
"apalah kau serius akan membiarkannya dirawat di tempat ini?" tanya Tuan Altair kepada berdiri di sampingnya.
"Jika dilihat dari rasa bersalahnya hingga membuat Yessi kehilangan akalnya, itu sudah merupakan hukum alam," jawab Asena. "Yessi mungkin memang kejam tetapi ia tak akan pernah berniat untuk membunuh orang lain seperti apa yang saya Zevana tadi katakan, jikalau perempuan itulah yang mendorong Mama dari lantai atas." Sorot Mata Asena melihat ke arah Yessi yang kini sedang berbicara sendiri di salah satu ruangan dalam rumah sakit jiwa.
"Kamu benar, rasa bersalah yang telah perempuan itu rasakan membuatnya kehilangan akal," jawab Tuan Altair setuju. "perlukah aku suruh dokter untuk menyembuhkannya atau biarkan dia bersama dengan rasa bersalah?" tanya Tuan Altair meminta pendapat Asena.
"Biarkan saja dia terkurung di dalam ruangan ini selamanya." Asena yang dulu terlihat lemah lembut seakan sudah berubah menjadi perempuan lain. Asena yang sekarang dipenuhi dengan ambisi balas dendam dan juga menyingkirkan satu persatu musuhnya.
"Kalau begitu ayo kita pulang sekarang," ajak Tuan Altair sembari menaruh salah satu tangannya di pundak Asena.
"Bagaimana dengan kondisi Cem sekarang?"
***
Di salah satu ruangan terlihat seorang lelaki sedang tergeletak tak berdaya, lelaki itu kondisinya begitu mengenaskan sekali dengan beberapa jari tangan yang sudah terputus, dan yang lebih mengerikan lagi jemari tangan yang sudah lepas dari tempatnya itu tergeletak tepat di samping lelaki itu berbaring.
Ruangan ini dipenuhi dengan aroma anyir, bau darah dan tak ada setitik pun cahaya mentari bisa memasuki ruangan ini. Hanya lampu kecil sajalah yang menerangi ruangan ini, lelaki yang sedang tergeletak tak berdaya itu adalah Cem. Para pengawal Tuan Altair terus menghajar lelaki itu habis-habisan dan membiarkan rasa sakit lelaki itu pulih dengan perlahan kemudian kembali menambah rasa sakit yang baru.
Wajah Cem sudah tidak terlihat lagi karena dipenuhi dengan luka lebam dan juga membiru, bahkan hidung lelaki itu juga patah jika dilihat dari cairan berwarna merah yang sudah mengering di bawah hidungnya.
Seorang lelaki melangkah masuk ke dalam ruangan ini kemudian langsung menatap ke arah Cem berada. Lelaki itu tidak lain adalah Asisten Lan, setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor maka asisten Lan akan mengunjungi Cem-ralat paling tepatnya bukan mengunjungi, tetapi hendak menyiksa lelaki yang sudah tergeletak tak berdaya itu.
"Tu-tuan, tolong ampuni saya, saya berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama untuk kesekian kali," kata Cem dengan nada suara yang terdengar begitu lemah. Lelaki itu tak bisa membuka kedua matanya karena lebam yang kini menyelimuti kedua pelupuk matanya itu, tetapi Cem masih bisq mendengarkan langkah seseorang yang kini berdiri di dekatnya.
"Kata maaf saja tidak cukup!" kata Asisten Lan sembari menendang wajah Cem dengan begitu keras hingga lelaki memekik kesakitan. "seharusnya kau sudah mati sekarang! Tapi Nona kami tak akan pernah membiarkanmu pergi dari dunia ini dengan begitu mudah," sambung Asisten Lan sembari berjongkok di depan Cem.
Cem sudah tidak bisa mengeluh lagi karena sekujur tubuhnya terasa sakit sehingga lelaki itu bingung harus merasakan sakit yang mana dulu.
__ADS_1
"Siapa Nona muda Anda, Tuan?" tanya Cem dengan suara yang terputus-putus.
"Anak tirimu adalah Nona muda kami!" jawab Asisten Lan.
"Asena, benarkah dia yang menyuruh kalian untuk menyekap aku di dalam ruangan ini dan juga pacarku selama ini?" tanya Cem seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Selama ini Asena memang membencinya, tetapi perempuan itu tak pernah melampaui batasan.
"Bukan Nona Asena yang menghukum kamu, tetapi Tuan Altair. Tapi kau tenang saja karena Nona Asena juga pasti akan turun tangan setelah ia menyelesaikan kedua perempuan lainnya."
Setelah bicara Asisten Lan langsung melangkah pergi begitu saja meninggalkan Cem.
Setelah Asisten Lan keluar dari ruangan ini, kedua dokter langsung berjalan melangkah mendekat ke arah cem yang kini sudah tergeletak dengan luka baru di wajahnya, kedua dokter ini bertugas untuk menjaga Cem agar tak mati dengan mudah karena jika sampai Cem menghembuskan nafas terakhirnya maka nasib kedua dokter itu akan menemani Cem detik itu juga.
***
Pagi hari ini Tuan Altair membuka kedua kelopak matanya kemudian ia tidak melihat istrinya berada di sampingnya. Pun lelaki itu langsung beranjak berdiri dari posisi tidurnya kemudian melangkah menuju ke kamar mandi setelah berada di dalam kamar mandi Tuan Altair masih belum juga menemukan keberadaan istrinya tercinta. Wajah yang nampak panik lelaki itu buru-buru keluar dari kamarnya.
Helaan nafas lega lolos dari bibir Tuan Altair ketika ia melihat saat ini Asena sedang membantu asisten rumah tangganya untuk menyiapkan sarapan pagi. Setelah kedua orang tuanya meninggal Asena tak pernah melakukan apapun di dalam rumah ini, bahkan perempuan itu juga tak pernah bicara kecuali Tuan Altair yang mengajaknya berbicara terlebih dahulu.
"Apa saja yang Tuan Altair sukai?" tanya Asena sembari mencuci buah-buahan segar dari kucuran air di wastafel.
"Tuan Altair begitu menyukai jus alpukat dan juga jus wortel, beliau tidak menyukai jus anggur," jawab Bi Iren yang memang sudah mengetahui selera majikannya.
Bi Iren adalah pelayan rumah ini yang bertugas untuk menyiapkan makanan untuk Tuan Altair, jadi tidak heran jika perempuan paruh baya itu bisa menjawab ucapan Asena dengan begitu mudah. Semenjak Asena datang ke rumah ini di Iren selalu memperlakukan Asena dengan begitu baik sekali hingga membuat perempuan itu merasa nyaman.
"Lalu makanan apa yang Tuan Altair sukai selama ini?" tanya Asena lagi yang ingin mengetahui apa saja yang lelaki itu sukai. Asena tak boleh memikirkan dirinya sendiri karena selama ini Tuan Altair selalu memikirkannya dan juga mencoba untuk membahagiakannya.
"Aku akan menyukai apapun yang kamu buat, sayang," jawab Tuan Altair sembari memeluk pinggang Asena dari arah belakang.
__ADS_1
Bi Iren yang melihat akan hal itu tersenyum bahagia karena untuk kali pertama perempuan paruh baya itu melihat Tuan Altair tersenyum dan juga memperlakukan seorang perempuan dengan begitu baik. Bisa dibilang hanya Nona asena lah yang Tuan Altair ajak ke rumah ini dan tak pernah ada perempuan lain sebelumnya.
Asena sempat terjingkat sejenak karena terkejut sekali ketika mengetahui suaminya sudah ada di dalam ruangan ini. "Sayang jangan seperti ini, malu dilihat oleh Bi Iren," kata Asena sembari mencoba untuk melepaskan pelukan Tuan Altair dari pinggangnya.
"Bi Iren sudah pergi karena dia tidak ingin mengganggu kita," jawab Tuan Altair sembari membalikkan tubuh istrinya untuk menatapnya.
"apalah selama ini kamu sering melakukannya bersama dengan perempuan lain ketika di hadapan Bi Irene?" tanya Asena dengan tatapan penuh selidik. Terdapat kilatan mata yang terpancar dari kedua manim Asena seakan menunjukkan jika perempuan itu merasa cemburu sekarang.
"Aku tak pernah membawa satu orang pun perempuan ke dalam rumah ini kecuali kau," jawaban Tuan Altair sembari mengecup bibir Asena.
"di dalam klub malam waktu itu saja Anda ditemani oleh dua orang perempuan, mana mungkin lelaki seperti Anda tak membawa banyak perempuan ke dalam rumah ini," jawab Asena sembari membuang pandangannya ke arah lain.
"Kau sedang merasa cemburu sekarang?" tanya Tuan Altair sembari mendekatkan keningnya pada kening Asena hingga tak ada jarak diantara mereka.
"Aku tidak sedang merasa cemburu hanya mengingat saja," ujar Asena berdusta dan Tuan Altair tahu itu.
"Aku sungguh tidak berbohong hanya kau saja yang aku cintai," balas Tuan Altair.
"Kalau begitu jangan tinggalkan aku walaupun Anda sudah bosan." Kali ini Asena bicara dengan memeluk tubuh Tuan Altair seakan tak mau kehilangan lelaki tangguhnya ini.
"Aku takkan pernah meninggalkanmu! Bahkan aku juga tak akan pernah membiarkanmu untuk meninggalkanku, Sayang," jawab Tuan Altair sembari mengecup bibir Asena.
Asena membalas kecupan suaminya itu dengan suka rela hingga perempuan itu mulai sadar jika dia sekarang masih ada di dalam dapur. Asena melepaskan kecupan Tuan Altair meskipun suaminya itu menatapnya dengan penuh protes.
"Kita sedang di dapur saat ini, kalau Anda lupa," kata Asena mencoba mengingatkan posisi mereka sekarang. Asena mengedarkan pandangannya dan ia tidak melihat pikirin ada di dalam ruangan ini.
"Tak ada siapapun," jawab Tuan Altair sembari mulai mengarahkan tangan nakalnya untuk menaikkan dess yang istirnya kenakan sekarang.
__ADS_1
"Sayang, aku mohon hentikan sekarang," pinta Asena sembari menepis pelan tangan suaminya.
"Kalau begitu kita lanjutkan di dalam kamar saja," balas Tuan Altair. kemudikan lelaki itu membopong tubuh Asena ala bridal style