
Saat ini Asena sedang sibuk melayani para pengunjung restoran. Tidak sengaja Asena melihat Nana masuk dari pintu utama restoran ini dengan kepala yang tertunduk. Setelah mencatat menu yang para pengunjung inginkan barulah Asena melangkah menuju ke dapur kemudian menemui Nana. Terlihatlah jika kini Pak Dani dan juga para perempuan lainnya sedang melingkari Nana hal itu membuat jantung Asena berdetak dengan begitu kencang sekali seakan merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres terjadi kepada sahabat baiknya itu.
"Nana apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Pak Dani bingung melihat Nana sejak dari tadi hanya menangis tanpa mengeluarkan suaranya.
"Nana apa yang terjadi?" tanya Asena setelah perempuan itu berdiri di samping sahabat baiknya ini.
"Aku tidak tahu apa kesalahanku, tetapi setelah melihatku tiba-tiba saja Tuan Altair memintaku untuk berhenti dari restoran ini begitu saja. Dan Tuan Altair juga mengatakan seharusnya bukan aku yang datang untuk mengantarkan makanan itu," Kata Nana di sela-sela isak tangisnya.
Pak Dani segera meminta semua pekerja untuk membubarkan diri dan Pak Dani juga meminta para koki untuk kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing karena sekarang di luar sedang banyak pengunjung yang menunggu makanan mereka. Setelah semua pelayan dan juga koki membubarkan diri sekarang hanya ada Pak Dani, Nana dan juga Asena saja.
"Pak Dani bolehkah saya pergi ke perusahaan Gerden grup sekarang, saya tidak bisa membiarkan Tuan Altair memecat Nana seperti ini," kata Asena dengan wajah memohon pada Pak Dani. Jika saja tadi Asena datang ke perusahaan pastilah Nana tidak akan terkena masalah, ini semua karena Asena dan ia harus bertanggung jawab.
Nana yang mendengarkan ucapan Asena pun langsung menggenggam tangan sahabatnya itu. "Asena apa yang mau kamu lakukan, kamu nanti bisa dipecat juga jika sampai datang ke sana," Kata Nana. Selama ini Nana tahu jikalau Asena adalah tulang punggung keluarga dan Nana tidak ingin Asena juga kehilangan pekerjaan sama sepertinya.
"Seharusnya yang datang ke sana adalah aku, bukankah tadi lelaki kejam itu mengatakan demikian. sebaiknya sekarang aku datang ke sana sebelum orang itu menghancurkan restoran ini." Setelah bicara Asena menatap ke arah Pak Dani yang langsung menganggukkan kepalanya setuju.
"Pergilah bersama dengan mobil restoran dan bawalah ponsel. Kamu harus mengabari saya tentang apa yang terjadi dan biarkan Nana tetap berada di restoran ini sampai mendapatkan kabar darimu," kata Pak Dani dan Asena langsung menganggukkan kepalanya setuju.
***
"Lan! Hadiri rapat hari ini, Aku ingin beristirahat sejenak!" titah Tuan Altair.
__ADS_1
Lan ingin sekali menolak karena meeting kali ini begitu penting sekali dan membutuhkan kehadiran Tuan Altair secara langsung, tetapi Lan tak kuasa menolak titah dari sang Sultan di hadapannya. Pun lelaki itu langsung menganggukkan kepalanya lalu mengambil beberapa berkas yang ia butuhkan dari atas meja Tuan Altair dan setelah itu Lan pamit untuk menghadiri rapat.
Di tempat lain.
Asena baru saja bertanya pada resepsionis yang mengatakan jika Tuan Altair sedang berada di dalam ruangannya. Resepsionis itu pun meminta Asena untuk pergi ke ruangan Tuan Altair sendiri, kemarin asisten Lan sempat mengatakan jikalau perempuan bernama Asena datang maka langsung suruh saja masuk ke dalam ruangan Tuan Altair.
Saat ini Asena sudah berdiri di depan ruangan Tuan Altair. Perempuan itu mengetuk pintu ruangan ini beberapa kali m, tetapi tidak ada sahutan.
"Tadi resepsionis mengatakan jika Tuan Altair ada di dalam ruangan ini. Tapi kenapa lelaki itu tidak menjawab ketukan pintu dariku, ataukah mungkin indra pendengarannya sedang tidak berfungsi dengan benar sekarang," kata Asena asal bicara karena merasa kesal kepada lelaki itu. "aku tidak bisa kembali ke restoran sebelum mengetahui jika Nana tidak jadi dipecat," kata Asena bertekad. Asena kembali mengingat apa yang sang resepsionis katakan tadi, Asena boleh langsung masuk kedalam ruangan Tuan Altair.
Dan kini Asena mencoba untuk memberanikan diri membuka pintu ruangan Tuan Altair. Nampak sangat jelas ruangan ini terlihat sepi sekali, manik mata Asena tidak bisa melihat apapun kecuali hanya kegelapan saja yang menyelimuti ruangan ini, ya lampu di dalam ruangan ini padam sekarang membuat Asena tak bisa melihat apapun.
Asena pun memutar tubuhnya berjalan ke arah pintu ruangan ini tetapi yang tidak disangka sekarang malah Asena melangkah menuju ke sofa. Asena yang tidak bisa melihat dalam kegelapan tanpa sengaja menyandung kaki seseorang hingga membuatnya jatuh ke atas sofa dan disaat yang bersamaan lampu di dalam ruangan ini menyala membuat kedua bola mata Asena membulat penuh ketika menyadari jika sekarang dirinya berada di atas tubuh Tuan Altair.
Resepsionis menghubungi Tuan Altair dan mengatakan jikalau perempuan bernama Asena sedang menuju ke ruangannya. Tuan Altair yang memang sejak dari awal posisinya berbaring di sofa pun segera menepuk tangannya dua kali guna untuk mematikan lampu di dalam ruangan ini, sejak awal Asena masuk ke dalam ruangan ini Tuan Altair sudah memperhatikannya dan perempuan itu berjalan ke arahnya hingga membuat Tuan Enver memajukan satu kakinya dan Asena tersandung lalu jatuh ke dalam pelukannya.
"Ma-maafkan saya Tuan, sungguh saya tidak bermaksud untuk bersikap kurang ajar kepada Anda, tetapi ruangan ini nampak sunyi sekali dan juga lampunya tadi padam membuat saya tak bisa melihat apapun," jelas Asena hendak menarik tubuhnya dari Tuan Altair, tetapi yang tidak disangka lelaki itu justru memutar keadaan mereka hingga kini Asena yang ada di bawah Tuan Altair.
Tangan Tuan Altair menyibakkan rambut Asena ke belakang telinga agar tak menghalangi pandangannya mengamati wajah cantik ini. Jantung Asena berdetak dengan begitu kencang sekali ketika ia tahu tak ada jarak diantara keduanya. Bahkan aroma mint yang menguar dari bibir Tuan Altair membuat jantung Asena berdetak dengan begitu kencang sekali.
"Jelas-jelas kau menjatuhkan diri di pelukanku, tetapi masih tak mau mengaku jika kau menggodaku," kata Tuan Altair sembari menatap ke arah bibir Asena yang nampak menggoda pandangannya.
__ADS_1
"Sungguh saya tidak bermaksud melakukannya dan saya kemari hanya untuk meminta tolong kepada Tuan agar tidak memecat Nana, lain kali jika Tuan memesan makanan maka akan saya sendiri yang mengantarkannya," kata Asena sembari mencoba menjauhkan tubuh Tuan Altair darinya, tetapi lelaki itu tak bergerak satu inci pun darinya.
"Kau tak suka jika aku memecat temanmu? Sedangkan aku yang menggaji mereka sekarang!" kata Tuan Altair dengan menatap ke arah Asena dengan mata tajamnya.
"Tuan, tolong maafkan Nana. Saya akan melakukan apapun tetapi saya mohon tolong jangan pecat Nana dari pekerjaannya." Asena berusaha sekuat tenaga untuk membuat Nana tetap bekerja di restoran itu, selama ini Nana sudah berbuat baik kepadanya dan juga selalu membela Asena ketika dibully oleh para pekerja lainnya, sekarang giliran Asena untuk membantu sahabatnya itu.
"Benarkah kau mau melakukan semua hal yang aku inginkan?" tanya Tuan Altair memastikan.
"Ya, semua hal kecuali harus menemani Anda di atas ranjang," jawab Asena jujur sembari menggantikan kedua bahunya.
Tuan Altair menatap ke arah Asena semakin tajam. Ini baru kali pertama ada perempuan yang menolak untuk menemaninya. Entah mengapa Tuan Altair pun semakin merasa penasaran kepada Asena hingga lelaki itu mengarahkan jemari tangannya untuk memegang bibirnya sendiri seakan memberikan isyarat kepada perempuan itu harus segera menciumnya.
"Apakah lelaki gila ini sedang memintaku untuk mengecupnya? Tapi aku tidak pernah berciuman sebelumnya," batin Asena pada dirinya sendiri. "Baiklah tak masalah jika harus kehilangan ciuman pertama yang terpenting Nana tidak dipecat."
Tanpa menunggu waktu lama Asena pun mengecup bibir Tuan Altair sekilas. Tuan Altair menatap ke arah Asena semakin tajam sekali ia tak menyangka perempuan ini benar-benar tak mau dekat dengannya.
"Kau berani melakukan ini padaku," kata Tuan Altair.
Asena yang mendengarkan penuturan Tuan Altair langsung melong kaget, bukankah tadi lelaki itu mengusap-usap bibirnya seakan memberikan isyarat padanya, tetapi sekarang dia justru marah pada Asena.
Tuan Altair mengambil kesempatan untuk meraup bibir ranum yang ada di hadapannya ini dan entah mengapa lelaki itu merasakan gelora yang begitu besar dalam dirinya, hal ini tak pernah Tuan Altair rasakan sebelumnya.
__ADS_1