
Asena menggerjap-mengerjakan kedua manik matanya dan perempuan itu pun mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ruangan kamar ini nampak begitu asing sekali untuknya, suasana hitam dan juga putih memenuhi pandangannya. Ruangan kamar yang begitu megah dan juga mewah membuat Asena merasa kurang nyaman dan ia tiba-tiba merasa terancam ketika sadar berbaring di tempat yang tak ia kenali.
Karena kelelahan semalam Asena tidak sadarkan diri ketika berada di dalam mobil Tuan Altair. Tuan Altair tak mungkin membawa Asena pulang ke rumahnya sehingga lebih memilih mengajak perempuan itu menuju kediamannya. Bahkan Tuan Altair sendiri yang membopong tubuh Asena dari mobil hingga berada di dalam ruangan kamarnya.
"Rumah siapa ini?" tanya Asena sembari mencoba untuk mendudukkan tubuhnya perlahan.
kebingungan Asena mulai terjawab sudah ketika perempuan itu melihat ke arah pintu yang di ayun ke belakang dan nampaklah Tuan Altair berjalan masuk ke dalam ruangan kamar ini.
"Kamu sudah bangun, Asena dan sebaiknya kau bersihkan tubuhmu terlebih dahulu lalu kenakan pakaian baru itu," ucap Tuan Altair seraya melirik ke arah meja yang di atasnya terdapat dua paper bag berwarna hitam.
"Bagaimana dengan keadaan Mama? Apakah dia sudah ditemukan sekarang?" tanya Asena pada Tuhan Altair.
"Setelah kita menikah maka aku akan menjanjikan semua informasi itu sudah berada di genggaman tanganku," kata Tuan Altair. "sekarang bersihkan tubuhmu karena kita akan menikah pukul 08.00 nanti, sebelum itu kita akan pergi sarapan." Setelah bicara Tuan Altair beranjak keluar dari ruangan kamarnya. Sikap lelaki itu tetap dingin seperti biasanya, tetapi intonasi suaranya sedikit merendah hanya untuk membuat Asena merasa nyaman dan tidak terintimidasi dengan kata-katanya seperti biasa.
Tuan Altair saat ini sedang duduk di meja makan dengan memainkan ponselnya, terlihat beberapa pelayan berjejer rapi di belakang lelaki itu dengan kepala yang tertunduk.
Perhatian Tuan Altair mulai teralihkan ketika ia mendengar suara langkah kaki berjalan mendekatinya dan itu adalah Asena. Perempuan itu nampak cantik sekali ketika menggunakan dress berwarna putih polos dengan kerutan di bagian pinggangnya, warna putih sengaja Tuan Altair pilih karena itu adalah menandakan sikap naif yang selama ini Asena miliki.
"Hanya dengan menggunakan lipstik natural saja sudah membuatnya sangat cantik sekali," gumam Tuan Altair merasa bangga dengan baju yang telah ia pilihkan untuk Asena karena baju itu nampak cocok sekali di tubuh calon pengantinnya.
"Apakah kau itu pelayan di rumah ini?" tanya Tuan Altair dan Asena langsung menggelengkan kepalanya. "kalau begitu duduklah dan makan bersama denganku!" perintah Tuan Altair dengan tak terbantahkan.
"Baik, Tuan," jawab Asena patuh. Melawan juga akan percuma sebab sultan mah bebas.
"Kapan kita akan menikah?" tanya Asena dengan kepala yang tertunduk dan kedua tangan perempuan itu saling menggenggam satu sama lain. Jujur Asena merasa tak nyaman berada di posisi ini, tapi ia harus tetap berusaha untuk terlihat tegar demi untuk menemukan keberadaan Sima.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar untuk menikah denganku," kata Tuan Altair dengan menyandarkan punggungnya di kursi yang sedang ia duduki. Sorot mata Tuan Altair tidak lepas memperhatikan calon pengantinnya.
__ADS_1
"Saya sudah tidak sabar ingin mengetahui keberadaan Mama," jawab ASena jujur membenarkan kata-kata Tuan Altair sebelumnya.
"Hahaha kamu memang selalu berbicara jujur dan apa adanya, andai saja bukan kamu yang mengatakannya maka sudah ku pastikan jika leher orang itu tak akan berada di tempatnya," ucap Tuan Altair jujur, tetapi lelaki itu mencoba untuk bercanda. Tuan Altair memang tidak pandai bercanda sehingga candaan itu membuat semua pelayan yang ada di belakangnya bergetar ketakutan.
Asena meneguk salivahnya sendiri setelah mendengar ucapan Tuan Altair dan ia kembali mengingat awal pertama mereka berjumpa waktu itu. Tuan Altair adalah lelaki yang kejam dan Asena tak boleh melupakannya.
Tuan Altair melihat perubahan wajah Asena, netral lelaki itu menatap ke arah kening Asena yang dibasahi oleh cairan bening. "Dia pasti takut kepadaku dan kenapa juga aku bercanda seperti itu?" umpat Tuan Altair di dalam hati marah kepada dirinya sendiri. "perlukah Aku belajar cara menggoda seorang perempuan dari situs ternama?" tanya Tuhan Altair pada dirinya sendiri. Tuan Altair memang pandai di dunia bisnis tapi tidak dengan percintaan, apakah selama ini banyak sekali perempuan yang menginginkan Tuan Altair walaupun lelaki itu selalu bersikap seenaknya sendiri.
Baru kali ini lelaki arogan seperti Tuan Altair dibuat kebingungan oleh Asena. Beginilah kelakuan CEO sombong dan juga Arogan yang sedang jatuh cinta.
***
Asena dan juga Tuan Altair sedang duduk di ruang tamu rumah ini. Mereka baru saja melakukan resepsi pernikahan secara sederhana yang hanya dihadiri oleh Lan dan juga beberapa pengawal sebagai saksinya. Asena merasa sangat gugup sekali karena ini bagaikan mimpi, sekarang ia sudah resmi menjadi istri Tuan Altair dan itu juga tandanya kalau Asena akan mengetahui kondisi Sima.
Asena memejamkan matanya dengan begitu erat sungguh ia tak pernah bermimpi akan menikah secara sederhana tanpa diketahui oleh mamanya, setelah nanti Sima ditemukan entah apa tanggapan perempuan itu pada dirinya. Ataukah Sima akan marah karena Asena mengambil keputusan secara sepihak tanpa memberitahunya terlebih dahulu? Atau perempuan paruh baya itu justru merasa senang karena kini Asena menikah dengan lelaki kaya yang ada di negara ini? Semua pertanyaan itu berjejer rapi di pikiran Asena. Pemikiran Asena itu terhenti setelah ia melihat Lan menggantikan langkahnya di hadapan mereka berdua.
Asena hendak menolak namun ketika dia ingat jika lelaki yang ada di sampingnya ini adalah suaminya maka Asena pun hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan Tuan Altair.
"Jadilah istri yang baik," kata Tuan Altair seraya mengusap kepala Asena kemudian mencium kening perempuan itu.
"Jadilah lelaki yang setia," gumam Asena lirik, tetapi tak disangka ternyata Tuan Altair bisa mendengarnya. Mungkin karena jarak diantara keduanya begitu dekat sekali hingga suara sekecil itu bisa Tuan Altair dengan sangat mudah.
"Akan aku usahakan," jawab Tuan Altair dan Asena hanya diam kembali fokus menatap ke arah asisten Lan.
"Katakan!" perintah Tuhan Altair kepada Asisten Lan.
"Baik, Tuan," jawab asisten Lan.
__ADS_1
Sebelum asisten Lan menyampaikan semua ini, ia terlebih dahulu menyampaikan semua hasil penyelidikannya kepada Tuan Altair terlebih dahulu. Dan setelah Tuan Altair mengatakan jikalau Asisten Lan boleh memberitahukan masalah ini dan itu kepada Asena barulah Asisten Lan muncul di hadapan Nona Asena sekarang.
"Saya sudah menyelidiki semuanya ternyata Cem! Memang bukankah Papa kandung dari nona asena," jelas asisten Lan.
Asena hanya mengulas senyuman bahagia karena lelaki kejam itu bukan orang tua kandungnya dan pantas saja selama ini lelaki itu selalu mencoba menyiksa Asena tanpa belas kasih sedikitpun. Mungkin karena alasan inilah mamanya menyembunyikan semuanya dan lelaki kurang ajar itu mencoba untuk mengambil kesempatan melakukan apapun yang dia inginkan kepada mamanya.
"Asisten Lan apakah Anda tahu siapa Papaku yang sebenarnya?" tanya Asena dengan sorot mata meminta jawaban.
"Zegan Mor adalah Papa kandung Nona Asena. Dan beliau juga merupakan Papa kandung dari Nona Yessi dan juga Nona Zevana," jelas Asisten Lan secara jujur.
Kedua mata Asena membulat penuh saat ia mengetahui tentang kebenaran ini. Ataukah mungkin keduanya sudah mengetahui sejak awal jikalau dirinya adalah anak lain dari Papa kandung mereka? Atau memang sejak dari awal mereka berdua tidak pernah menyukainya dan mencoba untuk melampiaskan kekesalan di hati mereka pada perempuan yang telah melahirkannya itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Asena merasa pusing kepala hingga membuat tubuhnya mulai diselimuti oleh keringat dingin.
Tuan Altair yang melihat ekspresi Asena sekarang merasa tidak tega dan hendak meminta asisten Lan untuk menghentikan kata-katanya namun, Asena meminta Asisten Lan terus melanjutkannya.
"Pada awalnya mereka tidak mengetahui semuanya hingga suatu hari Zegan Mor pulang dari luar negeri dan tidak sengaja melihat Nyonya Asena sedang membersihkan halaman rumahnya. Beberapa saat kemudian Tuan Zegan dan juga Nyonya Sima berbincang di sofa lalu tanpa sengaja Yessi mendengar semuanya hingga kejadian naas itu pun tak bisa terelakkan lagi," perkataan Asisten Lan berhenti ia merasa tidak tega mengutarakan kebenaran itu kepada Nona asena yang sekarang wajahnya sudah pucat.
"Kejadian naas apa maksudmu Lan? Cepatlah bicara," kata Asena dengan tubuh yang sudah menggigil ketakutan dan jantungnya sudah berdetak dengan begitu kencang hingga membuat nafasnya terasa terputus-putus akibat perasaan gugup dan juga cemas yang sekarang sedang memenuhi hati dan pikirannya.
"Asena sebaiknya kau istirahat saja dulu, nanti setelah kau jauh lebih tenang maka kita akan bicarakan lagi," pinta Tuan Altair yang merasa kasihan dengan perempuan yang baru saja ia nikahi ini.
"Tuan Altair. Saya ingin mengetahui di mana keberadaan Mama saya sekarang dan seperti apa kondisinya? Setelah saya mengetahuinya maka saya akan merasa lega," bujuk Asena kepada Tuan Altair.
Tuan Altair hanya bisa menghela nafas perlahan kemudian melirik ke arah Asisten Lan dan menganggukkan kepalanya. Tanda jika orang kepercayaannya itu harus melanjutkan ucapannya.
Asisten Lan yang merasa kasihan kepada Nyonya Asena tidak sanggup mengucapkan kebenaran ini hingga lelaki itu merogoh ponsel yang ada di saku celananya lalu memberikan rekaman video yang telah ia ambil sebelumnya kepada Nona asena.
Dengan tangan yang gemetar Asena memegang ponsel kemudian kedua manik matanya menatap ke arah rekaman video yang sedang berputar miris di layar berbentuk pipih yang ada di genggamannya sekarang.
__ADS_1
"Asena ... Asena ... bangunlah," pinta Tuan Altair panik ketika melihat istrinya tidak sadarkan diri dalam dekapannya.