
tiga hari kemudian.
Selama 3 hari ini Asena terus saja mendampingi kedua orang tuanya. Tuan Altair pun tidak berangkat ke kantor sama sekali karena lelaki itu terus mendampingi istri kecilnya, Tuan Altair bahkan menyewa satu ruangan di rumah sakit ini ketika ia hendak melakukan meeting yang ia lakukan secara online dan hanya Asisten Lan sajalah yang kini menggantikan posisi Tuan Altair untuk menghandle semua masalah yang ada di kantornya.
Seorang pengawal mengetuk pintu ruangan rumah sakit ini kemudian nampaklah pengawal itu masuk sembari membawa dua paper bag yang berisikan sarapan pagi. selama 3 hari Asena terus saja duduk di samping kedua orang tuanya tanpa mau beristirahat sedikitpun, perempuan itu seakan tak kenal lelah bagaikan kehidupannya telah berakhir bersama dengan kedua orang tuanya yang masih juga belum beranjak dari dunia fana.
Tuan Altair berusaha membujuk Asena, tetapi perempuan itu seakan sibuk dengan dunianya.
"Keluarlah! Aku akan menyiapkan makanan itu sendiri!" perintah Tuan Altair kepada pengawalnya.
"Tapi, Tuan," ujar pengawal itu yang selama ini tahu jika Tuan Altair tak pernah menyiapkan sarapan paginya sendiri selama ini.
"Aku tidak pernah berbicara dua kali! Sekarang keluarlah!" perintah Tuan Altair dengan separuh suara yang tertahan di tenggorokannya.
Asena yang sedang menatap ke arah mamanya pun mulai mengalihkan pandangannya. kimi Asena beranjak berdiri ketika ia melihat Tuan Altair mengeluarkan peralatan makan dari dalam paper bag tersebut.
__ADS_1
"Apakah aku terlalu egois? selama ini Tuan Altair selalu berada di sampingku, tetapi aku seakan tak menganggapnya tidak ada," batin Asena yang mulai merasa bersalah kepada suaminya. "aku tidak seharusnya seperti ini, Tuan Altair yang terkenal arogan dan juga kejam selalu berusaha untuk menghiburku bahkan lelaki itu juga sampai menurunkan gengsinya hanya untuk menemaniku."
Tuan Altair menghentikan gerakannya ketika ia menyadari jika Asena berjalan ke arahnya. "Tetaplah di sana aku akan menyuapi kamu seperti biasa." Nada suara Tuan Altair terdengar lembut membelai telinga Asena.
Asena menjatuhkan air matanya karena perasaan bersalah hal itu tentulah membuat Tuan Altair bingung hingga ia langsung melangkah menghampiri istrinya. sikap Tuan Altair benar-benar jauh berbeda ketika ada di dekat Asena. Sikap singa jantan yang selama ini Tuan Altair tunjukkan seakan melebur dan berganti lebih mirip seperti kucing anggora yang nampak lucu dan menggemaskan.
"Sena apakah aku barusan salah bicara sehingga membuatmu menangis?" tanya Tuan Altair cemas. ketika lelaki itu sedang mencoba untuk membujuk istrinya getaran di dalam ponselnya membuat Tuan Altair murka. "Lan aku sedang sibuk sekarang! Lakukan meeting itu sendiri jika mereka tak mau berinvestasi di perusahaan kita maka biarkan saja," geran Tuan Altair dengan masih menahan emosinya tetapi wajah lelaki itu sudah mulai berubah menjadi memerah.
"Maafkan aku. Maafkan aku," kata itulah yang terlontar dari bibir Asena sekarang. Selama ini Tuan Altair benar-benar bersikap baik padanya dan bisakah jika Asena mengartikan lelaki itu mencintainya? setelah menikah Tuan Altair tidak pernah menyatakan cintanya pada Asena sehingga hal itu membuat perempuan tersebut tak mengetahuinya.
"Selama ini Anda bersikap baik padaku, tetapi apa yang aku berikan kepada Anda? Aku tak pernah menganggap Anda ada karena aku terlalu sibuk memikirkan kedua orang tuaku, selama ini aku selalu memimpikan jika aku memiliki Papa lain dan hal itu terwujud namun, dengan keadaan tragis seperti ini," ucap Asena di sela-sela linangan air matanya. Asena langsung memeluk tubuh Tuan Altair dengan begitu erat seakan takut kehilangan lelaki ini.
"Aku bisa mengerti kondisimu Asena, aku juga tidak mempermasalahkan tentang kesedihanmu karena hal itu sangat wajar sekali, tapi kamu juga tidak boleh terlalu lama berlalu terlarut dalam kesedihan karena itu tidak baik, serta ingatlah jika aku selalu menemanimu di sini," ucap Tuan Altair sembari membingkai wajah istrinya yang nampak kusam dan juga kumal. "Dan selama aku berada di sini kamu tak pernah mandi," ucap Tuan Altair mencoba menggoda istrinya.
Asena mengangkat pandangannya melihat ke arah Tuan Altair dengan bibir yang mengerucut sebal, itu terlihat begitu menggemaskan sekali dari sudut pandang Tuan Altair.
__ADS_1
"Apakah sekarang Tuan sedang mengatakan jika aku bau," kata Asena. Baru kali pertama Tuan Altair mendengar nada suara kesal dari istri kecilnya ini dan hal itu membuat Tuan altair kecanduan sekali.
"Tidak hanya itu bahkan kau juga mungkin tak pernah gosok gigi," ucapkan Tuan Altair yang semakin ingin menggoda Asena.
Asena segera menarik tubuhnya dari dekapan Tuan Altair kemudian perempuan itu mengerutkan keningnya marah lalu berkata, "apalah setiap hari ketika saya hendak gosok gigi maka harus laporan dulu kepada Anda," ketus Asena tak terima dibilang tidak gosok gigi selama 3 hari. Itu begitu menjijikkan dan Asena bukan tipe perempuan yang jorok seperti itu. "saya gosok gigi sehari tiga kali dan itu saya lakukan ketika berada di kamar mandi," sambung Asena lagi yang masih merasa kesal.
"Benarkah kau lakukan itu ketika berada di kamar mandi? Tetapi aku tidak tahu karena tidak melihatnya secara langsung dan aku pun meragukan kejujuranmu," kata Tuan Altair mencoba untuk mencari celah supaya ia bisa melakukan aksinya. Hayo kira-kira Tuan Altair sedang merencanakan apa nih di dalam pikirannya?
Asena segera beranjak berdiri dari posisi duduknya dan dengan wajah nampak kesal perempuan itu menarik tangan Tuan Altair hingga ikut berdiri dan kemudian melangkah di belakangnya. Asena menarik Tuan Altair masuk ke dalam kamar mandi dan Tuan Altair segera menutup pintunya kemudian menguncinya.
"Kalau begitu sekarang Anda lihat aku akan gosok gigi di depan Anda sekarang juga," kata Asena dengan wajah polosnya sedangkan Tuan Altair menatapnya dengan penuh minat hal itu membuat Asena berpikir. "Apakah aku salah mengajaknya masuk ke dalam tempat ini?" tanya Asena pada dirinya sendiri.
Baru saja Asena berhenti berpikir, tetapi Tuan Altair sudah berjalan mendekatinya. Tuan Altair memeluk tubuh Asena dari arah belakang kemudian mengecup tengkuk Asena dengan begitu mudah karena saat ini rambut Asena di kuncir ke atas.
"Aku sudah menahannya selama berhari-hari setelah kita menikah dan sekarang bolehkah aku memintanya?" tanya Tuan Altair. wah kira-kira Tuan Altair minta apa nih pada Asena?
__ADS_1