
Tuan Altair yang melihat Asena menatapnya dengan wajah nampak kaget pun menarik senyuman devil dari bibirnya seakan lelaki itu merasa puas sekali karena telah membuat perempuan di hadapannya kaget.
Beberapa detik kemudian Asena mulai teringat jikalau kini ia sedang berdiri dekat dengan Tuan Altair dan perempuan itu buru-buru memundurkan langkahnya ke belakang mencoba menjauhi majikan barunya.
"Ke-kenapa Tuan Altair ada di dalam ruangan ini?" tanya Asena. Sebenarnya Asena sudah bisa menebak jikalau lelaki yang ada di dalam ruangan ini pastilah seseorang yang telah membeli restoran tempatnya bekerja. Hanya saja Asena ingin memastikan pemikirannya itu benar atau tidak, jadi ia memilih bertanya pada Tuan Altair.
"Ini adalah perusahaan milikku begitu juga dengan kamu," kata Tuan Altair sembari menunjuk ke arah Asena tanpa mengubah ekspresi datar di wajahnya.
"Saya memang pelayan di restoran itu tetapi saya adalah milik Mama saya saja dan bukan milik Anda," jawab Asena polos hal itu membuat Tuan Altair terkekeh. Semua perempuan akan merasa terhormat ketika mendengarkan ucapan Tuan Altair tetapi hal itu justru tidak berlaku untuk Asena.
Baru kali ini Asena melihat lelaki angkuh yang ada di hadapannya tersenyum, senyuman itu nampak begitu mengerikan sekali jika di lihat dari sudut pandang Asena.
"Tuan Altair, Saya sudah mengantarkan makanan ini dan sekarang apakah saya boleh kembali ke restoran lagi," kata Asena yang tidak ingin berlama-lama dengan majikan barunya.
Tuan Altair menatap ke arah Asena tajam sorot mata itu mirip seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya dari kejauhan.
Asena yang melihat perubahan di wajah Tuan Altair pun segera menundukkan kepalanya. Perempuan itu merasakan jika atmosfer di dalam ruangan ini mulai berubah menjadi mencekam dan juga suram semua itu berasal dari tatapan lelaki yang ada di hadapannya.
"Dia masih saja tidak berubah dan mencoba untuk menghindariku," batin Tuan Altair yang merasa kesal.
"Makan bersama denganku!" perintah Tuan Altair kepada Asena.
__ADS_1
"Saya tidak bisa melakukannya Tuan, karena Anda adalah majikan saya dan tidak pantas rasanya jikalau pelayan rendahan seperti saya makan satu meja dengan Anda," kata Asena mencoba menolak dengan cara yang halus.
"Jika kamu berani membantah perintah dariku maka akan aku hancurkan restoran itu sekarang juga," ancam Tuan Altair. Tuan Altair tidak pernah main-main dalam kata-katanya begitu juga dengan sekarang. Dan Asena tahu itu dengan sangat jelas.
"Lelaki ini sungguh gila sekali aku tak boleh melawan perintahnya atau teman-temanku akan mendapatkan masalah. Tak masalah jika hanya duduk di sampingnya dan makan saja seperti waktu itu," batin Asena dengan tubuh yang gemetar menahan ketakutan. Asena bingung dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Tuan Altair sekarang, lelaki ini sungguh aneh sekali menurut Asena.
"Tuan kalau begitu mari kita makan sekarang," kata Asena. Perempuan itu mencoba untuk memberanikan diri tersenyum manis di hadapan Tuan Altair.
"Cih, menunggu diancam dulu baru dia mau menuruti perintahku." Sungguh ini baru kali pertama Tuan Altair harus mengancam seseorang untuk mematuhi perintah darinya.
"Tuan akan saya ambilkan menu yang Anda inginkan," kata Asena dengan suara yang terdengar lembut. sesungguhnya perempuan itu merasa ketakutan tetapi ia mencoba untuk memberanikan diri membuka suara.
***
"Buatkan aku makan malam sekarang!" titah Yesi sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Yesi nampak puas sekali ketika melihat wajah Sima nampak kaget setelah mendengarkan ucapan.
"Nona, ini sudah sore dan sudah waktunya saya untuk pulang," kata Sima.
Yesi yang mendengarkan pelayanan itu berani menjawab kata-katanya tentu tidak tinggal diam dan langsung melangkah menghampiri Seina kemudian mendorong perempuan paruh baya itu hingga jatuh terduduk di lantai.
Sima yang mulai merasakan jika punggungnya berdenyut nyeri pun mengusap punggungnya perlahan dan kini perempuan itu mencoba beranjak berdiri sembari menahan rasa sakit di bagian pinggangnya.
__ADS_1
"Jika kau mau pulang sekarang! Maka tak perlu kembali lagi!" setelah bicara Yesi langsung melanjutkan lagi langkah kakinya. Yesi percaya jika perempuan miskin itu tak akan mau merelakan pekerjaannya begitu saja karena dia pasti begitu membutuhkan uang untuk menyambung hidupnya yang pendek ini.
"Nona Yesi maafkan saya, saya akan mengatakan Anda makan malam sekarang," kata Sima mengalah. Ia tak boleh menyerah dan harus berjuang dengan putrinya.
"Bagus! Sekali lagi kau berani membantahnya kata-kata aku, maka kau langsung angkat kaki dari rumah ini detik itu juga," ujar Yesi tanpa belas kasih sedikitpun.
Yesi berasal dari keluarga kaya dan ia tak pernah hidup susah. Sejak dari kecil Yesi selalu saja mendapatkan apa yang ia inginkan hal itu membuat sikap arogan perempuan itu mulai terbentuk secara perlahan dan membuatnya ingin menghancurkan siapa saja yang telah berani menolak keinginannya, bahkan Yesi juga tipe orang yang pendendam dan sekarang ia mencoba untuk melampiaskan dendamnya.
***
"Tuan, ini susah sore saya harus kembali ke restoran," pamit Asena yang sejak dari tadi masih ada di dalam ruangan ini. Entah apa alasan Tuan Altair yang malah melarangnya kembali ke restoran sejak tadi siang bahkan lelaki itu juga menyuruh Asena duduk di sofa dan menonton televisi. Jika perempuan lain yang diperlakukan seperti ini maka mereka semua akan merasa bahagia tetapi berbeda dengan Asena.
Tuan Altair mulai beranjak berdiri dari posisi duduknya kemudian berjalan menghampiri Asena. "Kau seharusnya senang karena aku hanya menyuruh kamu duduk di dalam ruangan ini, bukankah itu lebih baik dari pada kamu harus bekerja menjadi pelayan di dalam restoran itu," kata Tuan Altair.
"Jika terus duduk seperti ini maka saya bisa terkena penyakit ginjal," jawab Asena jujur. "Jika boleh jujur saya lebih suka bekerja di restoran seperti biasanya." Asena beranjak berdiri dari posisi duduknya. Asena yang terlalu lama duduk pun merasakan kakinya kram dan ia hampir saja jatuh tetapi dengan sigap Tuan Altair langsung memegangi tubuhnya.
"Maafkan saya Tuan," kata Asena hendak menarik tubuhnya tetapi di kedua kakinya terasa seperti ada ribuan semut yang merayapi kedua kaki itu dan membuat Asena tak sanggup mengerakkan kakinya.
"Kau merayu dengan cara yang berbeda dari perempuan lainnya," ujar Tuan Altair.
Mendengarkan penuturan Tuan Altair membuat rasa takut Asena melebur seketika dan kini ia menatap Tuan Altair tajam kemudian berkata, "Saya tidak menggoda, tetapi kaki saya terasa kesemutan sekali hingga tak sanggup bergerak," mata Asena jujur.
__ADS_1
Tuan Altair tersenyum devil membuat Asena merasa curiga akan arti sebulan menakutkan itu. "Bagaimana jika aku injak kaki kamu," goda Tuan Altair dan bisa kalian bayangkan wajah Asena sekarang?