Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Sima Menghilang


__ADS_3

Saat ini Tuan Altair sedang duduk di samping Asena. Lelaki itu mengeraskan rahangnya dengan kedua tangan yang sudah membentuk suatu tinju. Darah Tuan Altair seakan mendidih di balik kulitnya ketika lelaki itu tahu jika bedebah sialan itu berani menjual perempuan yang ingin ia jaga.


Sesekali Asena mulai melirik ke arah Tuan Altair yang hanya diam saja tanpa mengucap satu kata pun. Asena tiba-tiba merasa ketakutan sendiri saat melihat sorot mata tajam lelaki itu yang seakan siap menghabisi siapapun yang ada di hadapannya.


Lan sibuk mengemudikan mobilnya tanpa mengucap satu kata pun, bahkan lelaki itu terus saja memfokuskan pandangannya ke arah jalanan. Lebih baik berpura-pura tidak tahu daripada terkena masalah ketika saling bertatapan dengan Tuan Altair.


"Tuan Altair, sekali lagi terima kasih karena Anda telah menyelamatkan saya," kata Asena.


"Bedebah sialan itu sekarang ada di mana Lan?" tanya Tuan Altair pada asisten Lan yang selama ini selalu bisa iya andalkan.


Lan menghela nafas pelan merasa lega karena sebelum diperintah oleh majikannya, lelaki itu tadi sudah mengecek keberadaan bedebah sialan yang sudah membuat Tuan Altair naik darah seperti sekarang ini. Lan memang selalu melakukan sesuatu lebih dahulu tanpa menunggu diperintah oleh majikannya.


"Dia sedang berada di tempat Kasino seperti biasa," jawab Lan jujur sembari menatap ke arah belakang menggunakan kaca spion yang ada di atas kepalanya sekilas kemudian kembali fokus menatap ke arah jalanan.


Setelah mendengarkan ucapan Lan, Asena merasa sangat kesal sekali dan ia hendak menggenggam kursi mobil yang sedang dirinya duduk, tapi tanpa sengaja perempuan itu justru malah menggenggam tangan Tuan Altair dengan begitu erat. Setelah menyadari apa yang dirinya lakukan Asena hendak melepaskan genggaman tangannya dan tidak disangka Tuan Altair justru menggenggam tangan Asena dengan begitu erat seakan lelaki itu tidak rela jikalau kedua tangan mereka terpisah.


"Tuan Altair. Maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud lancang seperti ini," kata Asena pada Tuan Altair. Jantung Asena berdetak dengan begitu kencang, ini pasti karena rasa khawatir yang saat ini sedang menyelimuti sekujur tubuh Asena.


"Aku tahu dan tetaplah seperti ini. Kamu tidak perlu melakukan apapun! Tetaplah duduk tenang di rumah dan jaga Mamamu, biar aku yang berikan pelajaran kepada bedebah sialan itu! Sejak dari awal seharusnya memang aku membunuhnya saja, tetapi aku takut jikalau Mamamu akan sedih karena kehilangan suaminya jadi aku meminta pengawalku untuk membawanya ke rumah sakit." Ini untuk kali pertama Tuan Altair menjelaskan sesuatu kepada seseorang padahal biasanya lelaki itu sangat irit sekali bicara namun, kali ini hal itu tak terlihat lagi dan justru Tuan Altair terlihat sangat cerewet sekali.


"Lan kemudikan mobil ini dengan benar atau kau mau penglihatanmu hilang dengan sekejap mata!" ancam Tuan Altair.


"Maafkan saya Tuan," kata Lan kemudian kembali fokus menatap ke arah jalanan. Lan yang kaget ketika mendengarkan Tuan Altair berbicara panjang lebar pun tanpa sengaja melihat ke arah lelaki itu cukup lama. Tapi Lan termasuk beruntung kali ini karena Tuan Altair hanya memberikan peringatan padanya dan tidak memotong gajinya.

__ADS_1


Asena menundukkan kepala tanpa menjawab ucapan Tuan Altair barusan. Tuan Altair yang melihat Asena diam saja pun segera memusatkan pandangannya ke arah perempuan itu dengan kening yang sudah berkerut penuh tanda tanya.


"Ada apa?" tanya Tuan Altair.


"Sebelum Kedua lelaki bertubuh kekar itu membawa saya. Saya sudah mencari keberadaan Mama dan tidak mendapatinya di manapun. Bahkan saya juga sudah pergi ke tempatnya bekerja namun, satpam rumah itu mengatakan jikalau Mama sudah pulang sejak dari tadi sore. Tapi entah mengapa saya merasa ada yang ganjal seakan Satpam rumah besar itu sedang menyembunyikan sesuatu hal yang besar jika dilihat dari guratan kesedihan dan juga rasa bersalah yang nampak jelas dari keningnya ketika berbicara dengan saya," jelas Asena panjang lebar kepada Tuan Altair.


"Kalau begitu kita cek keberadaan Mama kamu di rumah dan jikalau tidak ada maka aku akan mencarinya," kata Tuan Altair menawarkan bantuan.


Asena mengangkat pandangannya melihat ke arah Tuan Altair sekilas lalu kembali menundukkan kepalanya. "Anda menawarkan bantuan kepada saya apakah ini gratis?" tanya Asena mencoba untuk memastikan. Seorang pembisnis seperti Tuan Altair mana mungkin mau melakukan suatu hal secara sukarela tanpa ada yang lelaki itu inginkan.


Tuan Altair menarik salah satu senyuman devilnya di bibirnya kemudian lelaki itu berkata, "Aku sungguh tidak menduga jika kamu begitu pandai sekali. Aku memang tak mungkin melakukan suatu hal tanpa menguntungkan diriku dan sekarang apa yang bisa kau berikan kepadaku supaya aku membantumu mengurus lelaki sialan itu dan juga menemukan keberadaan mamamu?" tanya Tuan Altair balik kepada Asena.


"Sebaiknya kita bicarakan nanti setelah memastikan kalau Mama sudah ada di rumah atau belum," jawab Asena yang tidak mau asal mengambil keputusan yang nantinya bisa ia sesali.


Kediaman Zevana.


Malam ini Zevana dan juga Yessi tertidur di dalam ruangan kamar mereka masing-masing. Zevana tertidur dengan sangat nyenyak sekali ketika ia membayangkan jikalau perempuan paruh baya itu telah berhasil dirinya singkirkan dengan begitu mudah dan sekarang tinggal menyingkirkan satu perempuan sialan lagi. Zevana sungguh memiliki hati yang sedingin balok es. Bahkan perempuan itu bisa membunuh siapa saja hanya untuk mendapatkan apa yang dirinya inginkan, kebenaran tentang siapa Asena harus disembunyikan dari siapapun.


Zevana tiba-tiba membuka matanya ketika ia mendengarkan teriakan Yessi dari dalam kamar adiknya itu. Zevana buru-buru turun dari dalam ranjang kemudian berlari menuju kamar Yessi yang tidak terkunci.


"Yessi kau kenapa?" tanya Zevana sembari berjalan mendekati Yesi yang kini masih berbaring di atas ranjang dengan terus berteriak.


"Yessi bangunlah kau hanya sedang bermimpi," kata Zevana sembari mengguncang kedua bahu adiknya itu hingga akhirnya teriakan histeris Yessi mulai terhenti dan kedua pelupuk mata perempuan itu terpecah.

__ADS_1


Yessi langsung memeluk tubuh Zevana dengan tangisan yang terdengar memilukan sekali.


"Zevana, aku takut, Zevana aku takut," kata Yessi di sela-sela Isak tangisnya.


"Apa yang kau takutkan? Aku ada di sini bersamamu?" tanya Zevana dengan melepaskan pelukannya dari Yessi kemudian perempuan itu mengusap air mata yang sudah membasahi kedua pipi adiknya.


"Aku takut jikalau Papa tahu apa yang kita rencanakan. Aku sangat takut Zevana, aku sangat takut Zevana," kata Yessi sembari menatap kekanan dan juga ke kirinya dengan wajah yang sudah pucat pasih.


"Tak akan ada yang tahu! Bahkan rekaman CCTV juga sudah aku hapus! Percayalah jika kita berdua tidak membuka suara maka tak akan ada yang tahu," bujuk Zevana mencoba meyakinkan adiknya.


Di tempat lain.


Asena berlari masuk ke dalam rumahnya yang terbuka lebar. Perempuan itu beberapa kali memanggil nama Sima namun, perempuan paruh baya yang ia sebutkan namanya tidak kunjung menjawab.


"Mama ada di mana sekarang?" jerit Asena dari dalam rumah histeris sembari mengacak-acak rambutnya kemudian menjatuhkan tubuhnya di lantai.


Tuan Altair berlari masuk ke dalam rumah lalu lelaki itu melihat Asena duduk di lantai dengan lemas. Altair yang tidak tega melihat kondisi Asena langsung memeluk tubuh perempuan itu mencoba untuk menenangkannya.


"Mama belum pulang bekerja dan ponselnya juga tidak aktif bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Apakah mungkin lelaki sialan itu yang telah mencelakai Mama," kata Asena menuju Cem yang melakukannya. Karena secara kebetulan mamanya tidak ada kabar sama sekali ketika Cem keluar dari rumah sakit.


Tuan Altair mengusap perlahan punggung Asena kemudian berkata, "Tenanglah dan tunggu di rumah, aku akan mencari keberadaan mereka berdua!" kata Tuan Altair sembari membingkai wajah Asena menggunakan kedua tangannya, lalu ibu jari lelaki itu mengusap bulir bening yang sudah membasahi pipi perempuan di hadapannya.


"Aku takut terjadi sesuatu pada Mama," kata Asena dengan memeluk tubuh Tuan Altair. Entah mengapa Asena merasa tenang ketika berada di hadapan lelaki ini padahal biasanya Asena selalu saja mencoba untuk menjaga jarak dari Tuan Altair. Entahlah Asena tak tahu dengan apa yang ia rasakan tapi perasaan khawatir lebih mendominasi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2