
Karena terlalu lama menangis akhirnya Asena tertidur di dalam dekapan Tuan Altair. Mereka berdua masih berada di dalam ruangan Sima berada, sejak dari tadi Tuan Altair terus saja memeluk Asena seakan tak ingin jauh dari perempuan yang ia nikahi ini. Hingga beberapa saat berlalu Asena mulai bergerak dan membuka kedua matanya.
"Asena minumlah dahulu agar kamu tidak merasa dehidrasi ataupun kehausan karena kamu harus tetap sehat untuk membalas perlakuan orang-orang kejam itu," kata Tuan Altair yang seakan tidak menyadari jika sikapnya jauh lebih kejam daripada orang-orang itu, tapi setidaknya Tuan Altair tidak pernah mencoba untuk melukai Asena seperti orang-orang lainnya.
Asena menarik satu botol air mineral yang Tuan Altair berikan padanya kemudian perempuan itu berkata," apakah Tuan Altair tidak sadar jikalau Anda lebih kejam," kata Asena jujur dengan wajah datarnya.
Tuan Altair menyentil pelan kening Asena lalu berkata, "Hanya aku saja yang boleh menyakitimu dan yang lain tidak berhak, jika sampai mereka berani menyentuh milikku itu tandanya mereka akan mati!" kata Tuan Altair dengan intonasi suara terdengar lembut. Entah sejak kapan lelaki ini mulai bisa berbicara lembut seperti ini kepada Asena. Andaikan saja Asena tidak sedang berduka pasti perempuan itu akan merasakan jika kedua pipinya merona merah karena perasaan bahagia.
"Sekarang di manakah lelaki yang notabennya adalah Papa kandungku?" tanya Asena kepada Tuan Altair. Tuan Altair menceritakan mulai dari awal perpisahan Sima dan juga Segan waktu itu dan Asena pun tidak menyalahkan Papa kandungnya karena memang mamanya sendirilah yang memilih untuk pergi menjauh.
"Papaku tidak bersalah. Aku tidak ingin mempersulit kehidupannya, tetapi kedua putri-putrinya harus tetap bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada Mama," kata Asena dengan kedua tangan yang sudah terkepal.
"Jikalau Papa kamu tahu mengenai hal ini apakah kau pikir dia akan diam saja? Lelaki itu juga pasti akan menghukum berat kedua putrinya karena berani melukai perempuan yang begitu ia cintai dari dulu hingga sekarang," kata Tuan Altair jujur.
"Ya saya tahu dan saya begitu ingin bertemu dengannya," kata Asena.
Di tempat lain.
Zegan baru saja turun dari pesawat kemudian terlihat ada orang kepercayaannya yang melangkah menghampirinya. Zegan dengan sengaja segera menyelesaikan urusannya di luar negeri supaya ia bisa kembali ke negara ini dan bertemu dengan Putri kandungnya. Putri yang selama ini tidak pernah ia ketahui keberadaannya.
__ADS_1
"Sekarang. Nyonya Sima sudah tidak bekerja di kediaman Anda lagi," lapor orang kepercayaan Zegan yang kini sedang mengemudikan mobil.
Zegan yang sejak dari tadi menatap ponselnya, atau paling tepatnya lelaki itu terus saja melihat ke arah potret Asena yang terlihat begitu cantik natural. Kini Zegan mulai mengalihkan tatapannya ke arah orang kepercayaannya itu.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Zegan dengan air muka yang nampak serius sekali.
Di saat yang bersamaan ada satu mobil berwarna hitam yang melaju kencang ke arah mobil yang sedang Zegan tumpangi sekarang. Orang kepercayaan Zegan mencoba untuk memutar setir mobilnya menuju ke sisi kiri, tetapi mobil yang ada di hadapannya sekarang mengikutinya seakan sopir yang sedang mengemudikan mobil itu memang sengaja melakukannya hingga tabrakan itu pun tak bisa dihindari.
Kediaman Zegan.
Zevana saat ini sedang duduk di sofa sembari menaruh kedua kakinya ke atas meja. Perempuan itu menonton film drakor kesukaannya dan di sana ada adegan balap liar, Zevana memasang wajah datar sembari terus memasukkan buah anggur ke dalam mulutnya tanpa mengalihkan perhatiannya sama sekali.
"Jika yang kalian lakukan hanya memperhatikanku maka berhenti saja bekerja di rumah ini," teriak Zevana sembari melirik tajam ke arah para pelayannya yang kini berdiri tak jauh dari posisinya.
"Kami akan segera melakukan pekerjaan kami, Nona Zevana," kata para pelayan itu saling bersahutan satu sama lain.
"Aku akan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalanku termasuk kau, Papa," Zevana dengan sengaja menyuruh orang untuk membunuh Zegan. Hal itu jauh lebih baik daripada Papanya kembali dan memberikan hukuman padanya dan juga Yessi.
Zevana yang sedang fokus melihat ke arah layar televisi tak menyadari jika kini Yessi ada di belakangnya.
__ADS_1
"Kau membunuh Papa, Zevana?" tanya Yessi yang sudah terlihat kacau.
Zevana menoleh ke arah Yess yang kini berlari menjauh menaiki anak tangga rumah ini.
***
"Ayo kita cari keberadaan papaku. Aku ingin bertemu dengannya, Ku ingin melihat secara langsung wajah lelaki yang begitu mama cintai," pinta Asena. Dan Tuan Altair langsung menganggukkan kepalanya.
Keduanya mulai beranjak berdiri dari sofa dan di saat yang bersamaan Asisten Lan buru-buru melangkah masuk ke dalam ruangan ini sampai lupa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Tuan Altair sudah bisa menebak jikalau Asisten Lan lupa tidak mengetuk pintu itu tandanya ada hal yang sangat serius sekali.
"Ada apa Asisten Lan? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?" tanya Tuan Altair setelah asisten Lan membungkukkan tubuh di hadapannya.
Asena terdiam dengan wajah yang datar, air matanya memang sudah berhenti menetes, tetapi rasa sakit di hatinya tetap ada dan masih tersimpan rapi sebelum satu persatu dendamnya terbalaskan.
"Saya baru saja mendapatkan kabar katanya Tuan Zegan mengalami kecelakaan dan dia dibawa ke rumah sakit ini juga," lapor Asisten Lan dengan kepala yang tertunduk.
Tuan Altair menarik pandangannya ke arah Asena dan benar saja perempuan itu mulai merasakan tubuhnya lemas hingga tidak sadarkan diri kembali. Tuan Altair membopong tubuh istrinya menuju ke sofa kemudian meminta Lan untuk memanggil dokter.
"Lan! Perintahkan para pengawal kita untuk berjaga di sekitar rumah kakak beradik itu dan pastikan jikalau semua pekerja di dalam rumah tersebut telah kembali ke kediaman mereka masing-masing, jangan sampai keduanya lolos atau nyawamu dan juga nyawa para pengawal ikut melayang bersama kepergian mereka!" titah Tuan Altair kepada asisten Lan dengan wajah iblisnya.
__ADS_1
Kasihan sekali Asena kesedihan dan juga kepiluan datang bertubi-tubi tiada henti.