Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Celaka


__ADS_3

Yessi menceritakan apa yang ia dengar pada Zevana tanpa ada satu katapun yang terlewatkan dari bibirnya. Zevana yang mengetahui jika perempuan sialan itu adalah anak lain dari papanya pun sangat murka sekali. Zevana yang sedang emosi menggenggam erat punpen nya kemudian mengetuk-ngetukkan pulpen itu ke meja seakan perempuan itu sedang membayangkan jika yang di genggam saat ini adalah pisau yang siap menusuk Asena kapan saja.


“Zevana, aku tak mau Papa membagi kasih sayangnya dengan perempuan sialan itu! Kita harus bisa menyingkirkan perempuan yang melahirkannya supaya tak ada yang mengungkapkan kebenaran ini,” ujar Yessi dengan bulir air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.


Zevana mengusap puncak kepala Yessi sembari berkata, “ Kamu tenang saja Yessi, aku tak akan pernah membiarkan mereka membongkar semuanya, Papa pasti begitu mencintai pelayan rumah kita dan dia pasti juga akan menyayangi anaknya bersama dengan pelayan itu lalu menelantarkan kita, jadi lebih baik kita cegah saja kebenaran itu terungkap,” ujar Zevana mulai merencanakan hal buruk untuk menutup kebenaran yang ada.


Kebencian Zevana pada Asena semakin bertambah ketika ia tahu semua kebenaran ini, bukankah dunia begitu sempit sekali hingga mereka saling terhubung satu sama lain melalui masalah yang tak sengaja terjadi akhir-akhir ini.


“Sekarang Papa ada di mana?” tanya Zevana.


Di tempat lain.


“Sima, kamu tidak perlu menjadi pelayan di rumah ini karena mulai sekarang, aku akan mencukupi kebutuhan kalian,” kata Zegan dengan menatap wajah Sima yang nampak berkerut dan kecantikan itu mulai menghilang karena dimakan oleh usia, tapi Zegan tak perduli dan baginya Sima masih sama seperti dulu, perempuan cantik yang begitu ia cintai dan juga sayangi. Pemikiran itu tak akan pernah berubah.


“Zegan, aku sudah menikah dan kita tak akan pernah kembali seperti dahulu, jadi lupakan semuanya karena aku juga memiliki seorang suami,” kata Sima. Sima masih mencintai Zegan namun, ia tak mau kembali menjalin hubungan dengan lelaki dalam masa lalunya itu.


“Aku mencintai kamu dan perasaan ini masih sama seperti dahulu,” kata Zegan. “bahkan ketika mendiang istriku masih hidup, aku selalu membayangkan dia adalah kamu,” kata Zegan dengan nada suara terdengar parau.


“Hentikan dan lupakan semuanya. Kita fokus saja pada putri kita, dia patas mengetahui semuanya,” kata Sima.


Zegan melihat ponselnya yang ada di atas meja bergetar tiada henti menandakan jika ada seseorang yang mencoba untuk menghubunginya, Zegan langsung meraih ponsel itu dan mengangkatnya di dekat Sima. Sima hanya diam dengan kepala yang tertunduk, beruntung sekali karena para pekerja lain sedang sibuk berbelanja bulanan di supermarket jadi tak ada yang tahu jika Sima duduk di dekat Zegan yang notabennya adalah bosnya.


“Sima, aku harus kembali ke luar negri dan tetaplah bekerja di sini sampai aku kembali,” kata Zegan pada Sima. “Rahasiakan hal ini dahulu dari putri kita, karena aku ingin melihat ekspresinya secara langsung ketika mengetahui jika aku adalah Papa kandungnya dan bukan lelaki kejam itu,” pinta Zegan pada Sima.

__ADS_1


“Aku akan menuruti keinginan kamu dan cepatlah kembali supaya Asena lekas tahu siapa papanya yang sebenarnya,” kata Sima.


“Aku akan tetap merahasiakan siapa Asena dari kedua putriku yang lain. Aku takut mereka akan shock dan malah memusuhi Asena,” kata Zegan.


“Lihatlah, dia begitu mirip sekali dengan kamu mulai dari mata, hidung dan juga mulutnya,” kata Sima dengan menunjukkan potret Asena yang ada di dalam ponselnya.


***


Saat ini Asena sedang berdiri di halte untuk menunggu angkutan umum yang lewat, perempuan itu sesekali melihat ponselnya menunggu Sima membalas pesan darinya, tapi perempuan yang telah melahirkannya itu tak kunjung membalas pesan singkat darinya hingga membuat Asena merasa cemas sekali. Asena mengarahkan tangannya untuk memegang dadanya sendiri. Kenapa aku merasa seperti sedang terjadi sesuatu dengan Mama sekarang? Aku merasa jika Mama tidak sedang baik-baik saja,” batin Asena.


Asena beranjak berdiri dari posisi duduknya dan ia mencoba untuk menghubungi perempuan yang telah melahirkannya itu, tapi Sima tak kunjung mengangkat panggilan telepon darinya. Asena melambaikan tangannya ke arah angkutan umum yang hendak melewatinya dan angkutan umum itu pun berhenti lalu Asena lekas naik.


Selang beberapa waktu.


“Syukurlah jika dugaan aku tadi salah,” ujar Asena merasa senang ketika netranya melihat jika lampu yang ada di rumahnya telah menyala dan hal itu menunjukkan kalau Sima sudah pulang bekerja.


“Hallo, anak gadisku, kamu baru saja pulang bekerja?” tanya Cem dengan senyuman yang tanpa dosa. Lelaki itu sudah sembuh dan ia juga bisa berjalan walaupun masih pincang .


Asena tak menggubris apa yang Cem katakan barusan dan ia memilih untuk masuk ke dalam rumah kemudian mencari sosok perempuan tangguhnya itu. Kecemasan dan firasat yang tadi sempat Asena rasakan kini mulai kembali memenuhi pikirannya setelah Asena tak melihat keberadaan perempuan yang telah melahirkannya itu. Asena kembali melangkah menghampiri Cem yang ada di ruangan tamu rumah ini.


“Dimana Mama?” tanya Asena dengan air muka cemas yang tergambar jelas dari wajah lelahnya.


***

__ADS_1


Sore hari ini semua pekerjaan Sima telah selesai. Sima melangkah keluar dari rumah ini tetapi ketika di teras rumah perempuan paruh baya itu menghentikan langkahnya saat melihat ke arah mobil milik Nona Yessi berhenti di halaman rumah ini.


“Mau kemana?” tanya Yessi dengan nada suara judes.


"Semua pekerjaan saya telah selesai!" jawab Sima.


"Bersihkan ruangan kamar saya sekarang juga!" perintah Zevana setelah ia turun dari dalam mobil.


"Tadi saya sudah membersihkannya," jawab Sima.


"Bersihkan lagi!" perintah Zevana dengan melangkah masuk ke dalam rumah.


Selang beberapa saat kemudian.


Sima sudah selesai membersihkan ruanga kamar Zevana seperti apa yang majikannya itu katakan tadi. Sima berpamitan pulang ke rumah dan kakak beradik itu langsung setuju.


"Kenapa Nona Zevana dan juga Nona Yessi masih berdiri di atas anak tangga," batin Sima di dalam hatinya tapi perempuan itu mencoba untuk menepis pemikiran buruknya.


"Zevana, jangan lakukan, aku takut," kata Yessi berbisik di dekat telinga Zevana.


"Jika kau takut maka, biarkan aku saja yang melakukannya!" kata Zevana.


Zevana melangkah cepat kemudian mendorong Sima dari lantai atas rumah ini. Yessi membuka mulutnya kaget dengan wajah yang nampak pucat pasih.

__ADS_1


 


 


__ADS_2