
Saat ini Sima sedang sibuk menyapu halaman rumah yang tidak terlalu luas, tetapi jika dibersihkan sendiri maka akan sangat melelahkan sekali. Begitu banyak dedaunan yang berguguran jatuh ke tanah membuat Sima harus membawa karung guna untuk mengumpulkan daun-daunan yang berguguran tersebut.
Satu mobil hitam mewah melintas di hadapan Sima membuat perempuan itu menghentikan aktivitasnya untuk sesaat dan melihat siapakah yang turun dari mobil itu. Kaca mobil yang terlihat gelap dari luar membuat Sima tak bisa menatap ke dalam mobil tersebut dan melihat siapakah yang ada di dalamnya.
Seorang lelaki paruh baya duduk di dalam mobil itu dengan memperhatikan Sima. Lelaki itu rindu wajah yang selama ini masih tersimpan rapi dalam memori internal otaknya.
Jangan lupa Follow Ig khairin-junior.
"Sima." Satu kata terlontar dari bibir lelaki paruh baya itu dengan wajah yang nampak digelayuti rasa rindu dan kenangan masa lalu kini mulai terlintas dalam benaknya.
Zegan lelaki berusia 65 tahun yang merupakan Papa dari Yesi dan juga Zevana. Sejak Mama Zevana meninggal dunia sekitar 10 tahun yang lalu hanya Zegan saja yang merawat kedua putrinya. Bertahun-tahun lamanya Zegan sibuk mengurus bisnisnya yang ada di luar negeri dan baru kali ini ia bisa menjenguk kedua putrinya. Alasan Zegan datang bukan hanya untuk menjenguk kedua putrinya tetapi juga ada alasan lain.
"Zegan," kata Sima terkejut ketika melihat siapa lelaki yang baru saja turun dari mobil mewah itu. Sima pun buru-buru mempercepat langkahnya hendak menjauh dari halaman rumah ini namun Zegan langsung menarik tangan Sima hingga membuat perempuan itu berhenti dengan paksa.
"Sima, kenapa kamu menghindariku?" tanya Zegan.
"Ke-kenapa kamu ada di sini?" tanya Sima dengan suara yang terputus-putus.
"Ini adalah rumahku dan aku mengunjungi kedua putriku tapi aku juga ingin bertemu dengan kau," jawab Zegan jujur.
"Putri," kata Sima sembari mengingat Yesi dan juga Zevana.
"Ya! Yesi dan juga Zevana adalah putriku," jawab Zegan. "Sima, waktu itu kita pernah melakukan hubungan terlarang dan apakah kamu hamil waktu itu? Aku sungguh ingin menanyakan hal ini sejak lama, tetapi kamu selalu menghindar. Bahkan kamu juga menghilang begitu saja hingga aku pun dijodohkan dengan mama dari kedua putriku tetapi sekarang dia sudah meninggal sejak lama," cerita Zegan.
Zegan dan juga Sima di masa lalu adalah sepasang kekasih yang begitu bahagia sekali, tetapi Sima terpaksa menjauh dari Zegan setelah tahu kalau lelaki itu dijodohkan apalagi kedua orang tuanya sempat mengancam akan mempersulit kehidupan Sima waktu itu. Berulang kali Zegan mencoba menemui siapa, tetapi Sima terus menghindar hingga akhirnya lelaki itu menikah dengan perempuan yang di pilihkan oleh kedua orangtuanya lalu pindah ke luar negri.
__ADS_1
"Semua yang ada di masa lalu telah berakhir dan lupakanlah." Sima menjatuhkan sapu yang ada di tangannya.
Hati Sima terasa nyeri ketika mengingat perjuangannya membesarkan Asena dan sampai harus menikah dengan lelaki kejam seperti itu hanya agar Asena tidak merasa kecil hati ketika mengetahui jika ia terlahir tanpa seorang Papa. Ya, Zegan adalah Papa kandung Asena.
"Sima, jawablah pertanyaanku apakah kamu sudah menikah?" tanya Zegan menahan tangan Sima ketika perempuan itu hendak pergi menjauh darinya.
"Aku menikah setelah beberapa bulan putus denganmu dan aku juga sangat mencintai suamiku," kata Sima berdusta.
"Kamu putus denganku setelah beberapa bulan dan putri kamu kini berusia 21 tahun bukankah itu menunjukkan jika ketika putus denganku maka janin yang ada di dalam kandungan kamu adalah anakku, aku sudah menyelidiki semua Sima dan kau tak bisa mengelak lagi. Aku bertanya pada kamu hanya mencoba untuk memastikan saja.
Di tempat lain.
"Sebenarnya apa yang diinginkan oleh kedua pelanggan kita itu, aku sudah mencatat semua makanan yang mereka pesan tetapi mereka malah menggantinya begitu saja dan setelah itu mereka juga meminta 5 sendok! Apa kamu mungkin mulut mereka yang kecil itu bisa menampung 5 sendok sekalipun, mereka benar-benar pelanggan yang menyebalkan sekali," oceh Asena sembari melangkah masuk ke dalam dapur.
"Asena kamu yang sabar karena pelanggan adalah raja dan kita harus selalu mematuhi mereka walaupun keinginan mereka membuat kita tentu saja bisa darah tinggi," kata Nana dengan menepuk pundak Asena.
"Tidak bisa, kamu harus melakukan apapun yang mereka minta," kata Pak Dani.
"Kalau mereka suruh saya masuk ke kuburan, apa harus saya turuti," kata Asena dengan menjatuhkan tubuhnya lelah di kursi kerjanya.
"Asena, kedua pelanggan itu memanggil kamu," kata seorang pelayan membuyarkan perbincangan Pak Dani dan juga Asena.
"Sabar Asena ... sabar ... orang sabar nanti rejekinya lebar," kata Asena memotivasi dirinya sendiri.
Perusahaan Gerden Group.
__ADS_1
Tuan Altair saat ini sedang sibuk berkutat dengan pekerjaannya dan masuklah asisten Lan ke dalam ruangan ini setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Katakan!" titah Tuan Altair ketika tahu jika Asisten Lan hanya diam dan berdiri di hadapannya menandakan jika asisten itu meminta izin untuk menyampaikan alasannya masuk ke dalam ruangan ini.
"Nona Zegan dan juga adiknya sekarang ada di restoran tempat Nona Asena bekerja. Dan kakak beradik itu sudah berada di restoran sekitar 4 jam yang lalu, selama itu juga mereka mempersulit Nona Asena." Asisten Lan bicara seraya menyodorkan ponsel miliknya di hadapan Tuan Altair.
Tuan Altair menyambar ponsel Lan kemudian menatap tajam ke arah Kakak beradik itu yang sedang membuat Asena kerepotan. Bahkan Asena sampai terjatuh dan Zevana dengan sengaja mengingat salah satu tangan Asena yang kemarin terkena sup panas. Tuan Altair melihat rekaman cctv yang ada di dalam restoran melalui ponsel yang iya pegang sekarang.
"Lan, aku sedang sibuk sekarang kau tahu apa yang harus kau lakukan!" kata Tuan Altair.
"Baik, Tuan." Asisten Lan buru-buru mengambil ponselnya sebelum mendarat di lantai. Tuan Altair suka sekali membanting ponsel dan mungkin itu menjadi hobi salah satu majikannya ketika sedang marah.
***
"Tangan saya sakit sekali," rengek Asena yang masih terduduk di lantai dan tangannya di injak kuat oleh Zevana.
"Auch, sakit, ya. Maaf aku tak melihatnya," kata Zevana dengan suara yang manja dan sengaja ia buat-buat.
Pak Dani yang melihat akan hal itu sudah mulai kehabisan kesabarannya kemudian melangkah mendekati kakak beradik tersebut.
"Zevana, ponsel kamu berdering," kata Yesi.
"Oh ... iya," jawab Zevana. Zevana tersenyum puas ketika melihat Asena menderita, tapi senyuman itu melebur seketika saat ia mendengarkan ucapan asistennya dalam sambungan telepon.
"Zevana ada apa?" tanya Yesi.
__ADS_1
"Perusahaan Gerden menarik investasinya dari perusahaan kita," kata Zevana kemudian menatap ke arah Asena tajam.