Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Pelanggan Pertama


__ADS_3

Zevana melangkah masuk ke dalam rumahnya kemudian perempuan itu memanggil-manggil nama Sima dengan berteriak-teriak bagaikan dirinya sedang berada di tengah hutan. Yesi yang sedang duduk di ruangan tengah rumah ini langsung melangkah menghampiri Zevana yang kini mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di dalam ruangan tamu.


"Zevana ada apa? Kenapa kau memanggil nama Sima dengan berteriak-teriak seperti orang yang sedang kesurupan?" tanya Yesi setelah ia menghempaskan tubuhnya di sofa yang berbeda dengan Zevana.


"Tadi aku pergi ke perusahaan Gerden Group dan aku berniat untuk mengajak Altair makan siang bersama namun, tidak disangka perempuan sialan itu justru muncul dan mengacaukan segalanya," kata Zevana ambigu tanpa menyebutkan nama Asena.


"Siapa perempuan yang kamu maksud?" tanya Yesi yang merasa penasaran dengan perempuan yang Zevana maksud.


"Asena memangnya siapa lagi. Perempuan murahan itu bahkan mencoba mencuri perhatian Altair hingga aku diusir keluar dari ruangan tersebut." Zevana bercerita dengan menggenggam kedua tangannya begitu erat seakan perempuan itu mencoba menggenggam amarahnya.


Terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat ke arah mereka hal itu membuat Zevana dan juga Yesi mengalihkan pandangannya ke asal suara tersebut dan terlihatlah Sima yang sedang berjalan menghampiri keduanya.


"Apakah tadi Nona Zevana memanggil saya?" tanya Sima yang kini sudah berada di hadapan kakak beradik itu. Sima bisa merasakan jika ada hawa dingin yang mencekam dan tersirat dari kedua saudara itu ketika bersitatap dengannya.


"Kau sapu halaman rumah sendirian sekarang!" perintah Zevana kepada Sima. Zevana mungkin tidak bisa membalas dendam kepada Asena, tetapi perempuan itu bisa melampiaskan kebenciannya kepada wanita paruh baya yang telah melahirkan perempuan sialan itu.


"Tadi pagi saya sudah menyapu halaman rumah Nono Zevana," lapor Sima.


Zevana langsung beranjak berdiri dari posisi duduknya kemudian mendorong Sima hingga perempuan paruh baya itu terjatuh di lantai. Sima memekik kesakitan dengan wajah yang nampak pucat, tetapi tak ada yang memperdulikan hal itu. Semua pelayan takut ketika ingin membantu Sima karena kakak beradik itu terkenal kejam dan siap memecat siapa saja yang berani menentang perintah mereka.


"Kau itu bekerja di rumah ini berani sekali membantah kata-kataku! Sekarang lekas bersihkan halaman rumah sebelum bersih kamu dilarang masuk ke dalam rumah ini jika tak ingin aku pecat detik itu juga," kata Zevana yang mulai melampiaskan amarahnya kepada Sima.


***

__ADS_1


Entah sudah ke berapa kali Asena mondar-mandir ke sana kemari sembari melirik ke arah halaman rumah ini. Perempuan paruh baya yang begitu iya sayangi masih juga belum pulang bekerja padahal sekarang sudah pukul 09.00 malam.


"Kenapa Mama belum pulang bekerja juga? Ini sudah kelewatan batas jika sampai majikannya membiarkan Mama berada di sana," kata Asena yang sudah dari awal curiga kepada majikan mamanya yang mempekerjakan Sima terus-terusan dan tak memberikan perempuan kesayangannya itu makan.


"Aku tak bisa membiarkan semua ini, aku akan melihat sendiri apa yang terjadi di dalam rumah besar itu," batin Asena sembari melangkah keluar dari pintu rumahnya. Sebelum pergi perempuan itu mengunci pintu rumah ini terlebih dahulu dan baru saja ia menjejakkan kakinya di halaman rumah, terlihatlah Sima melangkah mendekatinya.


"Asena kau mau ke mana?" tanya perempuan paruh baya itu.


"Asena hendak mencari Mama, ini sudah pukul 09.00 malam dan Mama belum pulang bekerja juga apakah hari ini Mama mampir ke rumah sakit dulu untuk melihat lelaki itu?" tanya Asena yang malas menyebutkan cem sebagai Papanya.


"Asena kamu tak boleh berbicara seperti itu sayang, Mama sangat lelah sekali dan sekarang Mama akan langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuh lalu beristirahat." Sima tidak mau terlalu banyak bicara kemudian langsung masuk ke dalam rumah setelah ia membuka pintu rumah ini.


"Apakah Mama baik-baik saja?" tanya Asena yang mulai merasa cemas melihat kondisi perempuan paruh baya ini.


"Baiklah kalau begitu Mama langsung istirahat saja," kata Asena. Asena bisa menebak jika perempuan paruh baya ini pasti sangat lelah hingga Sima tidak menyadari jika kedua tangan Asena memerah karena luka bakar.


Asena mulai mencurigai tempat kerja mamanya dan ia pun akan mulai menyelidikinya jika sampai terbukti kalau majikannya itu membuat Mama yang sangat ia sayangi kesulitan di tempat kerjanya maka Asena tidak akan segan-segan untuk menyuruh mamanya berhenti bekerja.


***


Semua pekerja perempuan yang ada di dalam restoran ini melihat ke arah arsena yang baru saja melewati pintu utama restoran.


"Sepertinya dia sudah menggoda Tuan Altair sehingga lelaki kaya seperti itu mau menuruti permintaannya untuk tidak memecat Nana," kata seorang perempuan sembari membersihkan meja dari debu-debu.

__ADS_1


"Aku juga sudah menduga sejak dari awal ketika Tuan Altair makan satu meja dengannya di restoran ini waktu itu," sahut teman lainnya yang merupakan perempuan paruh baya.


"Cih! Dia sangat murahan sekali," hina teman lainnya saling bersahutan.


"Sabar Asena, abaikan saja apa yang mereka katakan, yang terpenting Nana tidak jadi di pecat dari perusahaan ini," batin Asena. Apa yang semua perempuan itu katakan ada benarnya juga, Asena memang kemarin menggoda Tuan Altair bahkan menci .... Argh! kenapa juga Asena harus membayangkan hal konyol itu lagi? Lelaki itu telah memiliki seorang kekasih.


"Asena," panggil Nana ketika melihat Asena melangkah masuk ke dalam dapur ini.


"Ya,"


"Terima kasih, karena kamu aku tak jadi di keluarkan dari pekerjaan ini," ujar Nana sembari memeluk tubuh Asena.


Asena melepaskan pelukan Nana kemudian berkata, "Apa yang kamu katakan ini, sudah seharian aku membantu kamu," kata Asena dengan mengusap pipi Nana perlahan.


"Asena. Ada pelanggan pertama yang meminta di layani oleh kamu," ujar Pak Dani sembari melangkah masuk ke dalam ruangan dapur ini.


Asena melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jam buka restoran baru saja lewat 3 menit dan sudah ada pelanggan?" tanya Asena kaget sebab ini baru kali pertama terjadi.


"Sepertinya pelanggan kita mengenal kamu sehingga ia tak mau di layani oleh pekerjaan lainnya," jawab Pak Dani. "Lekas temui dia dan jangan buat pelanggan kita merasa kecewa karena pelayanan yang lambat," sambung Pak Dani pada Asena.


"Baik, Pak," jawab Asena.


Asena menyambar buku daftar menu yang ada di atas meja kemudian melangkah ke luar dari ruangan dapur ini menuju pengunjungnya. Asena merasa tak asing dengan perawakan kedua perempuan ini dari arah belakang dan Asena pun berjalan ke depan kedua perempuan semampai itu.

__ADS_1


"Yesi, Zevana."


__ADS_2