
Asena membuka matanya lambat-laun kedua pupil matanya bisa melihat dengan sangat jelas jikalau Tuan Altair berada di sampingnya, Asena mendudukkan tubuhnya perlahan dan dibantu oleh Tuan Altair. Tuan Altair menjaga Asena seperti sedang menjaga adik kandungnya sendiri, sikap hangat dan juga pengertian Tuan Altair membuat Asena merasa nyaman sekali dan ia juga merasa tidak sendirian di bumi ini.
"Tuan Altair. Maafkan saya karena merepotkan Anda," kata Asena setelah perempuan itu mendudukkan tubuhnya. Asena melihat ke arah salah satu punggung tangannya yang tertancap oleh jarum infus.
"Kamu adalah istriku dan sudah sewajarnya. Aku melakukan ini," jawab Tuan Altair. "Sebentar lagi cairan di dalam infus itu habis dan kita akan pergi melihat kondisi Papa kamu," kata Tuan Altair yang sudah tahu apa maksud Asena menatap ke arah selang infusnya. Tuan Altair tidak ingin melihat Asena melepaskan selang infus itu sebelum cairan yang ada di kantungnya habis.
Lan yang berada di dalam ruangan ini langsung mengusap kedua telinganya secara bergantian. "Aku sungguh tak percaya Tuan Altair bisa berbicara seperti itu pada seorang gadis, ataukah mungkin kepala Tuan Altair sempat terbentur beberapa waktu yang lalu?" tanya Lan pada dirinya sendiri. Lan bahkan beberapa kali mengerjapkan matanya melihat ke arah Tuan Altair seakan lelaki itu mencoba untuk meyakinkan dirinya jikalau lelaki yang ia lihat sekarang memanglah majikannya dan bukan sosok arwah penasaran. Hahaha sikap Lan begitu lucu sekali. Jika sampai Tuan Altair tahu kalau ia memikirkan hal semacam ini, maka Tuan Altair akan memotong gajinya.
Hati Tuan Altair seakan tersayat dengan pisau tajam ketika melihat bibir Asena bergetar dan kedua kelopak mata perempuan itu juga mulai dipenuhi dengan bulir bening. Ya Tuhan, andaikan Tuan Altair bisa memindahkan rasa sakit di hati Asena sekarang padanya maka sungguh dia rela menerima rasa sakit sebanyak dan sebesar apapun. Hanya untuk melihat perempuan yang ia cintai merasa tenang dan juga nyaman. Asena masih berusia 20 tahunan, tetapi beban yang ia tanggung begitu besar sekali.
Tuan Altair mengarahkan tangannya untuk menggenggam kedua tangan Asena seakan ingin melindungi istrinya. Sorot mata teduh yang terpancar dari kedua manik mata Tuan Altair seakan mencoba untuk membujuk Asena.
"Kau tidak sendirian, ingatlah itu! Aku akan selalu berada di sampingmu sampai kapanpun," kata Tuan Altair.
"Terima kasih," jawab Asena memeluk Tuan Altair kemudian membenamkan wajahnya di dada kekar lelaki tersebut dengan mata yang terpejam seakan mencoba mencari suatu kedamaian.
__ADS_1
Dan tidak disangka Tuan Altair justru merasakan gelengnyar aneh seakan seperti suatu sengatan listrik yang menjalar ke tubuhnya hingga membuat riak yang berkumpul pada pusatnya, ya di saat yang tidak tepat juniornya justru bangkit. Tuan Altair menggigit bibir bagian bawahnya mencoba untuk menahan ledakan hasrat yang begitu besar pada dirinya. Andaikan saja saat ini Asena tidak sedang terpuruk dan juga hancur sudah bisa dipastikan Tuan Altair akan mengusir Lan keluar dari ruangan ini lalu menghabiskan waktu bersama dengan istrinya, tapi Tuan Altair tak bisa melakukan semua itu dan memilih menahannya.
"Junior sabarlah belum waktunya kamu untuk bangkit, cepat tidurlah lagi," batin Tuan Altair sembari memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa begitu pusing.
***
Saat ini Asena sudah berdiri di depan ruangan Sima berada. Tuan Altair mengatakan jika Papanya berada di dalam ruangan yang sama dengan mamanya supaya Asena mudah melihat mereka berdua. Jantung Asena berdetak dengan begitu kencang sekali ketika tangannya menyentuh gagang pintu dan setelah memantapkan hatinya perempuan itu baru mengayuh pintu bercat putih tulang ke belakang dan nampaklah dua orang paruh baya dalam kondisi yang begitu mengenaskan sekali.
"Tambahkan hatimu, takdir adalah milik Tuhan tapi usaha dan kerja keras itu milik kita," bisik Tuan Altair di dekat telinga Asena.
"Kasihan sekali Nona Asena, dia harus melihat kondisi kedua orang yang sangat ia sayangi dalam keadaan tragis," batin asisten Lan.
"Bagaimana dengan kondisi Papaku?" tanya Asena tanpa melihat ke arah Tuan Altair.
"Dia dalam kondisi koma karena mengalami benturan yang begitu hebat di bagian kepalanya," jawab Tuan Altair tanpa menceritakan secara detail. Dokter mengatakan sebenarnya Papa Asena sudah meninggal hanya saja karena dibantu oleh alat pernafasan jadi lelaki itu masih bisa bernafas sampai detik ini namun, Tuan Altair tidak tega jika harus menceritakan kebenaran tersebut pada istrinya.
__ADS_1
Tubuh Asena bergetar, rasa sakit terasa begitu berdenyut nyata di hatinya sekarang. Dengan langkah yang tertatih Asena berjalan keluar dari ruangan ini. Tuan Altair dan juga Asisten Lan mengikutinya.
"Apakah kau sudah siap menemui mereka sekarang?" tanya Tuan Altair kepada Asena.
Tuan Altair memeluk Asena dan juga mengecup keningnya seakan mencoba untuk memberitahukan satu kali lagi jika perempuan itu tidak sendirian.
"Aku lebih dari siap sekarang, apakah benar itu hanya kecelakaan atau ...." perkataan Asena yang menggantung di udara dan perempuan itu tertunduk dengan bulir bening yang kembali menjatuhi kedua pipinya.
"Benar apa yang kamu pikirkan Zevana adalah dalang dibalik kecelakaan itu! Dengan satu kali ucapan maka dia akan masuk ke dalam penjara, tetapi aku ingin mendengarkan keputusanmu terlebih dahulu," kata Tuan Altair sembari melihat ke arah Asena.
Asena menarik nafas dari mulut kemudian menghembuskannya perlahan dari hidungnya, kini kedua tangan perempuan itu mengusap cairan bening yang ada di kedua pipinya dan ada seringai licik juga bengis mulai nampak dari bibir Asena. Seumur hidup baru kali pertama Asena menunjukkan seringai seperti serigala yang sedang berburu di hutan belantara karena rasa lapar.
"Jeruji besi terlalu indah untuknya, dia bisa keluar dari jeruji besi kapan saja karena perempuan itu sangat licik dan aku tak ingin memberikan dia kesempatan untuk menikmati kehidupan lagi," kata Asena sembari menatap ke arah Tuan Altair dengan jantung yang sudah bergemuruh karena emosi.
Tuan Altair mengusap puncak kepala Asena dengan seringai liciknya, "Gadis pintar, kau tak harus bersikap baik seperti sebelumnya karena aku akan menjadi pelindungmu. Tak akan ada satu orang pun di negara ini yang berani menyentuhmu karena kau adalah milikku," kata Tuan Altair mendukung penuh apa yang Asena inginkan.
__ADS_1