
Asena yang tadi sempat menundukkan kepalanya pun kini mulai mengangkat pandangannya ketika mendengarkan suara seorang perempuan berada di dalam ruangan ini. Asena menatap ke arah Tuan Altair kemudian menundukkan pandangannya.
"Lihatlah si lelaki Playboy itu, kemarin dia mengecup aku dan sekarang sudah bersama dengan perempuan lain," kata Asena. Kenapa juga Asena perduli dengan apa yang lelaki itu lakukan sekarang? Sepertinya ciuman itu membuat Asena kehilangan sebagian ingatannya akan siapa Tuan Altair.
Tuan Altair menatap ke arah Asena yang tak beranjak dari posisinya dan lelaki itu mulai merasa kesal sekarang.
"Kenapa kau masih berdiri di sana? Lekas siapkan makan siang untukku!" titah Tuan Altair pada Asena.
"Ba-baik, Tuan," jawab Asena terbata. Asena merasa kurang nyaman sekali karena perempuan yang masih belum ia ketahui namanya itu menatapnya tajam seakan ia adalah musuhnya, padahal Asena sudah meminta maaf berulang kali.
"Tuan Altair tadi koki yang biasanya menyiapkan makan siang Anda tidak bisa masuk bekerja karena harus menjaga istrinya yang melahirkan, jadi saya membuatkan Anda masakan rumahan," kata Asena dengan nada suara yang terdengar ragu bercampur takut dan Tuan Altair tahu akan hal itu.
"Lan, sajikan makanan dari restoran bintang 5 itu!" titah Tuan Altair.
"Baik Tuan," jawab Lan. Hari ini Lan juga memesankan Tuan Altair makanan dari restoran kesukaan majikannya itu, hanya sekedar berjaga-jaga jika tuan Altair tidak mau makan masakan restoran tempat Asena bekerja karena Lan tahu memesan makanan hanya alasan Tuan Altair saja, padahal sebenarnya lelaki itu hanya ingin melihat Asena.
"Kalau begitu saya akan mengemasi makanan ini," jawab Asena dengan kepala yang tertunduk. Kenapa ia bodoh sekali hingga memiliki inisiatif membuatku makan siang untuk Tuan Altair, lelaki kaya dan juga suka memilih makanan apa yang akan masuk kedalam mulutnya tentulah tak mungkin mau menyantap makanan yang di buat oleh pelayan restoran. Asena sungguh bodoh.
"Siapa yang meminta kamu untuk mengemasi makanan itu? Taruh makanan itu di sisi kiri meja ini!" titah Tuan Altair pada Asena.
"Apa?" Asena takut salah bicara sehingga dia bertanya dengan mengangkat pandangannya.
"Kau tidak dengar! Apakah perlu aku bawa dokter ke ruangan ini untuk periksa kedua telinga kamu." Sembur Tuan Altair.
__ADS_1
"Ti-tidak perlu, Tuan. Akan saya lakukan sekarang sesuai dengan perintah Anda," jawab Asena.
"Perempuan ini benar-benar pandai sekali mencari perhatian Altair. Aku tak bisa membiarkan." Di saat yang bersamaan Zevana melihat jika saat ini Asena sedang memegang sup yang terlihat mendidih karena uap panas menguar dari dalam sub tersebut.
"Auch, panas sekali," gumam Asena. Ketika lupa hendak memegang rantang makanan itu mengunakan kedua tangannya, lalu Asena mengambil Lap yang ada di atas meja kemudian memegang rantang makanan itu dan kini sudah tak terasa panas lagi.
Di saat yang bersamaan Zevana mengarahkan satu kakinya untuk menginjak kaki Asena hingga membuat perempuan itu kaget dan menjatuhkan sup tersebut ke lantai. Untung saja dengan sigap Asisten Lan langsung menarik lengan Asena menjauh.
"Auch, panas," ringis Asena ketika merasakan kedua tangannya yang sempat terkena suhu panas itu terasa nyeri dan kulit putihnya mulai berubah menjadi kemerahan sekarang.
"Kau itu ceroboh sekali, melakukan hal kecil seperti itu saja kau tak bisa," kata Zevana menuduh Asena ceroboh padahal dirinya lah yang membuat sup itu terjatuh.
"Lan bawa dia keluar dari ruangan ini!" titah Tuan Altair.
"Tetaplah di sini," kata Lan.
Asena melihat ke arah asisten Lan dengan tatapan bingung, tetapi lelaki itu mengulas senyuman dengan sangat tipis sekali. baru kali pertama ini Asena melihat asisten Lan tersenyum padanya.
Asisten Lan berjalan ke arah Zevana kemudian berkata, "Nona Zevana mari saya antarkan Anda keluar dari ruangan ini," kata Asisten Lan masih dengan nada suara terdengar sopan.
"Lan apakah kau salah mengerti? Altair tidak menyuruh aku keluar dari ruangan ini, tetapi menyuruh kau untuk membawa pelayan itu keluar dari ruangan ini," kata Zevana sembari melirik ke arah Asena tajam. "Altair coba jelaskan pada asisten kamu ini, jikalau kau memang menyuruh pelayan itu keluar dari ruangan ini dan bukan aku," kata Zevana sembari melingkarkan tangannya di lengan Tuan Altair dengan gayanya yang manja dan juga centil.
Tuan Altair menarik tangannya dengan kasar hal itu membuat Zevana tercengang untuk sesaat dan ia pun mulai beranjak berdiri dari posisi duduknya. Zevana tahu jikalau ternyata dialah yang disuruh keluar dari ruangan ini jika melihat ekspresi datar dan juga arogan yang baru saja ditunjukkan oleh Altair padanya.
__ADS_1
"Aku akan membalas kamu," kata Zevana lirik ketika ia melewati Asena. Pasti Altair tahu kalau tadi Zevana menginjak kaki Asena. Tapi aneh sekali jika Altair lebih membela pelayan dan mengusirnya! Apakah mungkin keduanya memiliki hubungan? Sepertinya itu hanya perasaan Zevana saja.
"Apa maksud dari ucapannya? Aku tak melakukan apapun dia sendiri yang tadi menginjak kakiku bahkan aku juga tak menceritakannya kepada Tuan Altair, tetapi kenapa dia masih saja marah dan juga membenciku seperti ini?" tanya Asena pada dirinya sendiri merasa bingung dengan sikap perempuan itu.
Di dalam ruangan ini hanya ada Asena dan juga Tuan Altair saja. Asena mulai merasakan ruangan ini terasa sangat sunyi dan juga mencekam sekali membuat semua bulu kuduk Asena meremang dengan begitu sempurna.
"Duduklah!" perintah Tuan Altair seraya beranjak berdiri.
"Baik Tuan," jawab Asena kemudian mendudukkan tubuhnya di lantai tempat ia berdiri sekarang.
Tuan Altair yang melihat akan hal itu menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah Asena sembari memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing menghadapi perempuan menjengkelkan yang ada di hadapannya. "Bukan di sana tapi di sofa!" perintah Tuan Altair sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Baik Tuan," jawab Asena. "sebenarnya apa maksudnya meminta aku untuk duduk di sofa," gumam Asena pada dirinya sendiri dan Tuan Altair bisa mendengarnya, tetapi lelaki itu abaikan begitu saja.
Jika saja bukan Asena yang mengatakannya sudah bisa dipastikan Tuan Altair akan mendebat orang tersebut dan mungkin akan mengancamnya. Tuan Altair melangkah menuju ke rak yang ada di meja kerjanya kemudian mengambil salep luka bakar dari dalam laci tersebut dan kembali berjalan menghampiri Asena.
"Kemari kan tangan kamu!" titah Tuan Altair.
"Untuk apa?" tanya Asena. Asena tahu lelaki ini sangat kejam sekali bagaimana jika sampai Tuan Altair memotong jemari-jemari tangannya atau mungkin mematahkan pergelangan tangannya ini. Saat ini Asena menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung guna untuk berjaga-jaga jika apa yang ia pikirkan tadi supaya tak sampai terjadi.
"Akan aku patahkan." Tuan Altair melihat ke arah Asena dengan mata tajamnya.
"Hahaha! Ternyata saya sangat pintar sekali sehingga bisa menebak ucapan Anda. Dan karena alasan inilah saya sembunyikan kedua tangan saya di belakang punggung," kata Asena polos. Asena mulai memundurkan tubuhnya sampai ke ujung sofa mencoba untuk menghindari Tuan Altair.
__ADS_1
Tuan Altair langsung memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing sekarang.