
Beberapa bulan kemudian.
Dokter mengatakan jika perkiraan Asena melahirkan kurang dari 1 minggu ke depan namun, prediksi dokter seringkali meleset. Altair dan juga Asena dengan sengaja tak menanyakan jenis kelamin anak pertama mereka sebab bagi Tuan Altair ataupun Asena, lelaki ataupun perempuan maka itu sama saja yang terpenting anak mereka terlahir dengan kondisi yang sehat tanpa kekurangan suatu apapun.
Asena baru saja membaringkan tubuhnya di atas ranjang kemudian perempuan itu merasakan jika perutnya terasa sakit sekali. Hal ini sudah beberapa kali terjadi hingga Asena mulai beranjak bangkir dari posisi tidurnya lalu perempuan itu berjalan mondar-mandir di dalam ruangan kamarnya. Asena melihat ke arah suaminya yang terlelap tidur dan pasti lelaki itu sangat lelah sekali karena seharian bekerja.
Beberapa saat kemudian.
“Aku sudah buang air kecil sekitar 5 kali dan rasa nyeri di perut tidka kunjung berkurang justru semakin bertambah saja. Aku bahkan merasakan sakit perut yang teramat sangat,” batin Asena sembari melangkah keluar dari kamar mandi.
Asena menghentikan langkahnya d tengah-tengah ruangan kamar ini ketika merasakan kontraksi yang begitu hebat sampai berdenyut ke puncak kepalanya sekarang
“Sa-sakit ...” pekik Asena.
Tuan Altair yang sedang terlelap tidur langsung membuka mata dan rasa kantuk yang tadinya sempat menggelayuti kedua matanya pun mulai melebur begitu saja ketika lelaki itu mendengarkan suara jerit kesakitan istrinya tercinta.
“Sayang kau kenapa?” tanya Tuan Altair sembari berlari menghampiri istrinya sekarang.
“Sepertinya aku akan melahirkan sekarang,” kata Asena dengan mengigit bibir bagian bawahnya.
Tuan Altair langsung meraih ponselnya yang ada di atas meja kemudian menghubungi Asisten Lan.
“Siapkan mobil sekarang! Istriku akan melahirkan!” perintah Tuan Altair. Tanpa menunggu sahutan dari Asisten Lan, Tuan Altair langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
“Sayang, sakit sekali,” rintih Asena.
Tenanglah Sayang dan jangan panik. Sebaiknya sekarang kau tarik nafas dalam kemudian menghembuskan dari mulut perlahan,” ujar Tuan Altair yang mencoba untuk menyembunyikan kepanikannya di hadapan sang istri. Padahal sesungguhnya did alam hati Tuan Altair merasa panik dan juga cemas melihat wajah istrinya yang sudah sepucat kertas kosong tanpa ada goresan tinta.
Di halaman rumah.
Asisten Lan mengenakan jasnya kemudian membukakan pintu untuk kedua majikannya itu. Asisten Lan mengancingkan jas hitamnya sembari memutari mobil ini menuju ke kursi kemudi.
“Bi, masuklah!” perintah Tuan Altair pada Bi Iren.. Itu atas permintaan Asena.
__ADS_1
“Baik Tuan,” jawab B Iren. Sesungguhnya tadi Bi Iren ingin ikut bersama dengan Tuan Altair dan juga Nona Asena hanya saja perempuan itu menyadari posisinya berada di dalam rumah ini tak lebih sebagai Asisten rumah tangga saja meskipun Nona Asena selalu memperlakukannya dengan sangat baik sekali.
Di depan rumah sakit.
Para Pengawal Tuan Altair sudah tersebar di rumah sakit ini Semua itu tentu saja untuk menjaga al yang tidak diinginkan agat tak sampai terjadi. Para Dokter dan juga perawat yang sudah dipercaya untuk membantu proses persalinan sang pewaris tahta juga sudah menantikan kehadiran mobil Tuan Altair di halaman rumah sakit ini.
Setelah mobil Tuan Altair berhenti para Dokter dan juga perawat segera membantu Nona Asena untuk duduk di kursi roda kemudian membawa Nona Asena menuju ke ruangan persalinan yang memang sudah mereka siapkan di jauh-jauh hari.
“Sayang, kau tunggu sja di luar biar Bi Iren yang menemani aku di dalam,” pinta Asena pada suaminya.
“Aku akan masuk ke dalam dan tak ada yang bisa melarang aku,” jawab Tuan Altair yaang ingin melihat proses persalinan istrinya secara normal.
Asena tak bisa mengucap kata lagi karena rasa sakitnya sudah tidak tertahankan lagi.
Di dalam ruangan bersalin.
“Sayang, sakit sekali,” kata Asena dengan menggenggam kedua tangan suaminya.
“Nona, yang sabar dan ciba tarik nafas dalam,” ujar Bi Iren sembari mengusap keringat yang sudah mengembun di kening majikannya itu.
“Pembukaan ketiga bisa saja menjadi pembukaan ke satu,” jawab sang perawat dan sang Dokter menganggukkan kepalanya setuju.
Istriku sedang kesakitan dan berani-beraninya mereka sedang asik berbicara! Apakah mereka tidak sayang nyawa. Kira-akira seperti itulah arti tatapan tajam Tuan Altair sekarang pada kedua perawat yang ada di hadapannya ini.
“Kenapa kalian tidak lekas membantu istriku untuk mengeluarkan anakku sekarang juga! Kalian malah sibuk berbicara sendiri,” umpat Tuan Altair yang tak memiliki begitu banyak stok kesabaran.
“Karena masalah inilah aku tak menginginkannya ikut masuk tadi,” batin Asena ketika melihat sikap suaminya sekarang.
Semua Dokter dan juga perawat yang ada di dalam ruangan ini langsung gemetar ketakutan. Wajah mereka terlihat seputih kertas seakan bentak Tuan Altair tadi mirip seperti lintah yang menghisap seluruh darah di wajah mereka semua.
Selang beberapa waktu.
“Nona, tarik nafas dalam kemudian mengejan dengan sekuat tenaga,” pinta sang Dokter.
__ADS_1
Tuan Altair langsung membulatkan kedua matanya kemudian berkata. Apakah mata kamu itu sudah buta! Kau tak melihat istriku kesakitan sekarang dan kau asal perintah saja. Berani sekai kau memerintah istriku.” Sembur Tuan Altair.
“Tu-tuan Altair, memang begitulah proses menyakitkan ketika seorang perempuan melahirkan secara normal," kata Bi Iren mencoba untuk menenangkan majikannya itu.
“Sayang diamlah dan jangan mengganggu atau kau keluar daja dair ruangan ini sekarang,” kata Asena kesal melihat sikap suaminya.
“Aku akan diam,” jawab Tuan Altair.
Setelah drama persalinan yang cukup lama akhirnya terdengar juga suara tangisan bati yang menggema di dalam ruangan ini.
“Bayi yang sangat tampan sekali,” puji sang Dokter dengan mengangkat bayi yang masih berlumuran cairan berwarna merah itu.
Tuan Altair merasa sangat senang sekali kemudian lelaki itu mengecup wajah istrinya yang nampak lelah setelah habis melakukan persalinan normal.
“Sayang terima kasih karena kamu telah melahirkan pewaris pertama kita,” ujar Tuan Altair kemudian kembali mengecup keming istrinya dengan perasaan bahagia.
“Akan kita berikan nama siapa?” tanya Asena dengan suara yang nampak lelah.
Tuan Altair terdiam sejenak mencoba untuk berpikir hingga akhirnya kelaki itu sudah mendapatkan nama yang telat untuk pewaris pertamanya.
"Khay Gerden," kata Tuan Altair melihat kearah istrinya seakan meminta persetujuan.
"Nama yang bagus." Asena setuju dengan nama yang suaminya berikan.
"Itu nama yang sangat bagus dan cocok itu bayi tampan ini," ujar Bi Iren sembari mengendong bayi tampan milik majikannya itu.
Asisten Lan masuk kedalam ruangan ini ketika mengetahui jika majikan kecilnya telah terlahir dengan selamat. Asisten Lan melihat ke arah Tuan Altair yang kini sedang mengendong putranya.
"Dia sangat tampan sekali mirip seperti Anda," puji Asisten Lan.
"Lekaslah menikah agar ada menerus kamu sebagai penjaga putraku," kata Tuan Altair.
Asisten Lan hanya diam. Itu membuat semua orang tertawa melihat.
__ADS_1
Kisah telah selesai maaf jika banyak kesalahan di dalam cerita ini. Dan yuk baca cerita saya yang berjudul. Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar.