Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Hukuman dari Asena


__ADS_3

Zevana baru bisa menghembuskan nafas lega setelah ia melihat jika Yessi tertidur dengan begitu lelap. Jika saja tanpa bantuan obat tidur makan adiknya ini sudah akan melakukan percobaan bunuh diri.


Setelah mendengarkan jika Zevana mengutus seseorang untuk membunuh Papanya, Yessi langsung berlari menaiki anak tangga rumah ini kemudian menuju kamarnya. Zevana tiba di saat yang tepat ketika Yessi hendak melompat dan Zevana yang begitu menyayangi Yessi tentu langsung menarik adiknya lalu memeluknya dengan begitu erat meskipun adiknya berontak tidak ingin ia sentuh. Yessi mengutuk lidahnya sendiri yang berbicara sembarangan tanpa melihat situasi yang ada.


Setelah di bujuk oleh Zevana akhirnya Yessi bisa tenang. Zevana menghembuskan nafas lega kemudian memberikan Yessi obat tidur agar adiknya tidak terus meracau tanpa sebab.


Selang beberapa waktu.


"Nona Zevana kami harus pulang sekarang," kata seorang pelayan setelah dia masuk ke dalam ruangan ini.


"Kenapa kalian pulang sekarang? Ataukah kalian sudah tidak mau bekerja lagi di tempat ini! Jika benar begitu maka pergilah aku bisa mencari ribuan pembantu seperti kalian," kata Zevana dengan begitu sombong sekali. Ini masih siang hari dan pekerjaan rumahnya sudah minta pulang ke rumah. Tentu saja Zevana murka dan apalagi Zevana sedang dalam kondisi yang kacau sekarang.


"Bukan masalah itu Nona Zevana, beberapa lelaki bertubuh kekar nampak memenuhi rumah ini di setiap sudut dan mereka meminta para pelayan dan juga penjaga rumah ini untuk pergi," kata seorang perempuan paruh baya dengan menundukkan kepalanya. Perempuan paruh baya itu gemetar karena begitu terkejut sekali ketika melihat banyak lelaki dengan jas hitam tiba-tiba saja turun dari mobil dan mengepung kediaman majikannya.


"Siapa yang berani memerintah di dalam rumah ini kecuali aku! Memangnya siapa yang telah mengutus laki-laki kurang kerjaan itu ke rumahku?" tanya Zevana kepada pelayan yang sedang berbicara dengannya sekarang. Zevana yakin jikalau Papanya pasti sedang sekarat sekarang jadi mana mungkin lelaki itu meminta beberapa pengawal untuk menjaga rumah ini.


"Saya tidak berani bertanya kepada mereka Nona Zevana, mereka semua terlihat begitu menakutkan sekali dan ini mirip seperti di drama-drama sinetron yang selalu saya lihat selama ini," jawab pelayan itu sembari berjalan di belakang Nona Zevana.


Zevana menatap ke arah bawah dan ia begitu terkejut sekali ketika melihat ada sekitar 20 pengawal yang tersebar di dalam rumahnya dan mereka menjaga setiap sudut rumah. Kemudian Zevana kembali masuk ke dalam kamar Yessi dan ia melangkah menuju ke balkon dan benar seperti apa yang Zevana duga, ternyata para pengawal itu juga terlihat menjaga halaman dan juga gerbang rumahnya seakan mencoba untuk mengurung Zevana dan juga adiknya di dalam rumah ini.


"Kalian keluarlah dan hubungi polisi serta ceritakan situasi yang terjadi di rumah ini!" perintah Zevana kepada pelayannya. Zevana tak memiliki pilihan lain kecuali meminta para pelayannya untuk pulang lebih awal.


"Nona Zevana, bolehkah saya bertanya sesuatu sebelum meninggalkan rumah ini?" tanya pelayan itu mencoba untuk memastikan sesuatu yang sejak dari tadi sudah bergentayangan liar di dalam pikirannya.


"Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran!" perintah Zevana.


"Beberapa hari yang lalu saya menemukan bercak darah di lantai, apakah terjadi sesuatu dengan Sima?" tanya pelayan itu dan Zevana langsung melihatnya dengan begitu tajam sekali. "Maafkan saya jika lancang berbicara, saya akan pergi dari rumah ini dan tadi saya sempat mendengar jika para pelayan itu menyebutkan nama Tuhan Altair, sepertinya mereka adalah utusan orang paling kejam di negara ini untuk menjaga rumah Anda." Usai bicara pelayan itu melenggang pergi begitu saja dengan hati yang bergemuruh penuh kebencian. Pelayan itu sudah bisa menebak jika memang majikannya lah dalang dibalik semua kejadian ini hingga menghilangnya Sima.

__ADS_1


Perempuan paruh baya ini adalah teman baik Sima, bahkan Sima juga sering membantunya. Sebagai ucapan terima kasih kepada Sima, pelayan itu pun membiarkan majikannya terkurung di dalam rumah besar ini.


***


Mobil yang asisten Lan kemudian berhenti tepat di halaman rumah Nona Zevana. Melihat rumah yang begitu megah dan juga mewah ini membuat hati Asena kembali berdenyut nyeri terutama ketika ia mengingat jikalau wanita yang begitu ia sayangi pulang dalam keadaan lelah dan juga lapar.


"Sepertinya mereka tak akan pernah kelaparan jika dilihat dari rumahnya yang begitu besar," kata Asena kepada Tuan Altair setelah mereka turun dari dalam mobil.


"Sebelumnya pasti mereka tak pernah kelaparan tetapi tidak untuk sekarang," jawab Tuan Altair.


Lan yang mendengarkan perbincangan mereka pun langsung melambaikan tangannya kepada tiga orang lelaki bertubuh kekar yang kini sedang berdiri di belakangnya.


"Apa yang perlu kami lakukan Tuan?" tanya seorang pengawal pada Asisten Lan.


"Buang semua makanan yang ada di dalam rumah ini dan jangan sisakan apapun!" perintah asisten Lan yang langsung dijawab anggukkan kepala oleh para pengawal bertubuh kekar itu.


"Perintahmu akan dikabulkan," jawab Tuan Altair setuju.


Zevana yang kini sedang duduk di ruang tengah rumah ini melihat kedatangan Asena dan juga Altair. Zevana mencoba membujuk Altair menggunakan wajah cantik dan juga memelasnya, perempuan itu berlari mendekat ke arah Altair dan Asena menatapnya tajam.


Di saat yang tepat Asena maju kemudian menjulurkan satu kakinya ke depan hingga membuat Zevana jatuh ke lantai setelah Tuan Altair memundurkan beberapa langkahnya ke belakang.


"Sakit sekali," rinti Zevana ketika tubuhnya mendarat sempurna di atas lantai. Hidung perempuan itu mengenai lantai dan mungkin saja patah jika dilihat dari cairan berwarna merah yang mengucur deras dari lubang hidungnya.


"Seperti itu pasti tidaklah sakit Zevana, lebih sakit Papa yang coba kau bunuh dan sekarang lelaki itu terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma," kata Asena tanpa merasa iba sedikitpun melihat kondisi perempuan yang ada di hadapannya sekarang.


"Altair kenapa kamu hanya diam saja lihatlah perempuan itu mencoba untuk memfitnahku, mana mungkin aku melakukan hal kecil seperti itu kepada Papaku sendiri," kata Zevana dengan isak tangisnya. Zevana memegangi hidungnya dengan meringis kesakitan.

__ADS_1


"Perempuan siapa yang kamu maksud? Asena?" tanya Tuan Altair balik sembari menatap ke arah Zevana dengan sorot mata dingin.


"Perempuan itu memangnya siapa lagi," kata Zevana masih mencoba untuk membujuk Altair dan menarik simpati lelaki itu. Zevana juga menunjuk ke arah Asena berada.


"Perempuan itu adalah istriku!" perkataan Tuan Altair membuat kedua bola mata Zevana membulat penuh. Zevana seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, lelaki yang dia ingin incar justru memilih pelayan miskin seperti itu untuk dijadikan istri!


"Kau terkejut Zevana?" tanya Asena dengan seringai liciknya. "aku lebih terkejut lagi ketika mengetahui perempuan kejam bak iblis sepertimu ternyata saudaraku! Aku sungguh merasa jijik sekali mengetahui kenyataan itu," kata Asena dengan tertawa penuh penderitaan. Zevana merasa geram sekali karena apa yang coba untuk ia sembunyikan justru terbongkar dengan begitu cepat bak membalikkan telapak tangan.


Dengan menahan sakit di hidungnya Zevana mulai beranjak berdiri dan menatap ke arah Asena tajam. Kali ini Zevana tak akan menahan diri lagi karena semua perlakuannya dan juga kebenaran ini telah terbongkar. Jadi untuk apa terus berusaha menjadi perempuan anggun yang baik hati. Altair juga tak memilihkan dan justru menikah dengan perempuan sialan itu.


"Semua ini terjadi karena kau, perempuan sialan! Andaikan pelayan sialan itu dan juga dirimu tak pernah masuk ke dalam kehidupan kami maka hidupku, Mama dan juga Yessi akan bahagia sekali," kata Zevana yang dengan tidak tahu diri justru menyalahkan Asena.


"Justru Mamaku lah yang terlebih dulu! Apakah kau tidak merasa jika yang kau ucapkan itu terbalik Zevana," kata Asena. "mana adikmu? Apakah dia tidur atau ingin bergabung dengan Mamanya di alam lain?" tanya Asena mencoba untuk memancing Zevana. Asena tahu Zevana begitu menyayangi adik semata wayangnya.


"Jaga ucapanmu perempuan sialan!" bentak Zevana tak terima dengan ucapan Asena barusan.


"Jangan berani menunjuk ke arahku atau kau akan kehilangan satu jemarimu," kata Asena tidak main-main. Asena melihat ke arah Zevana dengan wajah datar dan kedua bola mata tak berkedip sedikitpun.


"Kenapa dia jadi seperti ini? Perempuan ini sebelumnya terlihat begitu lemah lembut dan juga penakut, tapi lihatlah sikapnya sekarang sorot matanya itu mirip seperti seorang iblis yang tak takut akan hal apapun," batin Zevana mulai bergidik melihat perubahan sikap Asena.


"Kau masih terkejut dengan perubahan sikapku?" kata Asena dengan tersenyum. "kaulah alasannya, kau yang telah merubah aku menjadi iblis dan sekarang lihatlah kekejaman yang akan aku lakukan." Asena berjalan ke arah Tuan Altair kemudian memeluk lelaki itu seakan menunjukkan jika dirinya tidak sendirian.


Zevana yang melihat sikap Asena terbakar api cemburu. Zevana mencoba untuk langkah menghampiri Asena, tetapi kedua pengawal segera menahan tangannya.


"Tuan Altair. Aku ingin mereka tidak diperbolehkan keluar dari kamarnya bahkan aku juga ingin mereka tidak bisa melihat sinar mentari," pinta Asena lagi. Zevana yang mendengarkan ucapan Asena langsung membulatkan kedua matanya tak terima dengan permintaan yang Asena keluarkan barusan.


"Permintaan mu adalah perintah untuk ku!" balas Tuan Altair. Tuan Altair benar-benar sudah jatuh hati pada Asena hingga ia akan menuruti apapun yang istrinya inginkan kecuali meminta jauh darinya.

__ADS_1


"Aku tak akan pernah memasukkan ke dalam penjara Zevana, tapi aku akan membuat hidupmu jauh lebih menderita daripada berada di balik jeruji besi." Setelah bicara Asena melangkah keluar dari rumah ini dan meninggalkan Zevana yang terus saja berteriak mengumpati keputusannya Asena terlalu membeku.


__ADS_2