Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Kisah Asena


__ADS_3

Asena masih tetap memijat pundak Tuan Altair karena perempuan itu mencoba untuk merayu Tuan Altair guna untuk mengurungkan perintah meminta Asisten Lan menghubungi Dokter. Tuan Altair menarik tangan Asena untuk duduk di pangkuannya dan hal itu membuat Lan dengan sikap profesional langsung membalikkan tubuhnya membelakangi majikannya itu.


"Lan! Tak perlu menghubungi Dokter dan keluarlah dari ruangan ini!" perintah Tuan Altair mengalah akan keinginan Asena.


"Baik, Tuan," jawab Lan pada Tuan Altair.


"Tuan, lepaskan saya," pinta Asena yang terus bergerak karena kini perempuan itu merasa tidak nyaman berada di pelukan Tuan Altair.


"Diamlah! Atau kau akan menyesal telah membangunkan sesuatu yang ada di bawah sana," kata Tuan Altair sembari menatap tajam ke arah Asena.


"Di bawah sana?" tanya Asena polos. "Apakah ada hewan di bawah sana?" tanya Asena masih dengan keluguan yang hakiki.


"Kau itu bodoh sekali!" ujar Tuan Altair seraya mengusap kasar wajahnya mengunakan tangan.

__ADS_1


"Diam dan biarkan aku bekerja atau kau akan menyesalinya nanti!" ancam Tuan Altair.


Asena menggganggukkan kepalanya tapi pikiran kembali teringat akan kedua perempuan yang tadi keluar dari restoran tempatnya bekerja dengan terburu-buru. Asena pun menatap ke arah wajah Tuan Altair yang sekarang sedang sibuk menatap layar laptop yang ada di hadapannya. Jika sedang serius bekerja seperti ini, lelaki itu terlihat tampan sekitar. Shith! Apa yang barusan Asena pikirkan? Tampan? Sepertinya Asena mulai kehilangan kewarasannya.


Tuan Altair melirik ke arah Asena yang sejak dari tadi melihatnya, Asena yang mendapatkan tatapan dari Tuan Altair langsung menundukkan kepalanya.


"Tu-tuan, saya akan turun dari pangkuan Anda supaya tidak mengganggu," kata Asena mencoba kabur.


"Diam! Atau kau akan menyesal," kecam Tuan Altair. "Katakan apa yang ingin kau ketahui," sambung Tuan Altair.


"Hem,"


Di sisi lain.

__ADS_1


Saat ini Zevana sedang sibuk mengurus kekacauan yang ada di perusahaan. Perempuan itu nampak sibuk berbicara dengan para pekerjaannya dan terlihat Yessi melangkah ke arahnya. Zevana segera menyudahi rapat mereka ketika melihat wajah Yessi nampak kesal dan itu sudah membuat Zevana bisa menebak jika Yessi pasti ingin menceritakan sesuatu padanya.


"Yessi, bukankah kau tadi mengatakan akan pulang ke rumah?" tanya Zevana dengan mendudukkan tubuhnya di kursi kerja.


"Aku sudah pulang ke rumah," jawab Zevana.


"Lalu kenapa sekarang datang kemari?" tanya Zevana balik dengan netra yang masih mengamati wajah adiknya.


"Aku tak tahan berada di dalam rumah itu setelah mengetahui suatu kebenaran yang selama ini telah Papa sembunyikan," kata Yessi dengan bulir bening yang mulai membasahi kedua pipinya.


Zevana mulai berdiri dari posisi duduknya dan menarik tangan Yessi hingga keduanya duduk di sofa.


"Katakan yang jelas Yessi dan jangan membuat kepalaku semakin bertambah pusing," kata Zevana.

__ADS_1


"Aku tidak sengaja mendengarkan jika Asena adakah anak Papa dengan perempuan lain," kata Yessi dengan isak tangisan yang sudah tak bisa ia sembunyikan lagi.


Zevana mengundang kedua pundak Yessi kemudian berkata, "Kalau bicara yang jelas dan jangan membuat aku semakin merasa penasaran seperti ini," bentak Zevana dengan kedua mata melihat Yessi yang kini tengah menundukkan kepalanya.


__ADS_2