memintanya untuk membersihkan ruangan kamarku dan setelah itu aku mendorongnya," kata Zevana berbicara dengan suara yang terdengar begitu puas apalagi ketika perempuan itu melihat kedua bola mata Asena sudah membulat penuh seakan ingin menghajarnya habis-habisan.
__ADS_1
Dan tidak disangka Asena justru mengulas senyuman manis kemudian perempuan itu duduk di sofa bersama dengan Tuan Altair.
Dua pengawal yang ada di belakang Zevana segera menyeret Zevana hingga kini duduk sekitar 3 meter dari posisi sofa yang nona Asena dan juga Tuan Altair duduki.
"Kau tahu, Papa Zegan begitu mencintai mamaku sampai dia tak pernah bisa mencintai perempuan lain," kata Asena dengan mengulas senyuman bangga ketika ia bisa membalas kata-kata Zevana yang begitu menusuk relung hatinya. "Bahkan kehadiran kalian di muka bumi ini tak pernah membuat Papaku merasa bahagia, tetapi ketika lelaki itu mengetahui jikalau Mamaku telah mengandung diriku, dia nampak sangat bahagia sekali. Hingga Yessi pun mengetahuinya dan aku percaya jika si gila itu pasti sudah menceritakan apa yang dia lihat padamu, Zevana," sambung Asena sembari menyilangkan satu kakinya di atas lutut kemudian menyandarkan punggungnya di sofa dengan tatapan terangkat angkuh dan sombong.
Zevana hendak beranjak berdiri, tetapi kedua pengawal itu kembali menghentakkan tubuhnya di lantai hingga membuat Zevana memiliki kesakitan. "Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku! Selama ini Papa selalu mencintai Mama dan dia juga bahagia atas kehadiranku dengan Yessi," kata Zevana yang tidak terima dengan ucapan Asena.
"Hahaha! Apakah kau sedang mencoba untuk membujuk dirimu sendiri? Itu terlihat bodoh sekali Zevana," ledek Asena dengan seringai devilnya. "Aku kasih tahu kamu satu kabar gembira yang pastinya akan membuatmu senang, mamaku dan juga Papa yang baru aku tahu keberadaannya telah meninggalkan dunia ini."
"Mereka berdua memang pantas mati! Aku tidak menyangka jika dengan satu kali siasat dua orang mati secara bersamaan dan bukankah itu terlihat begitu romantis sekali mirip seperti Romeo dan juga Juliet," kata Zevana dengan tertawa terbahak-bahak karena merasa bahagia.
"Papa meninggal dan dia juga meninggalkan hartanya untukku tanpa menyisakan dikit pun hartanya untuk kedua anak bodohnya ini," tandas Asena sembari melipat kedua tangannya di dada.
Tawa Zevana langsung lenyap seketika tatkala ia mendengarkan ucapan Asena. Mana mungkin bapaknya tidak memberikan apapun padanya hal ini sungguh tidak masuk akal sekali sedangkan kematian telah ia rencanakan. Dan mana mungkin lelaki itu sempat membuat wasiat sebelum ia meninggalkan dunia ini.
__ADS_1
"Ini tak mungkin terjadi, aku tak mau menjadi gelandangan, perempuan itu pasti mencoba untuk menakut-nakuti aku saja," gumam Zevana sembari menatap ke arah Asena dengan tajam seakan perempuan itu hendak membunuh Asena menggunakan tatapannya.