Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Siapa Pemiliknya


__ADS_3

Setelah Tuan Altair dan juga orang-orangnya pergi kini hanya ada Sima dan juga Asena di dalam ruangan kamar ini. Asena menceritakan kebaikan Tuan Altair kepada Mamanya, hal itu tentulah membuat perempuan paruh baya itu merasa sangat senang sekali karena lelaki kaya seperti itu bisa menjaga putrinya, begitulah kira-kira yang saat ini sedang Sima pikirkan.


Asena meraih tas kerjanya lalu mengeluarkan sejumlah uang yang tadi sempat ia dapatkan dari Tuan Altair kepada mamanya. Sima tentulah sangat terkejut ketika mengetahui kalau putrinya memiliki begitu banyak uang, tangan Asena masih menggantung di udara karena Sima tidak kunjung menerima uang yang disodorkan oleh putrinya.


"Kenapa Mama tidak mau menerima uang ini? Asena bisa memastikan jikalau uang ini bukan hasil mencuri ataupun menjual diri karena tadi ketika sedang membeli baju Asena bertemu dengan Tuan Altair dan entah apa alasannya tiba-tiba lelaki itu meminta Asena untuk menemaninya berbelanja kemudian Tuan Altair juga memberikan Asena beberapa baju beserta uang," jelas Asena jujur.


"Apakah lelaki itu pernah mendekati kamu?" tanya Sima. Sima meragukan kebaikan Tuan Altair sebab di jaman sekarang apakah masih ada orang yang benar-benar tulus memberikan uang sebanyak itu.


"Tidak, apakah Mama tak bisa melihat wajahnya yang nampak Arogan dan juga pemilih serta mulutnya yang pedasnya mengalahkan cabe. Mana mungkin orang sepertinya mencoba untuk mendekati Asena yang berasal dari keluarga miskin sedangkan lelaki sepertinya bisa mendapatkan artis terkenal dengan sangat mudah," jawab Asena kepada Mamanya. Asena menghembuskan nafas lega ketika ia melihat Sima kini telah menerima uang yang telah ia sodorkan. Bisakah Asena mengganggap jika Sima sudah percaya dengan penjelasannya barusan? Ya, sepertinya memang begitu.


"Asena. Maafkan Mama karena telah membebani kamu, Mama akan bekerja lebih giat lagi supaya hutang-hutang Papa lekas lunas," kata Sima dengan berderai air mata.


Asena langsung memeluk tubuh perempuan paruh baya itu dan ia ikut menangis bersamanya. Ruangan ini yang nampak sunyi seakan mendukung suasana hati yang telah pilu memikirkan takdir kehidupan mereka berdua. Tapi satu kali pun kedua perempuan itu tak pernah meratapi nasibnya dan mereka menerima semuanya dengan lapang dada sebab tuhan pasti memiliki rencana yang lain yang tak mereka ketahui.


"Sekarang tidurlah," kata Sima dan Asena langsung menganggukkan kepalanya setuju.


Sebelum Sima beranjak berdiri dari posisinya, Asena menggenggam tangan perempuan paruh baya itu dengan tatapan mata nampak sendu. "Mulai besok sebaiknya Mama tidak perlu bekerja, Asena akan mencari satu pekerjaan paruh waktu supaya hutang-hutang Papa segera bisa kita lunasi," kata Asena yang tidak tega jika melihat mamanya bekerja menjadi pelayan di rumah orang lain.


Sima menggenggam kedua tangan putrinya kemudian perempuan itu terlihat menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dari mulut perlahan sebelum berkata, "Sayang semua ini adalah kesalahan Mama, Mama telah salah memilih seorang lelaki. Seharusnya Mama lah yang membayar semua hutang-hutangnya dan tidak membebani kamu," kata Sima menyalahkan dirinya sendiri .


Asena menggelengkan kepalanya perlahan kemudian menjawab, "Ini adalah tugas Asena sebagai seorang putri. Ini bukan kesalahan Mama lagi pula Asena sendiri yang berinisiatif untuk membantu Mama membayar hutang-hutang papa," jawab Asena yang tidak ingin perempuan paruh baya itu menyalahkan dirinya sendiri.


"Sekarang lekas lah tidur. Hari sudah larut malam dan besok kamu harus libur bekerja terlebih dahulu karena kakimu pasti akan masih terasa sakit." Asena menganggukkan kepalanya lalu Sima berjalan keluar dari ruangan ini.


Sima menyandarkan tubuhnya di pintu kamar putrinya dengan air mata yang berjatuhan. Perempuan paruh baya itu menggenggam uang yang telah putrinya berikan dengan hati yang tersayat-sayat pilu. sungguh Sima berharap semoga saja ada lelaki yang benar-benar tulus mencintai putrinya karena Asena berhak mendapatkan kebahagiaannya, putrinya itu adalah perempuan yang baik dan semoga Tuhan mengabulkan doa-doa nya.

__ADS_1


***


Mobil yang sedang Lan kemudian berhenti di lampu merah. Tuan Altair melihat keluar jendela dan nampaklah seorang bocah kecil yang sedang mengamen di samping mobilnya, hal itu bisa diperhatikan oleh Lan kemudian Lan mengambil sejumlah uang lalu membuka kaca mobilnya dan tentu saja pengamen kecil itu langsung melangkah menghampiri Lan dengan seulas senyuman bahagia.


"Tuan, terima kasih, tetapi ini terlalu banyak sekali untuk saya," kata pengamen cilik itu dengan polos.


"Simpanlah uangnya sebagian supaya kamu tidak merasa kelaparan," kata Lan dengan tersenyum. Lan memang memiliki wajah yang datar tetapi lelaki itu memiliki hati yang sangat baik sekali bahkan seringkali Lan Memberikan sebagian uangnya untuk para pengamen dan juga orang yang membutuhkan.


"Setiap harinya berikan makan tiga kali untuk para pengamen cilik itu dan kau suruh saja orang lain yang melakukannya tak perlu turun tangan sendiri!" titah Tuan Altair.


"Baik, Tuan," jawab Lan merasa sangat bahagia sekali.


Tuan Altair kembali menatap ke arah jalanan dan tidak sengaja ia melihat perempuan paruh baya yang kemarin malam ia bantu, ya perempuan itu adalah Mama dari perempuan itu-Asena


Sepertinya perempuan paruh baya itu berangkat bekerja jika dilihat dari tas bawaannya. Jika perempuan paruh baya itu berangkat kerja maka siapa yang menjaga wanita itu? Argh! Kenapa lagi-lagi Tuan Altair memikirkan tentang Asena?


Lan yang kaget dengan perintah itu langsung menghentikan mobilnya secara mendadak membuat Tuan Altair hampir saja terbentur kursi yang ada di hadapannya. Tuan Altair menatap ke arah Lan dengan tajam kemudian dengan ringan kakinya menendang kursi yang sedang Lan duduki hingga beberapa kali.


"Ma-maafkan saya Tuan," kata Lan seraya mengusap keringat dingin yang sudah membasahi keningnya sekarang. Lan sangat kaget mendengarkan perintah Tuan Altair, untuk apa restoran kecil seperti itu sedangkan Tuan Altair memiliki banyak restoran besar yang memiliki nama di beberapa negara. terlihatlah bayangan seorang perempuan polos yang selalu menolak Tuan Altair akhir-akhir ini. Lan pun menganggukkan kepalanya perlahan seakan mengerti alasan majikannya ingin memiliki restoran tersebut.


"Saya akan segera menghubungi pemiliknya," kata Lan.


"Hubungi sekarang!" titah Tuan Altair tak terbantahkan.


"Ba-baik Tuan," jawab Lan.

__ADS_1


***


Saat ini Asena masih berbaring di atas ranjang perempuan itu seakan sedang menikmati rasa nyeri yang berdenyut di kakinya. Sebenarnya Asena bisa berjalan menggunakan kaki kirinya perlahan, tetapi entah mengapa ia ingin berbaring di atas ranjang untuk beberapa saat. Sebenarnya bukan beberapa saat karena sejak semalam Asena benar-benar tidak turun dari atas ranjang.


Asena menyambar ponsel yang ada di atas nakas dalam jangkauannya dan tertulis lah nama Nana di layar ponsel tersebut. Tanpa menunggu waktu lama Asena langsung menggeser kursor warna hijau untuk mengangkat panggilan telepon sahabatnya.


"Nana. Apakah sudah kamu katakan kepada manager restoran jikalau aku libur kerja hari ini?" tanya Asena setelah panggilan telepon itu tersambung.


"Aku sudah mengatakannya tetapi bukan itu alasan aku menghubungimu," jawab Nana dari seberang sana.


"Ada masalah apa?"


"Pemilik restoran telah menjual restoran ini kepada orang lain, tetapi aku tidak tahu siapa pemilik restoran ini yang baru," Kata Nana menceritakan maksudnya menghubungi Asena. "kalau nanti aku sudah tahu maka akan aku kabari kamu kok. Namun, sekarang aku bekerja dulu dan kamu semoga lekas sembuh."


"Selamat bekerja." Asena mematikan sambungan telepon itu. Kini Asena menjentik-jentikkan jari telunjuknya di dagu seakan sedang mencoba menebak-nebak siapakah orang yang membeli restoran tempatnya bekerja secara mendadak. "Kenapa juga aku memikirkan hal itu, mau siapapun yang memiliki restoran itu tidaklah penting karena yang terpenting aku tidak dipecat," Kata Nana pada dirinya sendiri.


"Kira-kira sekarang Mama sudah sampai di tempat kerja apa belum ya?" batin Asena dengan menatap plafon kamarnya.


Di tempat lain.


"Apakah kamu tidak memiliki jam dinding di rumah? Lihatlah sekarang sudah pukul berapa, tetapi kau baru datang! Apakah kau pikir ini adalah tempat nenek moyangmu," cecar seorang perempuan cantik yang saat ini sedang menggunakan piyama tidurnya. Perempuan itu bernama Yesi-anak dari majikan Sima.


"Putri saya sedang sakit Nona, Maafkan jika saya berangkat terlambat tetapi saya berjanji tak akan mengulanginya untuk kali kedua," kata Sima. Tubuh Sima bergetar menahan sedih ketika ia dicecar dan juga dimaki oleh perempuan yang seusia dengan putrinya, hatinya begitu hancur tetapi Sima tidak boleh keluar dari pekerjaan ini karena ia tak mau Asena menanggung beban yang begitu berat sendirian, Sima menggigit bibir bagian bawahnya untuk menahan rasa sakit di hatinya akan makian yang anak majikannya berikan.


"Putri kamu hanya sakit! Dan bukan mati kenapa kau berlebihan!" kata Yesi sembari menaruh kedua tangannya bersedekap angkuh di dada. perempuan ini memiliki wajah yang cantik, tetapi tidak dengan hatinya. sungguh disayangkan sekali.

__ADS_1


"Nona. Anda boleh menghukum saya, tapi tolong jangan libatkan putri saya dalam kesalahan ini," mohon Sima dengan kepala yang tertunduk.


"Aku mungkin selama ini tidak bisa melakukan apapun padanya, tetapi aku bisa menyakitinya melalui dirimu," batin Yesi di dalam hati ambigu sembari menatap ke arah asisten rumahnya mengunakan seringai devil.


__ADS_2