
Asena melihat ke arah suaminya dengan mata menajam Tuan Altair yang ditatap pun tak bisa berkutik sama sekali, bahkan kini lelaki itu menatap lurus ke depan.
Dua orang lelaki yang sedang berdiri di belakang Asisten Lan langsung diam-diam memperhatikan ke arah Tuan Altair. Tidak biasanya ada orang yang berani berbicara dengan nada tinggi di hadapan Tuan mereka, tetapi untuk kali ini ada perempuan yang berani melakukannya dan yang lebih menakutkan lagi. Tuan Altair hanya diam saja seakan lelaki itu takut pada perempuan tersebut dan hal ini tentulah menjadi hal terlangka yang pernah kedua orang kepercayaan itu lihat selama mereka bekerja dengan Tuan Altair.
"Sayang ketika ada di dalam kamar mandi tadi aku mendengar kau menyebut kata-kata sampah beberapa kali. Dan apakah yang kau maksud adalah masakan buatan aku?" tanya Asena sembari melangkah semakin mendekat ke arah suaminya itu. Asena tidak menduga jika surprise yang ia lakukan gagal total seperti ini.
"Kenapa kalian membuang semua makanan itu!" tidak disangka Tuan Altair justru menyalahkan bawahannya.
Ketiga lelaki yang berdiri di hadapan Tuan Altair saling menatap satu sama lain dengan mengerutkan keningnya bingung mendengar ucapan majikannya.
"Bukankah tadi Anda yang meminta untuk menyingkirkan semua makanan itu dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di luar ruangan ini," jawab seorang lelaki yang berdiri di belakang Asisten Lan.
"Tutup mulut kamu itu atau kau akan mati," kata Asisten Lan kepada lelaki yang ada di belakangnya itu dengan nada suara terdengar lirih.
Tuan Altair langsung mengepalkan kedua tangan ketika melihat ke arah bawahannya yang bodoh dan tidak peka dengan isyarat kata-katanya barusan.
"Aku memang meminta kau untuk mengeluarkan makanan itu. Dan apakah kau harap menurutinya! Dan jika aku menyuruhmu mati hari ini apa kau juga akan menurutinya?" kata Tuan Altair pada bawahannya sembari melirik ke arah Asena yang kini masih menatapnya.
__ADS_1
"Sejak saya memutuskan untuk bekerja dengan Anda. Dan di saat itu juga saya sudah menyerahkan kehidupan saya," jawab lelaki itu.
Asisten Lan semakin gemetar ketakutan setelah mendengarkan ucapan bodoh lelaki yang ada di belakangnya sekarang. Tangan Asisten Lan rasanya sudah gatal ingin sekali menarik pistol yang selalu ia sembunyikan di belakang jas hitamnya kemudian menembak lelaki di belakangnya itu hingga lekas pergi ke alam lain. Tapi Asisten Lan harus tetap menahan dirinya supaya tidak membuat Nona Asena semakin marah.
"Kau benar-benar ingin kehilangan nyawamu!" bentak Tuan Altair yang merasa kesal dengan sikap tidak peka bawahannya itu.
"Tak perlu menyalahkan orang lain! Bukankah dia sudah mengatakan jika hanya menuruti permintaanmu, sayang!" timpal Nona Asena yang merasa geram melihat sikap suaminya. "kalau begitu mulai sekarang aku tidak akan membuatkan makan siang, makan pagi dan juga makan malam untukmu, dan nanti setelah pulang ke rumah jangan tidur di dalam kamar! Tidur saja di ruangan tamu." Asena merasa kesal sekali kemudian langsung berlari keluar dari ruangan ini.
Asena langsung berlari menuju pintu lift yang terbuka dengan derai air mata. Sudah seharian ini ia membuatkan makan siang untuk suaminya, tetapi malah dibuang begitu saja, mungkin memang salah Asena yang tidak mengabari jika ia datang ke perusahaan hingga menganggap jika makanan yang di atas meja itu bukan buatannya sendiri, tetapi tetap saja Asena merasa sangat marah sekali.
Asena yang berlari dengan menundukkan kepalanya tanpa sadar menabrak seorang perempuan yang berjalan di depannya dengan membawa tumpukan berkas. Berkas-berkas itu jatuh berserakan di atas lantai.
"Kalau jalan itu pakai mata, kamu itu berlarian di dalam perusahaan seperti anak kecil yang sedang berada di taman bermain! Apakah kau tahu berkas-berkas ini akan dikirim ke tempat Tuan Altair dan jika ia melihat hal ini terjadi maka aku akan dipecat dan bukan hanya itu saja, nanti anak-anakku akan kelaparan karena sikap ceroboh mu ini, Nona lain kali hati-hatilah," ujar perempuan paruh baya itu dengan wajah nampak kesal sekali.
"Maafkan saya, akan saya bantu membereskan berkas-berkas ini," kata Asena hendak mendudukkan tubuhnya tetapi seorang perempuan langsung mendorongnya ke belakang hingga membuat Asena jatuh ke lantai.
"Auch! Sakit sekali," rintih Asena sembari mengarahkan tangannya untuk mengusap perlahan pinggangnya yang berdenyut nyeri.
__ADS_1
"Enak saja kau bilang minta maaf jikalau perempuan ini sampai dipecat apakah kau bisa membujuk Tuan Altair untuk mengembalikan pekerjaannya lagi. Bisa kupastikan kamu bukanlah seorang perempuan yang bekerja di sini dan siapa kamu?" tanya perempuan cantik sembari menaruh kedua tangannya tersilang di dada dengan tatapan angkuh.
"Kenapa kau ikut campur. Bukankah ini tak menjadi urusanmu! Aku juga tadi sudah meminta maaf," kata Asena tak ingin membiarkan ini terjadi. Asena tak akan mau ditindas oleh siapapun lagi.
"Sudah jangan bertengkar, aku juga sudah memarahi Nona ini, jadi tak perlu memperbesar masalah," kata perempuan paruh baya yang tadi sempat ditabrak oleh Asena. "Nona pergilah biar aku membereskan kertas-kertas ini sendiri, aku takut kau terkena masalah jika sampai Tuan Altair tahu ada seseorang yang ceroboh di dalam perusahaannya meskipun Anda tidak bekerja di sini," kata perempuan paruh baya itu yang justru memikirkan nasib Asena.
Sebenarnya perempuan paruh baya ini ialah orang baik, tetapi dia tadi sempat merasa kesal pada Asena dan setelah memaki Asena perempuan itu pun merasa menyesal karena jika dilihat dari wajahnya, Asena kira-kira usianya sama seperti Putri pertamanya.
"Saya akan membantu Anda Nona," kata Asena yang tidak ingin lepas dari tanggung jawabnya begitu saja.
"Bukankah kau sudah dengar jikalau kau dia tidak ingin kamu bantu! Lekas pergilah," kata perempuan cantik itu sembari menarik lengan tangan Asena dengan kasar hingga membuat Asena berdiri dari posisi duduknya dengan paksa.
"Kenapa kau kasar sekali!" Asena bicara dengan mencoba menarik tangannya.
"Jangan salahkan aku jika kau terjatuh ketika aku melepaskan genggaman tanganku," kata perempuan cantik itu kemudian menarik tangan Asena dan melepaskan genggamannya hingga membuat tubuh Asena kehilangan keseimbangan.
Asena melangkah mundur dan tubuhnya hampir saja terjatuh, tetapi seseorang dengan sigap langsung menarik pinggang Asena dan mendekapnya.
__ADS_1
"Tuan Altair," batin semua perempuan yang ada di sekitar lobby utama ini dengan jantung yang sudah berdegup kencang sekali.