
Setelah melihat apa yang Asena lakukan akhirnya Tuan Altair meminta para pengawalnya untuk menyingkirkan perempuan itu. Asena melirik sekilas ke arah Tuan Altair tanpa mengeluarkan satu kata pun. Kini tatapan tajam Asena sedang tertuju pada seorang lelaki yang sedang duduk membelakanginya, lelaki itu adalah Cem. Lelaki tidak punya hati itu kini sedang duduk bersama dengan dua orang perempuan dan ia juga sedang bermain kartu bersama dengan beberapa lelaki lain.
"Aku sungguh ingin membunuhnya! Untuk apa dia hidup di dunia ini jika hanya melakukan dosa terus-menerus. Bukankah lebih baik dia mati," batin Asena dengan menggenggam kedua tangannya.
Asena memundurkan satu langkah kakinya hingga kini ia berdiri di samping asisten Lan. Hal itu tidak luput dari perhatian asisten Lan. Dan juga Tuan Altair seakan bisa menebak apa yang akan Asena lakukan setelah ini hingga lelaki itu pun memberikan isyarat lirikan mata kepada asistennya.
"Asena," Panggil Tuan Altair ketika melihat perempuan itu hendak meraih pistol yang ada di balik jas asisten Lan.
"Ada apa Tuan Altair?" tanya Asena sembari mengurungkan niatnya.
"Sebaiknya kita keluar dari ruangan ini dan biarkan para pengawalku yang mengurusnya! Bisa aku pastikan jika lelaki itu akan memilih mati daripada hidup di dunia ini," kata Tuan Altair yang tidak ingin tangan perempuannya ternoda dengan pembunuhan. Asena terlalu naif dan juga polos sehingga membuat Tuan Altair tak ingin menjadikan perempuan ini sekejam itu, cukuplah bagi Tuan Altair, Asena bisa membela dirinya sendiri tanpa perlu melukai orang-orang tersebut karena Tuan Altair sendiri yang akan turun tangan.
"Saya setuju dengan keinginan Anda, tapi bolehkah jika saya menemui lelaki itu dan bertanya secara langsung di mana keberadaan Mama? Sebab saya takut jika lelaki itu melukai Mama," kata Asena dengan air mata yang sudah tumpah membasahi wajah cantiknya yang kini terlihat lelah dan juga letih.
"Nona Asena bukan lelaki itu yang mengakibatkan Mama Anda menghilang," kata asisten Lan.
Di tempat lain
Senja yang indah mulai menghiasi langit. Sejak kemarin Yessi seakan tak bisa tidur dengan nyenyak setelah melakukan percobaan pembunuhan pada pelayannya, saat ini bahkan terdapat kantung mata yang bergelantungan di bagian bawah kelopak matanya hinggap wajah Yessi juga terlihat pucat sekali.
Zevana yang merasa cemas dengan kondisi adiknya tak beranjak dari ruangan ini sejak semalam, Zevana terus saja menenangkan Yessi dengan mengatakan jika semua akan baik-baik saja dan tak akan ada yang mengetahui keberadaan perempuan sialan itu.
__ADS_1
"Yessi lupakanlah apa yang terjadi dan anggaplah itu hanya sebagai mimpi. Bukankah yang mendorong perempuan sialan itu adalah aku dan bukan kamu, jikalau ada yang dihukum maka akulah pelakunya," kata Zevana yang tidak ingin adiknya terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri karena hal itu bisa membuat kesehatan Yessi terganggu. Zevana terlalu menyayangi Yessi sehingga ia tak ingin hal buruk itu sampai menimpa saudari satu-satunya.
"Kau ataupun aku yang melakukan kejahatan itu tidaklah penting, tetapi kita berdua telah melakukannya dan kita akan dipenjara jika ketahuan," kata Yessi dengan melirik ke kanan dan juga ke kiri seperti orang yang sudah kehilangan akal karena rasa takut dan juga rasa bersalahnya kini mengambil alih seluruh pikiran.
Zevana menghempaskan tubuhnya di ranjang kemudian mengguncang bahu adiknya, bahkan beberapa kali perempuan itu juga mengusap wajah Yessi seakan mencoba menyadarkan adiknya tersebut.
"Siapa yang akan mengetahuinya mereka itu orang miskin! Tak akan ada orang yang membantu mereka! Jadi kamu tak perlu merasa cemas, jika kamu ketakutan seperti ini kalau sampai Papa kembali. Dia akan mencurigai kita, Yessi ingatlah apa yang aku katakan ini atau kita akan berakhir di balik jeruji besi," kata Zevana dengan suara penuh penekanan. Zevana tak ingin jika sampai ada orang lain yang mendengarkan perbincangan keduanya.
Yessi menatap ke arah Zevana kemudian menangis histeris, "Kamu bilang perempuan sialan itu adalah keluarga miskin sedangkan Papa begitu mencintainya. Aku bisa melihat sorot mata cinta dan juga kasih sayang yang terpancar dari kedua binar mata Papa ketika melihat pelayan itu, pancaran mata tersebut selama ini tak pernah aku lihat sebelumnya, apalagi ketika Papa bersama dengan Mama," jelas Yessi bicara dengan mengacak-acak rambutnya seperti orang yang kurang waras hingga membuat Zevana memeluk adiknya itu dan mencoba menenangkannya berulang kali.
"Perlukah aku membunuhnya untuk menghilangkan jejak," batin Zevana di dalam hatinya sembari terus mencoba menenangkan saudarinya.
Di tempat lain.
Ketika mengantarkan Sima ke rumah sakit Zevana dan juga Yessi menyuruh orang lain untuk melakukannya dan kedua perempuan kejam itu juga dengan sengaja tidak memberitahukan identitas Sima karena mencoba untuk menghilangkan jejak keberadaan Sima di rumah sakit itu. Zevana telah merencanakan ini dengan sangat matang sekali sehingga ia pun sudah memiliki seorang lelaki yang akan dijadikan kambing hitam.
***
Tuan Altair sedang berbaring di atas ranjang, lelaki itu semalaman terjaga dan terus saja melihat ke arah Asena yang sedang tidur di hadapannya. Semalam Tuan Altair sengaja memberikan obat tidur kepada Asena supaya perempuan itu tidak terus menangis dan juga meminta untuknya mencari keberadaan Sima.
"Aku akan melindungi mu dari siapapun, mulai sekarang kau tak akan sendirian," ucap Tuan Altair lirih seraya menyibakkan beberapa anak sulur rambut Asena ke belakang telinga agar tak menghalangi pandangannya untuk mengamati si cantik yang ada di depannya.
__ADS_1
Pintu ruangan ini terbuka membuat perhatian Tuan Altair mulai teralihkan sekarang. Tuan Altair melirik ke arah Lan yang baru saja masuk. Dan Tuan Altair pun langsung menaruh satu jari telunjuknya ke depan bibir mengisyaratkan kepada Lan untuk diam. Tuan Altair memutar jari telunjuknya, Lan segera membungkukkan tubuhnya kemudian kembali berjalan keluar dari ruangan ini. Lan tentu saja sudah tidak asing dengan isyarat yang diberikan oleh majikannya tersebut.
Tuan Altair memastikan jika Asena benar-benar tertidur lelap kemudian lelaki itu menarik selimut hingga sampai ke bagian bahu Asena seakan ingin membuat calon istrinya ini merasa nyaman. Kini Tuan Altair mulai berjalan keluar dari ruangannya dan menemui Lan yang sudah menunggu di sana.
"Selamat pagi Tuan Altair," sapa Lan dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Hem," jawab Tuan Altair. "apa yang kamu temukan?" tanya Tuan Altair sembari menyilangkan kedua tangannya bersedekap di dada dengan punggung lelaki itu yang bersandar pada dinding kamarnya.
"Kedua anak buah kita menyiksa lelaki itu, tetapi dia mengatakan jika tak ada sangkut pautnya dengan menghilangnya Mama dari nona Asena," jawab Lan. "Saya telah menyelidiki kediaman di mana Nyonya Sima, bekerja dan itu adalah kediaman keluarga Mor," sambung asisten Lan tanpa menjelaskan secara detail karena lelaki itu sudah bisa menebak jikalau Tuan Altair pasti merasa tidak asing dengan marga yang baru saja ia sebutkan.
Kedua tangan Tuan Altair terkepal dengan begitu kuat seakan menggenggam emosi dan juga amarahnya sekarang. "Jangan bilang jika Sima bekerja di rumah Zevana?" tanya Tuan Altair dan Lan segera menganggukkan.
"Selidiki semuanya secara detail dan mengenai apa yang terjadi di masa lalu Asena termasuk ketika ia masih di masa sekolah!" perintah Tuhan Altair kepada asisten Lan. "apakah surat-surat yang aku inginkan sudah kau siapkan hari ini?" tanya Tuan Altair sembari menatap ke arah asistennya tersebut.
"Semua yang Tuan inginkan telah saya siapkan," jawab Lan memang selalu bisa diandalkan.
"Bagus!" puji Tuan Altair pada Lan. Tuan Altair memang selalu puas dengan kinerja asistennya tersebut dan tidak rugi jika ia membayar asisten Lan lebih banyak dari gaji asisten biasa di negara ini.
"Aku takut dia akan berubah pikiran jikalau aku menunda pernikahan ini," ucap Tuan Altair sembari memijat pelipisnya yang terasa pusing ketika mengingat seberapa tinggi harga diri Asena yang coba untuk perempuan itu bertahan kan di tengah kemiskinannya.
"Nona Asena memang berbeda dengan perempuan-perempuan lainnya," ujar Lan jujur.
__ADS_1
"Sekarang pergilah dan cari informasi yang aku inginkan! Aku ingin kau kembali dengan bukti-bukti yang aku inginkan secara detail dan juga rinci sehingga aku bisa membalaskan dendam calon istriku!" perintah Tuan Altair dan Lan langsung membungkukkan sedikit tubuhnya kemudian berlalu pergi setelah Tuan Altair menganggukkan kepalanya memberikan izin pada sang asisten untuk segera menjalankan tugas darinya.