Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Karma Di Bayar Tunai


__ADS_3

Saat ini Zevana sudah menggunakan gaun berwarna hitam dengan desain sederhana, tetapi menyempurnakan penampilannya. Perempuan itu memoles wajahnya menggunakan make up karena setelah pengawal itu pergi ternyata mereka menyalakan lampu kamarnya. Zevana melihat penampilannya dari depan cermin Dan ia terlihat begitu sempurna sekali walaupun tubuhnya nampak sedikit kurus. Selain kekurangan makan Zevana juga merasa hampir depresi terus terkurung di dalam ruangan ini.


"Aku akan merebut Altair darimu Asena! Dan setelah lelaki itu menjadi milikku maka kau akan hancur dan aku singkirkan dengan cara yang begitu menyakitkan," kata Zevana memotivasi dirinya sendiri untuk balas dendam kepada musuhnya. Zevana tak perduli jikalau mereka memiliki darah yang sama dari Papanya karena sejak dari awal Zevana memang tak pernah menyukai Asena.


"Aku akan menyelamatkan kamu Yessi, aku akan menjagamu sampai kembali pulih seperti sebelumnya," kata Zevana. Bayangan Yessi yang terus saja menangis dan juga menyalahkan dirinya sendiri membuat Zevana merasa tak tenang.


Terdengar suara pintu ruangan ini mulai terbuka dan nampaklah dua orang pengawal berdiri di depan pintu. Zevana menatap ke arah kedua pengawal itu kemudian berjalan santai seakan perempuan itu mengira jika ia akan benar-benar dilepaskan.


Para pengawal berjalan di belakang Zevana dengan sorot mata waspada. Tatapan Zevana terhenti pada satu titik yang begitu ingin ia hancurkan, siapa lagi jika bukan Asena.


Asena dan juga Tuan Altair duduk di sofa yang ada di tengah-tengah rumahnya dan mereka berdua terlihat begitu mesra sekali di mana Tuan Altair sedang menyuapi Asena.


"Waktu itu aku menyuapi kamu, tetapi kau tolak Altair dan lihatlah sekarang kau malah menyuapi seorang pelayan rendah hati," gerutu Zevana di dalam hati merasa geram dan juga terhina ketika melihat apa yang ada di hadapannya.


"Sayang aku sudah merasa kenyang," kata Asena sembari melirik ke arah Zevana.


"Hanya tinggal satu suap lagi habiskan," bujuk Tuan Altair kepada istrinya. Bahkan dengan penuh kasih sayang lelaki itu mengusap perlahan puncak kepala Asena dengan tatapan membujuk.


"Wajah perempuan itu membuat selera makanku hilang, tetapi demi dirimu maka aku akan melahapnya," ucap Asena sembari mengusap perlahan rahang kokoh suaminya. Asena lirik sekilas ke arah Zevana yang kini menggertakkan giginya karena rasa cemburu dan itulah yang Asena inginkan.


"Asena! bersenang-senanglah sekarang karena ketika Altair merasa bosan maka ia akan meninggalkanmu, mencampakkan kamu mirip seperti sampah yang teronggok di pinggir jalan," hardik Zevana dengan kata-kata kejam kepada Asena.

__ADS_1


"Tak perlu memikirkan nasibku Zevana! Sekarang pikirkan nasibmu sendiri," Hardik Asena balik yang tidak mau kalah apalagi mengalah seperti sebelumnya.


"Keluarlah kau dari rumah ini! Kau tidak diterima di dalam rumahku!" perintah Zevana dengan angkuh. Perempuan ini masih mengira jika ini adalah rumahnya.


"Asisten Lan, berikan buktinya pada perempuan itu supaya dia tak berani bersikap sombong lagi di hadapanku!" perintah Asena dengan suara yang terdengar angkuh dan juga arogan.


"Baik, Nona Asena," jawab Asisten Lan patuh.


Asisten Lan melangkah mendekati Zevana kemudian menyodorkan selembar kertas di hadapan perempuan itu yang bertuliskan jika rumah ini sudah berpindah menjadi milik Nona Asena.


Zevana yang membaca tulisan tersebut membulatkan kedua matanya tak terima dan perempuan itu pun mencoba untuk melangkah menghampiri Asena, tetapi kedua pengawal yang sejak dari tadi berada di belakangnya segera memegangi kedua tangan Zevana dengan begitu keras.


"Lepaskan aku, aku akan membunuh perempuan itu," teriak Zevana kepada kedua lelaki bertubuh kekar yang ada di sampingnya sekarang.


"Seret perempuan itu keluar dari rumah ini dan pastikan jika tak ada satupun orang yang membantunya atau mereka akan berurusan denganku!" kata Tuan Altair sembari melihat ke arah Zevana tajam.


"Altair kenapa kau melakukan ini padaku! Kenapa kau bantu perempuan itu dia bukanlah siapa-siapa," teriak Zevana ketika kedua pengawal itu menyeretnya keluar dari kediamannya sendiri.


Zevana terus saja berontak mencoba melepaskan dirinya, tetapi kedua pengawal itu tentu tak membiarkan hal tersebut sampai terjadi. Saat ini Zevana sudah berada di depan gerbang rumahnya dan dengan kejam kedua pengawal itu langsung mendorong tubuh Zevana jatuh tersungkur ke tanah.


Zevana memekik kesakitan ketika ia merasakan kakinya bergesekan dengan aspal jalanan, Zevana melihat ke arah lututnya yang berdarah dan terdapat beberapa luka gores juga di beberapa bagian kakinya.

__ADS_1


"Lekaslah pergi dari sini atau kau menunggu kami mematahkan kedua kakimu!" ancam para pengawal itu dengan mata yang menajam seakan sudah siap membunuh Zevana kapan saja.


Tanpa bicara Zevana dengan tertatih-tatih berjalan menjauhi kediamannya sendiri. sesekali Zevana melihat ke arah belakang tempat ke arah gerbang rumahnya dan nampaklah dua orang pengawal masih menatapnya.


"Aku akan balas dendam Asena! Aku tak akan pernah membiarkanmu hidup bahagia di atas penderitaanku," ancam Zevana sembari terus melangkah menjauh.


tanpamu sadar Zevana melangkah ke arah jalanan, perempuan itu sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga tak memperhatikan langkahnya. Mobil mewah berwarna hitam pengeluaran terbaru di bulan ini membunyikan klakson dari arah belakang Zevana berada, Zevana pun langsung membuyarkan pikirannya kemudian melangkah minggir.


"Kalau jalan itu perhatikan! Jangan sampai kau mengotori mobilku dengan bercak darahmu, kalau ingat mati jangan di depan mobilku, karena aku tidak ingin menjadi saksi meninggalnya seorang perempuan tak berguna sepertimu," kata perempuan yang sedang berbicara itu langsung melemparkan botol air mineral ke wajah Zevana.


apalah kalian masih ingat kejadian ini di beberapa episode yang lalu. Ya, Asena membalas perlakuan awal ia bertemu dengan Zevana dan sekarang Asena merasa sangat puas sekali ketika melihat wajah Zevana yang sudah merah merona karena emosi.


"Asena berani sekali kau melakukan ini padaku, perempuan sialan," umpat Zevana tak terima dengan apa yang Asena lakukan padanya.


Dari dalam mobil Asena menyeringai licik kemudian berkata, "Aku hanya membalas apa yang pernah kau lakukan padaku dulu Zevana, jangan bilang kalau kau sudah lupa karena aku masih mengingatnya dengan begitu jelas."


Asisten Lan segera menutup kaca mobil ini ketika melihat Zevana mulai bergerak mendekati kaca mobil Nona Asena. Kemudian mobil itu melaju dengan begitu kencang meninggalkan Zevana yang terus mengumpati mereka tiada henti.


"Apakah dia sudah gila berjalan dengan kondisi acak-acakan seperti itu, padahal tidak ada hujan, tetapi dia basah kuyup sungguh menyedihkan." kata seorang pengemudi mobil yang ada di belakang Tuan Altair.


"Siapa yang kau bilang menyedihkan! Justru nasibmu lah yang menyedihkan," umpat Zevana balik kepada pengemudi mobil itu.

__ADS_1


"Kau benar-benar sudah gila! Ambillah selembar uang ini untukmu anggap aku sedang membuang sial." Pengemudi mobil itu pun melajukan mobilnya menjauhi Zevana.


Zevana mengambil selembar uang itu dan hendak merobeknya, tetapi ia ingat dirinya tak memiliki uang sama sekali dan dengan kepahitan Zevana menggenggam uang itu dengan begitu erat karena hanya inilah harta yang ia miliki sekarang.


__ADS_2