Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Menyembunyikan Kelemahan Tuan Altair


__ADS_3

Setelah tiba di rumah sakit Asena terus saja diam tanpa mengeluarkan suara hal itu membuat Tuan Altair kebingungan sekali.


Entah mengapa perasaan Asena menjadi lebih hangat ketika ia mengingat ucapan Tuan Altair sebelumnya. Hal yang mengatakan jika lelaki itu akan tunduk di bawah kakinya asal Asena tidak meninggalkannya, benarkah semua ucapan Tuan Altair itu benar? Atau lelaki itu hanya berpura-pura saja di depan Zevana untuk menambah emosi perempuan kejam tersebut. Sejak dari tadi Asena terus saja memikirkan hal itu hingga membuatnya merasa tidak tenang.


Asena kini mengakui jika ia ternyata sudah jatuh cinta kepada Tuan Altair dan cinta itu begitu besar semakin hari semakin terpupuk bagaikan bunga yang sudah mekar pada musimnya dan Asena berharap bunga itu tak akan layu diterpa oleh waktu.


"Sayang. Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah kau menginginkan sesuatu?" tanya Tuan Altair kepada Asena sembari membelai puncak kepala istrinya itu perlahan.


Hati Asena terasa hangat sekali ketika mendengarkan Tuan Altair memanggilnya dengan sebutan sayang dan entah mengapa Asena merasa candu mendengarnya bahkan tatapan tajam yang selama ini selalu lelaki itu berikan padanya kini tak nampak lagi. Tuan Altair melihatnya dengan sorot mata sendu yang seakan ingin selalu menjaga dan berada di sampingnya. Semoga untuk selamanya.


"Saya tidak menginginkan apapun," jawab Asena dengan memaksakan senyuman di bibirnya.


Ketika sepasang insan itu saling menatap satu sama lain tiba-tiba terdengar bunyi suara alat deteksi jantung. Asena dan juga Tuan Altair langsung melihat ke arah Sima! Asena begitu terkejut sekali ketika netranya melihat alat deteksi jantung yang berjalan lurus seakan menandakan jika detak jantung Sima hampir menghilang.


"Mama ... Mama ... jangan tinggalkan Asena sendiri," pekik Asena panik seraya beranjak berdiri dari sofa kemudian berlari menghampiri mamanya.

__ADS_1


Tuan Altair segera memencet tombol yang ada di dekat ranjang. Berapa dokter buru-buru melangkah masuk ke dalam ruangan ini, menarik tangan Asena menjauh untuk memberikan akses bagi para dokter supaya bisa periksa kondisi Sima sekarang.


"Mereka harus menyelamatkannya. Aku tak ingin kehilangan Mama," ucap Asena dengan derai air mata yang sudah membasahi wajahnya. Tangisan Asena membuat ruangan ini terasa begitu mengharu biru hingga membuat para pengawal yang sedang berdiri di depan ruangan ini tak kuasa melihat kesedihan Nona mudanya tersebut.


Para dokter masih sibuk berusaha untuk menggunakan alat kejut jantung supaya bisa mengembalikan detak jantung Sima, tetapi setelah mencoba beberapa saat para dokter itu pun tak bisa melakukan banyak hal.


Altair yang bisa melihat apa yang terjadi segera memeluk Asena dengan begitu erat seakan mencoba untuk menguatkan hati istrinya sekarang. Asena terus aja menangis terisak-isak sampai tubuhnya lemah hingga Tuan Altair menggendongnya menuju ke sofa kemudian mendudukkan Asena di sana.


Seorang dokter melangkah menghampiri Tuan Altair. terus saja iya hendak menyampaikan kalau Sima sudah tak bisa ditolong lagi, tetapi terdengar kembali suara alat deteksi jantung hingga membuat para dokter pun kembali kebingungan saat melihat nadi Zegan dengan pelan tapi pasti mulai menghilang.


Para pengawal yang mengetahui kondisi ini segera menghubungi asisten Lan yang sekarang sedang melakukan meeting di perusahaan.


Selang beberapa waktu kemudian.


Tuan Altair terus saja berada di samping Asena tanpa meninggalkannya 1 detik pun. Lelaki itu bahkan belum melakukan makan siang karena ia tak tega melihat kondisi istrinya seperti ini.

__ADS_1


Asena mulai bergerak dan perempuan itu pun membuka kedua pelupuk matanya Asena mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan ini. Dan ini bukanlah di ruangan mamanya. Asena hendak mendudukkan tubuhnya Tuan Altair yang sedang duduk pun langsung membantu sang istri untuk bangkit dari atas ranjang.


"Apa yang aku lihat sebelumnya adalah mimpi? Benarkan, sayang itu hanya mimpi Mama dan Papaku pasti akan sembuh dan ia akan bersama dengan kita?" tanya Asena kepada Tuan Altair dengan air mata yang sudah berjatuhan. Kesedihan ini membuat lingkup oksigen yang ada di dalam paru-paru Asena seakan menipis hingga membuat Asena merasa kesulitan bernafas.


Tuan Altair yang melihat kondisi istrinya pun tanpa sadar membuat kedua matanya berkaca-kaca. Sungguh untuk kali pertama Tuan Altair merasa iba dan juga kasihan melihat kondisi seorang perempuan hingga asisten Lan yang melihat kejadian ini secara langsung segera membuang pandangannya ke arah lain merasa tak tega dengan kondisi sepasang suami istri yang ada di hadapannya sekarang.


"sayangi, mungkin dengan cara seperti inilah Tuhan mencabut rasa sakit pada kedua orang tuamu, takdir memang seringkali terasa tidak adil bagi kita namun, percayalah apa yang Tuhan rencanakan itu adalah yang terbaik bagi kita," kata Tuan Altair sembari menghapus air mata yang berjatuhan di kedua pipi istrinya.


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku bahkan belum sempat memanggilnya dengan sebutan Papa, tetapi Tuhan sudah mengambilnya terlebih dahulu," kata Asena dengan suara yang hampir tak terdengar karena terendam oleh isak tangisnya. "selama ini aku selalu menginginkan lelaki lain yang menjadi papaku dan itu terkabul, tapi lihatlah kenyataan aku bahkan tak bisa memeluknya dan aku pun tidak tahu apakah dia mengetahui jika aku adalah anak kandungnya. Apakah dia merasa senang dengan kehadiranku atau justru sebaliknya? Aku sungguh ingin berbicara dengan Papa," kata Asena dengan masih terisak-isak hingga perempuan itu pun kembali tidak sadarkan diri.


"Asena... Asena bangunlah," teriak Tuan Altair panik dan tanpa terasa satu tetes air mata Tuan Altair jatuh membasahi pipinya. Kepiluan yang dirasakan oleh istrinya sungguh membuat hati Tuan Altair hancur menjadi keping-keping.


Tuan Altair kembali mengingat apa yang terjadi di masa lalunya dan ia pun pernah merasakan kesedihan seperti ini, lelaki itu memeluk Asena dengan begitu erat.


Asisten Lan yang mengetahui Tuan Altair menitihkan air mata segera melangkah keluar dari ruangan ini kemudian berjaga di depan pintu. Tak boleh ada yang tahu jikalau lelaki arogan dan juga angkuh yang memiliki banyak musuh di luar sana sekarang telah memiliki kelemahan yaitu istrinya sendiri. Di negara ini begitu banyak orang yang ingin menghancurkan Tuan Altair dan mencoba mencari kelemahan lelaki itu, tetapi tak pernah ditemukan dan sekarang lelaki itu menunjukkan kelemahannya sendiri dan beruntunglah hanya Lam saja di dalam ruangan ini dan pernikahan Tuan Altair pun masih dirahasiakan dari publik.

__ADS_1


__ADS_2