Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Kau Tak Mengenali Aku Asena


__ADS_3

Perusahaan Gerden Group.


Asena baru saja turun dari dalam mobil pribadi milik restoran tempat ia bekerja. Manik Asena melihat ke arah perusahaan yang di gadang-gadang merupakan salah satu perusahaan terbesar di negara ini dan memiliki anak cabang di beberapa negara besar lainnya. Asena mengedarkan pandangannya ke sekita dan nampaklah halaman perusahaan ini begitu bersih sekali dan juga ada air mancur setinggi sekitar 20 meter menghiasi halaman perusahaan megah ini, tiang-tiang penyangga yang tertata penuh perhitungan seakan menambah kesal kokoh perusahaan raksasa ini.


Asena merasa sangat penasaran sekali dengan siapa orang yang memiliki perusahaan sebesar ini dan kenapa juga orang itu membeli restoran kecil tempatnya bekerja jika memiliki bisnis yang jauh lebih besar dan juga jauh lebih menguntungkan. Asena mulai mengangkat kedua bahunya acuh kemudian melangkah masuk kedalam lobby utama. Asena melangkah menuju ke resepsionis, Asena melihat baju para resepsionis yang begitu seksi sekali menurutnya seakan menunjukkan jika pemilik perusahaan ini pastilah lelaki hidung belang dan Asena harus berhati-hati.


“Nona, ada yang perlu saya bantu?” tanya sang resepsionis ramah pada Asena. Wajah Asena sangat cantik sekali meskipun ia menggunakan baju sederhana tetapi terlihat begitu pantas di tubuh idealnya.


“Saya ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini,” jawab Asena. Asena melirik ke arah resepsionis yang satunya lagi dan lelaki itu sedang menatapnya sekarang, Asena buru-buru menatap ke arah lurus ke depan.


“Apakah sebelumnya sudah membuat janji?” tanya sang resepsionis.


Asena menggelengkan pelan kepalanya kemudian berkata, “Saya di suruh mengantarkan makanan untuk pemilik perusahaan ini,” jawab Asena jujur.


“Siapa nama pemilik perusahaan ini?” tanya resepsionis cantik itu yang merasa aneh karena sejak awal perbincangan perempuan yang ada di hadapannya ini tak sekalipun menyebutkan nama pemilik perusahaan ini.


Asena menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebab ia tak tahu siapa nama bos nya. Dan tadi Pak Dani hanya mengatakan jika ia di suruh mengantarkan makanan ini pada bos baru mereka. Kenapa Asena bisa secerobon ini dan ia juga tidak membawa ponsel jadi tak bisa menghubungi orang yang ada di restoran, sedangkan mobil yang mengantarkan dirinya datang kemari pastilah sudah kembali ke restoran sekarang.


“Sa-saya,tidak mengetahui namanya,” jawab Asena jujur.


Sang resepsionis itu hendak membuka suara untuk memaki Asena tetapi telepon yang ada di sampingnya berdering membuat sang resepsionis mengurungkan niatnya untuk memaki perempuan yang ada di hadapannya sekarang kemudian memilih mengangkat teleponnya.

__ADS_1


“Pak Dani bisa ngamuk jika sampai aku kembali membawa makanan ini dan aku juga bisa langsung di pecat jika pemilik perusahaan tidak makan siang karena aku terlambat membawa makanan untuknya,” batin Asena dengan kepala yang tertunduk penuh kebingungan.


“Nama kamu Asena?” tanya sang Resepsionis.


“Ya, Nona,” jawab Asena dengan menatap perempuan itu.


“Ikut saya ke ruangan presdir sekarang,” kata resepsionis cantik itu.


“Baik,” jawab Asena. Asena melihat dengan sangat jelas jika sang resepsionis kini sedang mengamatinya dengan manik mata tajam dan seakan tidak suka. Asena berpura-pura tidak tahu toh setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi untuk apa meributkan hal yang tak penting. Kehidupan Asena selama ini sudah susah jadi tak perlu mempersulit keadaannya dengan perduli orang-orang yang menatapnya penuh akan kebencian.


Saat ini Asena dan juga resepsionis tersebut sudah berada di depan ruangan presdir.


“Terima kasih atas nasehatnya,” kata Asena. Sepertinya perempuan ini tak seburuk apa yang Asena pikirkan tadi buktinya ia masih menasehati Asena sekarang.


“Jangan berterima kasih padaku, karena aku melakukan semua itu juga supaya terhindar dari masalah.” Setelah bicara perempuan itu langsung membalikkan tubuhnya melangkah menjauh dari ruangan ini.


“Ternyata dia memang galak,” ujar Asena sembari masih melihat ke arah punggung perempuan itu yang kini berjalan semakin menjauh darinya.


Asena merasa sangat gugup sekali ketika hendak bertemu dengan majikan barunya sebab Nana mengatakan jika semua pekerja yang ada di restoran masih tak mengetahui rupa majikan baru mereka bahkan namanya saja seakan di rahasiakan dari semua orang sungguh misterius sekali. Asena menarik nafas dalam kemudian menghembuskan perlahan dari mulut dan setelah merasa jika dirinya jauh lebih tenang sekarang Asena pun langsung mengarahkan punggung tangannya ke pintu bercat hitam di hadapannya sekarang.


“Masuk!" titah seseorang yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Asena mulai memutar kenop pintu kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Asena mengedarkan pandangannya dan ia melihat dengan begitu jelas jika lelaki yang ada di dalam ruangan ini sedang duduk di kursi kebesarannya dengan posisi membelakangi Asena. Sungguh lelaki yang begitu misterius sekali. Asena mengedarkan pandangannya ke sekitar dan terlihatlah nuansa hitam melekat sempurna di dalam ruangan ini. Semua perabotan dan juga dinding ruangan ini berwarna hitam dan beruntunglah lampunya menyala warna putih terang dan andaikan warna hitam juga maka Asena tak akan bisa melihat.


“Aku harus buru-buru memberikan makan siang ini padangnya dan langsung keluar dari ruangan ini, entah mengapa memasuki ruangan ini seakan aku masuk ke dalam film horor yang begitu menyeramkan sekai,” batin Asena seraya merasakan jika bulu halus yang ada di sekitar tubuhnya kini meremang dengan begitu sempurna.


“Tu-tuan ini makanan yang telah Anda pesan,” ujar Asena tergagap karena rasa gugup yang kini sedang menyelimuti hatinya.


“Kau sajikan di atas meja!” titah lelaki asing itu tanpa melihat ke arah Asena.


Asena meneguk salivahnya sendiri, entah mengapa suara lelaki itu begitu tidak asing di indra pendengarannya. Asena segera menepis apa yang ada di dalam benaknya sekarang dan ia buru-buru menuruti apa yang lelaki misterius itu katakan supaya ia lekas keluar dari ruangan menyeramkan ini dan kembali bekerja di restoran.


“Baik Tuan,” jawab Asena. Tak butuh waktu lama kini Asena sudah menaruh makanan itu di atas meja dengan sangat rapi sekali. Tapi makanan ini begitu banyak jika hanya untuk satu orang saya, Asena kembali menepis pemikirannya itu dan lebih memilih melakukan perintah majikan barunya.


“Tuan sudah saya siapkan makanannya di atas meja” kata Asena seraya menundukkan kepalanya.


Suara sepatu pantofel mulai terdengar mengetuk-ngetuk ruangan ini membuat jarak di antara Asena dan juga majikan barunya mulai terkikis. Asena memejamkan matanya dan dengan sekujur tubuh yang membeku karena rasa takut. Ingin segera kabur keluar dari ruangan ini tapi Asena mana berani melakukan hal kurang ajar seperti itu,  bisa-bisa setelah sampai di restoran maka ia akan langsung kehilangan pekerjaannya.


“Kau tak mengenal aku, Asena.” Majikan baru Asena bicara dengan mengangkat dagu Asena kemudian mengangkat dagu Asena mengunakan satu jari telunjuknya hingga keduanya mulai beradu pandang.


“Tuan Altair,” cicit Asena kaget.


 

__ADS_1


__ADS_2