
Semua penjaga toko ini tentulah tidak asing dengan wajah Tuan Altair yang sering berkeliweran di media sosial ataupun koran. Para penjaga itu segera melangkah menghampiri Tuan Altair kemudian berkata.
"Maafkan saya Tuan, perempuan miskin ini mencoba untuk melihat-lihat baju di toko kami tetapi Anda tenang saja saya akan mengusirnya keluar," kata penjaga toko yang tadi merendahkan Asena dengan kata-katanya.
Sang penjaga toko itu hendak memegang tangan Asena tapi didahului oleh Tuan Altair. Tuan Altair melihat ke arah penjaga toko itu tajam kemudian melirik ke arah Lan yang setia berdiri di belakangnya.
Pelayan yang tadinya hendak menyeret Asena keluar dari tempat ini pun langsung mengkaji ulang pemikirannya. Atau kamu mungkin perempuan ini adalah wanita Tuan Altair? tapi jika dilihat dari penampilannya yang sederhana dan terkesan kumuh sepertinya tidak mungkin. Itulah yang sedang penjaga toko itu pikirkan dengan tubuh yang bergetar.
"Pastikan besok kau sudah tidak ada di tempat ini," kata Lan dengan sorot mata yang tajam.
Asena pasti tidak tahu jikalau butik ini adalah milik Tuhan Altair bahkan ada puluhan butik milik Tuan Altair yang tersebar di mall ini. Lan membungkus dress yang tadi ingin Asena beli kemudian keluar dari toko tersebut.
Perempuan penjaga toko itu terasa sangat lemas sekali hingga tubuhnya merosot ke lantai dan terlihat beberapa temannya menghampiri perempuan itu dengan tatapan iba, perempuan itu memang selalu merendahkan dan juga memandang orang dari pakaian yang dikenakan dan mungkin ini sudah menjadi karma untuknya.
Asena menarik tangannya yang digenggam oleh Tuan Altair kemudian perempuan itu menatap ke arah lelaki tersebut dan berkata, "Kenapa Anda melakukan semua ini. Kasihan perempuan itu kalau sampai kehilangan pekerjaannya," kata Asena. Asena mungkin merasa malu ataupun marah ketika sang pekerja toko itu menghinanya tetapi apa yang pekerja toko itu katakan benar. Dan tak mungkin bisa membeli baju di dalam toko tersebut.
Tuan Altair mengusap kasar wajahnya karena merasa tidak habis pikir dengan perempuan di hadapannya. Perempuan itu tidak berterima kasih karena dia telah membantunya tetapi malah memakinya seperti ini sungguh ingin sekali Tuan Altair mencekik Asena, tetapi sorot mata perempuan itu selalu saja membuat Tuan Altair lemah dan juga tidak tega karena ada ketulusan yang terpancar dari manik biru tersebut.
__ADS_1
"Lan! Biarkan perempuan itu bekerja di sana!" titah Tuan Altair. Kalah, ya tuan Altair mengalah pada seorang perempuan unik di hadapannya sekarang. Tuan Altair merasa tertantang melihat sikap Asena yang terus mencoba untuk menolaknya tidak seperti kebanyakan perempuan yang selalu tunduk pada perintahnya.
"Baru kali ini saya melihat Tuan Altair menarik ucapannya lagi dan itu hanya karena perempuan di hadapannya," batin Lan.
"Sekarang apakah kau sudah puas!" kata Tuan Altair melihat ke arah Asena dengan wajah datarnya.
"Hem," jawab Asena. Asena merasa terancam ketika berada di dekat Tuan Altair lalu perempuan itu pun buru-buru membungkukkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi, tetapi tangan Tuan Altair langsung menarik baju yang Asena kenakan membuat perempuan itu kembali menatap ke arah sang empunya tangan.
"Ada apa lagi Tuan?" tanya Asena dengan kepala yang tertunduk. Sesungguhnya Asena sangat takut sekali berada di dekat Tuan Altair apalagi para pengawal di belakang lelaki itu selalu menatapnya seperti seorang musuh.
Asena mengedarkan pandangannya ke sekitar dan nampaklah orang-orang yang ada di mall ini menatapnya sekilas kemudian kembali melanjutkan pandangannya. Para pengawal Tuan Altair langsung memberikan pelototan tajam kepada mereka yang mencoba memperhatikan sang majikan oh ... sungguh dosa apa yang telah Asena lakukan di masa lalu sehingga ia selalu bertemu dengan lelaki yang ingin ia hindari.
"Membeli barang murah, Tuan," jawab Asena jujur. Asena berbicara dengan nada datar tidak seperti kebanyakan perempuan yang akan mengucapkan nada lembut pada Tuan Altair.
"Kalau begitu berjalanlah denganku dan aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan," kata Tuan Altair. "Aku juga akan membayar kamu setara dengan gaji kamu satu bulan," sambung Tuan Altair yang sudah tahu jika Asena tak akan pernah menolak perihal uang.
"Tidak Tuan, terima kasih saya lebih suka membeli barang itu menggunakan uang saya," kata Asena. Entah mengapa Asena selalu merasa terancam jika berada di dekat Tuan Altair dan menghindar adalah pilihan yang tepat untuknya. Asena ingin menerima tawaran itu, tapi ia merasa ragu.
__ADS_1
"Aku akan menambahkan sejumlah uang jika kau mau tiga bulan gaji kami, apa cukup?!" Tuan Altair bernegosiasi dengan perempuan di hadapannya.
Asena membuka mulutnya hendak menolak tetapi bayangan Mamanya yang selalu ditagih oleh rentenir-rentenir itu membuat Asena menelan bulat-bulat kata-kata yang sudah berjejer rapi dan siap keluar dari tenggorokannya.
"Baiklah saya bersedia," jawab Asena.
Asena berjalan di belakang Tuan Altair karena ia merasa tidak pantas berada di samping lelaki kaya tersebut. Asena melirik ke arah Lan yang kini sedang memintanya untuk berjalan di samping Tuan Altair, tentu saja Asena langsung menolak dengan gelengan kepalanya. Tuan Altair yang melihat akan hal itu merasa gemas sendiri pun langsung menarik tangan Asena hingga kini berdiri sejajar dengannya.
"Berjalanlah di sampingku!" titah Tuan Altair.
Asena tidak menjawab iya hanya menganggukkan kepalanya setuju.
"Selama ini semua perempuan selalu merengek dan ingin berjalan di sampingku tetapi aku justru meminta perempuan ini untuk berjalan di sampingku." Tuan Altair merasa dunia seakan terbalik sekarang. Dan ia tidak pernah menduga akan melakukan ini, meminta perempuan untuk berjalan di sampingnya, sebenarnya Tuan Altair bisa memanggil puluhan perempuan untuk berjalan di sampingnya sekaligus, tetapi entah mengapa yang ia inginkan hanya Asena.
Tuan Altair masuk ke dalam salah satu butik yang menjual perlengkapan baju perempuan. Asena mengedarkan pandangannya dan ia terpaku akan satu dress berwarna putih polos namun terlihat begitu anggun sekali. Asena melangkah ke arah dress tersebut kemudian satu hal yang langsung ia lakukan adalah mengecek barcode yang tertera di baju tersebut.
"Satu helai baju ini seharga 4 bulan gajiku," batin Asena menjerit. Ia bisa langsung jadi gelandangan dan juga tidak makan berbulan-bulan kalau sampai membeli satu baju ini.
__ADS_1
Asena pun mengalihkan pandangannya kemudian memilih baju yang lain. Asena masih ingat kalau mamanya meminta untuk Asena membeli 1 baju dan itulah yang sedang Arsenal lakukan sekarang.
Tuan Altair melirik ke arah Lan yang langsung menganggukkan kepalanya. Sang penjaga toko segera mengemas baju yang Asena pegang.