
Pak Dani memperhatikan Asena yang sedang melamun sembari mencuci piring kotor yang ada di wastafel. Karena merasa cemas Pak Dani pun melangkah menghampiri Asena. Tak biasanya Asena melamun ketika bekerja.
“Asena, piring itu sudah hampir hancur karena kamu gosok sejak dari tadi,” gurau Pak Dani. Pak Dani selalu menggunakan kalimat yang bagus dan juga sopan ketika menegur pada pekerjaan hal itu membuat semua pekerja begitu menghormatinya.
Asena terjingkat kaget kemudian melihat ke arah piring yang masih ada di tangannya sejak dari tadi. “Maafkan saya, Pak Dani,” kata Asena dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Asena meringis malu ketika ketahuan melamun di hadapan atasannya.
“Ada masalah apa kamu dengan kedua perempuan itu? Hanya dengan satu kali lihat saja maka saya seakan sudah bisa menebak jika mereka tak menyukai kamu,” ujar Pak Dani jujur mengutarakan apa yang sejak dari tadi berada didalam pikirannya.
__ADS_1
“Perempuan yang lebih muda itu namanya Yesi dan ia adalah teman sekolah saya dahulu, kami tak berhubungan baik. Sedangkan perempuan yang jauh lebih dewasa itu namanya Nona Zevana, waktu itu saya tak sengaja melangkah di tengah jalan dan hampir saja supir Mbak Zevana menabrak saya dan mungkin dari sanalah perempuan itu mulai membenci saya,” jelas Natasya. Natasya tidak menceritakan jika susah beberapa kali ia bertemu dengan Zevana di perusahaan Tuan Altair karena menurutnya itu tak perlu untuk di ceritakan dan nanti malah akan menjadi bahan gibah para pekerja lainnya dan terutama kaum hawa.
“Ini sungguh alasan yang begitu konyol sekali dan jika di lihat dari wajah mereka yang nampak begitu mirip tentulah keduanya adalah kakak-beradik,” kata Pak Dani.
“Sepertinya memang begitu,” sambung Asena setuju.
Di tempat lain.
__ADS_1
“Pa,” perkataan Yesi menggantung di udara ketika ia melihat jika lelaki tangguhnya itu tak duduk sendirian, melainkan dengan perempuan lain, ya perempuan yang begitu ia benci-Sima. “Kenapa Papa bisa duduk dengan perempuan itu? Apakah mereka berdua saling mengenal?” tanya Yesi pada dirinya sendiri.
Yesi pun mengurungkan niatnya untuk menghampiri Papanya dan perempuan itu lebih memilih untuk mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Pertemukan aku dengan Asena-putri kita, dia berhak tahu jika aku adalah Papa kandungnya dan Putri kita juga harus mengenal saudaranya,” kata Zegan sembari menatap teduh ke arah Sima yang kini sedang menundukkan kepalanya.
Hati Yesi bergejolak penuh emosi bagaikan ada guntur yang menyambar-nyambar di dalam hatinya. Tatapan sendu yang Papanya berikan pada pelayan itu membuat hati Yesi berdenyut nyeri sekali ketika ia mengingat jika selama mamanya hidup tak pernah satu kali pun Papanya itu memberikan tatapan teduh seperti ini! Kebencian di hati Yesi semaki bertambah sempurna ketika ia mendengarkan jika Asena-musuhnya ternyata anak lain dari papanya.
__ADS_1
“Aku tak bisa membiarkan ini, aku tak bisa membiarkan perempuan itu mengungkapkan semuanya pada Asena!” ucap Yesi dengan melangkah kembali keluar dari rumah ini.