Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Tuan Altair Belajar Cara Romantis Darimana?


__ADS_3

Terdengar suara isak tangis yang menyayat hati hingga membuat siapa saja yang mendengarnya ikut merasakan kepiluan dan juga kehilangan yang sama. Seorang perempuan memeluk kedua batu nisan orang tuanya dengan derai air mata. Berapa pengawal yang ikut dalam pemakaman ini tak kuasa menahan kesedihan, lelaki-lelaki bertubuh kekar itu mengusap sudut matanya yang tiba-tiba mengeluarkan bulir bening tanpa mereka bisa kendalikan sendiri. Ini tentu saja menjadi hal yang paling langka terjadi karena selama ini para pengawal itu selalu memberikan wajah datar, tetapi hari ini mereka semua ikut bersedih bersama dengan Nona mudanya.


Semenjak menikah dengan Tuan Altair sikap Asena begitu baik sekali pada para pengawal bahkan ia tidak segan-segan memberikan bagian makanannya kepada para pengawal yang berjaga di dekat suaminya, karena kebaikan itulah para pengawal pun menyayangi Nona Asena dan ingin menjaganya sama seperti dengan menjaga Tuan Altair.


"Sayang, hari akan gelap sebaiknya kita pulang sekarang," kata Tuan Altair sembari mengusap pundak istrinya. Tuan Altair menggunakan kacamata hitam yang bertengger di wajahnya hanya ingin berjaga-jaga jikalau tiba-tiba dia menitihkan air mata seperti beberapa jam yang lalu maka tak akan ada orang yang menyadarinya sekalipun itu para pengawalnya.


"Aku tak ingin meninggalkan mereka, aku ingin tetap di sini pulanglah lebih dulu," pinta Asena kepada Tuan Altaire.


"Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu di sini sendirian, aku akan menemanimu," ucap Tuan Altair sembari berjongkok di samping istrinya. "hapuslah air matamu, kau harus membalas dendam kedua orang tuamu! Jika kau terus menangisi mereka maka kau akan melupakan tujuan awal mu, sayang," sambung Tuan Altair mencoba membangkitkan semangat Asena.


Asena terus saja menangis tanpa henti hingga beberapa saat kemudian ucapan Tuan Altair mampu dia serap dengan begitu sempurna. Dengan tangis masih sesenggukan Asena mulai beranjak berdiri dan menghapus air mata di kedua pipinya.


"Aku akan membalas mereka semua! Nyawa dibalas dengan nyawa, tetapi aku tak akan membiarkan mereka mati dengan mudah." setelah bicara Asena menggandeng tangan Tuan Altair kemudian meninggalkan pemakaman ini. Sesekali masih terdengar tangis sesenggukan yang keluar dari bibir Asena sebab perempuan itu masih kesulitan untuk menekan kesedihannya.


"Aku akan selalu bersamamu, keinginanmu adalah perintah bagiku," kata Tuan Altair.


"Sayang, terima kasih tanpamu aku tak akan bisa menjalani hidup ini dan jika suatu saat kau meninggalkanku mungkin aku akan ...." perkataan Asena mengambang di udara setelah Tuan Altair menutupi bibirnya mengunakan satu jari telunjuknya.


"Jangan pernah pikirkan apapun," pintar Tuan Altair dan Asena langsung menganggukkan kepalanya.


"Bolehkah jika aku tidur di kediamanku sendiri. Aku ingin tidur di kamar Mama," kata Asena pada Tuhan Altair. Asena tahu jika lelaki kaya seperti Tuan Altair tak akan mau tidur di rumahnya yang bahkan tidak lebih besar dari kamar mandi di rumah lelaki kaya ini.

__ADS_1


"Aku juga akan menginap di rumahmu malam ini, tetapi untuk malam ini saja," kata Tuan Altair sembari menggaruk kepalanya.


"Makasih sayang, tapi jikalau kau nanti tak merasa nyaman maka pulanglah ke kediamanmu aku juga tak masalah ada di rumah sendirian," kata Asena kepada Tuan Altair.


"Aku tak akan mungkin meninggalkan istriku sendiri, tetapi bolehkah jika aku mengganti sprei dan menyuruh orang untuk membersihkan rumahmu terlebih dahulu sekarang?" tanya Tuan Altair kepada Asena. Tuan Altair berbicara dengan sangat hati-hati sekali supaya tidak melukai harga diri istri kecilnya.


"Baiklah," jawab Asena p yang sudah bisa menebak jika Tuan Altair pasti memaksakan dirinya untuk tinggal di rumah kecilnya itu, jadi apa salahnya jika membiarkan lelaki itu membersihkan rumahnya dan juga mengganti sprei dengan yang baru yang terpenting suaminya merasa nyaman. Begitulah yang sedang Asena pikirkan sekarang.


Tuan Altair menatap ke arah Lan yang kini sedang melihatnya dari balik kaca spion di atas kepalanya. Asisten Lan menganggukkan kepalanya mengerti dengan perintah Tuan Altair kemudian lelaki itu mengirimkan pesan kepada seseorang untuk menyampaikan perintah majikannya.


"Sayang tidurlah, perjalanan menuju ke rumah kamu masih cukup jauh," kata Tuan Altair yang mengetahui jika tubuh Asena terasa lelah.


Suara perut Tuan Altair mulai berbunyi membuat Asena menatap ke arah suaminya begitu juga dengan Asisten Lan.


"sayangi, kamu belum makan sejak tadi siang?" kata Asena ikut memastikan ucapan Asisten Lan.


"Bagaimana mungkin aku bisa makan jika melihatmu tak memakan apapun sejak tadi," jawab Tuan Altair sembari mengusap kepala istrinya. Tuan Altair begitu menjaga Asena mirip seperti menjaga adik kandungnya sendiri, akan sikap Tuan Altair juga begitu lembut kepada Asena.


"Asisten Lan. Kita akan mampir ke restoran terlebih dahulu karena aku lapar sekarang," kata Asena. Jika tidak seperti ini maka Tuan Altair tak akan makan dan Asena tidak mau jika sampai suaminya itu sakit hanya karena sibuk mengurusnya.


Sungguh Asena tak pernah menduga jika Tuan Altair mencintainya sedalam ini bahkan lelaki itu juga selalu memperlakukannya dengan begitu lembut. Tuhan, engkau sudah mengambil kedua orang tua Asena, tetapi sekarang semoga engkau tidak mengambil Tuan Altair darinya.

__ADS_1


"Baik nona," jawab Asisten Lan.


Mobil yang asisten Lan kemudikan telah sampai di restoran, Tuan Altair turun dari dalam mobil kemudian membukakan pintu untuk Asena. Mereka berdua masuk ke dalam restoran dengan bergandengan tangan. Terlihat di pandangan Asena para perempuan menatap suaminya dengan penuh damba dan juga menginginkan, hal itu membuat Asena merasa tidak nyaman.


"Apakah para perempuan itu tak melihat jika aku berjalan di samping Anda," ujar Asena pada Tuan Altair sembari menatap ke arah para pengunjung restoran ini.


Tuan Altair mengedarkan pandangannya ke arah restoran ini sebelum menjawab. "Aku sudah biasa ditatap seperti itu jadi tak ada masalah, lagi pulang mereka tak akan sebanding denganmu karena kau adalah istriku," jawab Tuan Altair dengan menarik pinggang Asena supaya lebih dekat dengannya.


"Sungguh ingin aku keluarkan kedua bola mata mereka," kata Asena lagi yang seakan sudah terbiasa berbicara dengan kata-kata kasar seperti ini.


"Asisten Lan! Kau tahu apa yang harus kau lakukan?" tanya Tuan Altair sembari melirik ke arah Asisten Lan menggunakan ekor matanya.


"Baik, Tuan," jawab Asisten Lan dan Asena langsung membulatkan kedua matanya.


"Jangan bilang jika kau akan mengeluarkan kedua bola mata mereka seperti apa yang aku katakan tadi," tanya Asena sembari menghentikan langkahnya kemudian tangan perempuan itu memegang jas hitam yang sedang suaminya kenakan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju.


Tuan Altair menyentil kening istrinya tanpa menyakiti perempuan itu lalu berkata, "Mana mungkin aku akan melakukan hal sekejam itu pada orang yang hanya melihatku! Aku akan meminta Asisten Lan untuk menyewa restoran ini hanya untuk kita," jawab Tuan Altair. Entah mengapa Tuan Altair merasa sangat senang sekali ketika melihat istrinya cemburu. Bukankah sikap Asena sekarang mirip seperti seorang istri yang sedang cemburu kepada suaminya.


"Tidak perlu menyewa restoran ini aku tadi hanya asal bicara, jangan membuang-buang uang terlalu banyak karena di luar sana begitu banyak orang yang membutuhkan bantuan," kata Asena yang memang berasal dari keluarga miskin.


"Lan kau tak perlu melakukannya karena istri kecilku melarang," kata Tuan Altair sembari mencolek hidung Asena.

__ADS_1


"Belajar dari mana Tuan Altair bisa bersikap manis dan juga romantis seperti ini?" tanya Lan di dalam hati tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Datar dan juga mengintimidasi siapa saja.


__ADS_2