
Beberapa bulan setelah selesai semua pembalasan Asena selesai.
"Kenapa Bibi lihat sejak dari tadi Nona Asena mondar-mandir ke sana kemari seperti orang yang sedang tidak tenang karena memikirkan suatu hal," kata Bi Iren setelah perempuan paruh baya itu menghentikan langkahnya di samping Asena.
Asena menghempaskan tubuhnya di sofa sembari melipat kedua tangannya di dada dengan bibir yang mengerucut kesal. "Bi Iren, Asena merasa sangat bosan sekali berbulan-bulan berada di dalam rumah ini, ingin pergi jalan-jalan sendiri juga dilarang oleh si posesif itu," gerutu Asena dengan wajah yang nampak kesal.
Bi Iren mengulas senyuman tipis karena ia tahu sikap posesif majikannya kepada Nona mudanya ini.
"Tuan Altair melakukannya karena ia begitu mencintai Nona Asena. Bukankah Tuan Altair melarang Nona Asena untuk pergi sendirian, tetapi Tuan Altair sepertinya tidak pernah melarang Nona Asena untuk membawakan makan siang ke perusahaan Tuan Altair," kata Bi Iren mencoba untuk mencari solusi akan kebosanan majikannya sekarang.
Asena yang semula menyandarkan punggungnya di sofa pun langsung menarik punggungnya dan beranjak berdiri dengan semangat.
"Bi Iren benar sekali dia tidak pernah mengatakan jika Asena tak boleh datang ke perusahaannya, kalau begitu ayo kita membuat makan siang untuknya biar Asena bisa pergi ke perusahaan," kata Asena kepada Bi Iren.
"Kalau begitu saya akan menghubungi asisten Lan dan mengatakan jika Nona Asena akan mengantarkan makan siang untuk Tuan Altair," jawab Bi Iren.
"Jangan laporkan hal ini kepada Asisten Lan, karena aku ingin memberikan suamiku kejutan," kata Asena kepada Tuan Altair. Bi Irene menganggukkan kepalanya setuju.
Selang beberapa waktu.
Saat ini Asena sedang berdiri di depan perusahaan milik suaminya. Asena kembali mengingat awal-awal ia datang ke perusahaan ini dengan masih menggunakan baju pelayan dan juga membawa beberapa paper bag berisikan makan siang suaminya, jika dulu Asena akan menganggap datang ke perusahaan ini seperti suatu kutukan dan lihatlah ini sekarang. Dia sayang ke perusahaan ini dengan keinginannya sendiri. dan sekarang asena bisa berdiri di depan tempat ini dengan menggunakan baju branded serta statusnya juga sudah berubah tidak lagi seperti pelayan dahulu.
"Nona saya ingin bertemu dengan Tuan Altair, apakah dia ada di kantor?" tanya Asena ketika ia sudah berada di depan resepsionis.
Sang resepsionis itu menatap wajah Asena dan ia tak mengenali perempuan yang ada di hadapannya sekarang. Karena Asena menggunakan make up di wajahnya tak seperti dahulu.
__ADS_1
"Tuan Altair sedang ada di ruangan meeting sekarang apakah Anda sudah melakukan jadwal pertemuan kepada Tuan Altair sebelumnya?" tanya resepsionis tersebut.
"Sudah dan Tuan Altair menyuruh saya untuk datang ke ruangannya," jawab Asena berdusta. Asena tahu jika ia menjawab yang sejujurnya maka resepsionis itu akan menendangnya keluar dari ruangan ini seperti apa yang pernah terjadi waktu itu.
"Kalau begitu akan saya antar Anda ke ruangan Tuan Altair," jawab sang resepsionis sembari menatap ke arah Asena penuh selidik.
"Tidak perlu mengantarkan saya. Saya akan pergi sendiri," jawab Asena dan resepsionis itu langsung menganggukkan kepalanya.
"Siapa perempuan itu dia cantik sekali?" tanya resepsionis lain.
"Sepertinya dia perempuan penghibur, lihatlah di tangannya membawa makanan," jawab sang resepsionis yang tadi sempat berbicara dengan Asena.
Asena hanya bisa menghembuskan nafas perlahan ketika mendengarkan perbincangan kedua resepsionis tersebut.
Beberapa detik kemudian.
Tuhan Altair masuk ke dalam ruangan ini bersama dengan asisten Lan dan 2 orang lainnya. Tuan Altair melirik ke arah meja yang sudah penuh dengan makanan berjejer rapi di sana. Tuan Altair yang sedang emosi ketika berada di ruangan meeting tadi semakin marah ketika melihat ada orang yang berani masuk ke dalam ruangan kantornya tanpa izin terlebih dahulu.
Asisten Lan dan juga kedua orang lain semakin berkeringat dingin ketika melihat tatapan iblis Tuan Altair pada mereka.
"Siapa yang berani menaruh sampah makanan ini di atas meja?" tanya Tuan Altair kepada asisten Lan sembari menunjuk tangannya ke arah makanan yang berjejer rapi di atas meja.
"Saya akan segera mengeceknya Tuan Altair," jawab asisten LAN.
"Bukankah aku sudah mengatakan jika kita pergi ke ruangan meeting maka harus ada dua pengawal yang berjaga di depan ruangan ini supaya tak ada orang yang masuk ketika aku sedang tidak ada di ruangan!" kata Tuan Altair dengan intonasi suara tinggi.
__ADS_1
"Saya sudah meminta dua orang pengawal untuk berjaga-jaga di depan ruangan ini, mungkin saja mereka berdua sedang ada keperluan hingga pergi begitu saja," jawab Asisten Lan dengan tubuh yang sudah bergetar ketakutan ketika melihat wajah Tuan Altair sudah merah padam seperti ini.
"Aku tidak menyukai adanya alasan! Pecat kedua pengawal itu sekarang dan bereskan sampah di atas meja ini, mana mungkin aku akan memakan makanan sederhana seperti ini!" perintah Tuan Altair kepada asisten Lan.
"Baik Tuan Altair," jawab Asisten Lan patuh. "kalian berdua bantu saya untuk mengeluarkan makanan-makanan ini," kata Tuan Altair pada kedua lelaki yang berdiri di belakangnya.
"Siapa yang sudah berani masuk ke dalam ruanganku! Apakah orang itu ingin mati," umpat Tuan Altair sembari mengusap kasar wajahnya.
Asisten Lan dan juga kedua orang lainnya masuk ke dalam ruangan ini setelah mereka bertiga membuang makanan yang ada di atas meja itu ke dalam tempat sampah.
"Bersihkan meja itu!" perintah Tuan Altair yang melihat ada dua butir nasi tercecer di atas mejanya.
"Baik, Tuan," jawab dua orang lelaki yang sedang berdiri di belakang Asisten Lan.
Asisten Lan langsung membulatkan kedua matanya ketika ia mengetahui siapakah dalang dibalik makanan yang berjejer rapi di atas meja itu. Asisten Lan menatap ke arah Tuan Altair dan hendak membuka suaranya untuk memberitahukan apa yang ia lihat di dalam rekaman CCTV di ruangan ini, tetapi di saat yang sama pintu kamar mandi terbuka dan nampaklah Nona Asena keluar dari dalam kamar mandi itu.
Tuan Altair terkejut sekali melihat istrinya ada di dalam ruangan ini dan apa yang sedang perempuan itu lakukan di sini sekarang? Kemudian kedua bola mata Tuan Altair membulat penuh dan ia melirik ke atas meja. Semua makanan itu telah bertumpuk rapi di dalam tong sampah luar ruangan kantornya.
"Sa-sayang kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Tuan Altair setelah melihat Asena yang berjalan mendekatinya.
"Aku membuatkan kamu makan siang dan aku dengan sengaja datang ke sini untuk memberikan surprise untukmu, lihatlah ketika kau berada di ruangan meeting aku sudah menata masakan buatanku sendiri di atas meja," kata Asena sembari mengarahkan pandangannya ke atas meja tempat di mana iya menaruh masakan-masakan yang ia buat untuk makan siang suaminya.
Asena membulatkan kedua matanya ketika melihat makanan-makanan yang tadi ia tata rapi di atas meja ternyata sudah tidak ada di tempatnya kemudian Asena pun mengalihkan pandangannya kepada sang suami dengan tatapan menyelidik.
"Habislah kau Tuan Altair," batin Asisten Lan di dalam hati.
__ADS_1